"Lama banget lo berdua. Udah tahu gue nggak suka menunggu. Ckk!"
Andin dan Rafa yang baru saja sampai di apartemen mereka sudah di sambut oleh gerutuan dan decakan Aldi yang menunggunya di lobby sedari tadi.
Ya, Aldi memang menghubunginya ketika Andin sedang bersama Rafa dan semua teman-temannya di kafe Diki, tetapi ia juga tidak tahu apa yang membuat kakak lelakinya itu tiba-tiba ke apartemennya.
Andin menatap kakaknya marah. "Lain kali kalau mau main bilang dulu! Nggak Bunda, nggak Mama, dan lo juga?! Astaga ... kenapa kalian itu suka sekali dadakan jika ingin main kesini."
Andin terlihat frustrasi.
"Lo juga ngapain masih di sini?! Bukannya langsung masuk aja ke apartemen gue. Ckk!"
Andin tidak habis pikir dengan kakak lelakinya ini.
"Gue udah masuk dari tadi kalau gue tahu password pintu apartemen lo," kata Aldi gemas.
"Apa?! Tinggal telpon Bunda, atau Ay—"
"Gue lagi slek sama orang tua kita," sambar Aldi cepat.
"Heh! A-apa?"
Andin dan Rafa menatap satu sama lain. Sebenarnya ada apa? Kenapa kakaknya tiba-tiba marah kepada ibu dan ayahnya.
Sebentar, apa jangan-jangan Abang Al, marah gara-gara Bunda menjodohkannya dengan Kak Salsa? Lalu, Ayah tidak bisa membantu. Apalagi mereka akan menikah besok. Really? Abang ...," batinnya.
Andin menatap punggung kakaknya sedih yang dimana ia sudah pergi lebih dulu menuju lift meninggalkan dirinya dan Rafa. Ya, ia tahu bahwa kakaknya besok menikah karena bundanya yang memberi tahu bahwa kakaknya itu besok menikah.
"Raf, apa pemikiran kita sama?" tanya Andin kepada Rafa. Rafa yang ingin melangkahkan kakinya terhenti.
"Maksud kamu ... tentang perjodohannya Kakak kamu?" Rafa mengernyitkan dahinya. Tidak lama ia bisa membaca situasi apa yang sedang istrinya tanyakan.
Andin menganggukkan kepalanya. "Hmm, Ayah tidak bisa membantu kalau itu sudah keinginan Bunda."
Rafa terdiam atas ucapan Andin.
"Woy! Cepetan," seru Aldi kepada Andin dan Rafa.
Teriakan Aldi mengagetkan Andin dan Rafa.
"Sepertinya memang benar. Tapi ... ingat, Kakak kamu sedang memikul beban yang berat. Jangan membuatnya tambah kesal. Dia sedang dalam keadaan tidak baik."
Andin mengagguk dam tersenyum atas ucapan Rafa.
"Ayo," ajak Rafa dan Andin mengangguk. Lalu, setelah itu Rafa memeluk leher Andin dan membawanya menyusul Aldi yang dimana kakak iparnya sedang menunggu lift terbuka.
"Kenapa?" Andin mengernyitkan dahi ketika dirinya memergoki kakaknya yang sedang menahan senyum sambil menatap dirinya dan Rafa, tetapi tidak lama ia menggelengkan kepalanya dan bergidik ngeri.
Sebenarnya apa yang Abang gue pikiran? Batinnya.
"Nggak." Aldi hanya menggelengkan kepalanya atas ucapan adiknya.
Sebenarnya lo kenapa sih Bang? Tadi marah-marah dan sekarang senyum-senyum nggak jelas, tapi gue senang Abang gue yang sekarang sudah kembali. Tidak seperti tadi yang terlihat kesal dan bawaanya pengen marah terus, batinnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband
RomansaPerjodohan yang sudah ada sejak lahir, sepasang sahabat menjodohkan anak mereka jika mereka sudah bertumbuh dewasa. "Senyum dikit kek kaku amat kek triplek," Andini Putri Hermawan. "Diam, atau lo mau gue cium," Rafa Fauzan Kamil. WARNING! 🚨 SUKA ME...
