"Apa gue salah bicara?" Tidak lama Brian tertawa yang membuat teman-temannya berdecak.
"Raf, balik lagi. Kita harus membahas Gladys juga!" teriak Diki kepada sahabatnya itu.
"Rafa, woy!" teriaknya kembali.
****
"Ck!" Diki berdecak ketika sahabatnya itu terus berjalan, dan menghiraukan teriakannya.
"Ky, ayo, ikut gue seret dia."
"Hmm, ayo." Risky menganggukkan kepalanya. Setelah itu ia, dan Diki dengan cepat berlari, dan menyusul Rafa.
"Ayo, ikut. Kita harus bahas Gladys juga. Ntuh cewek berbahaya seperti Mona."
Dengan cepat Diki, dan Rizky memegang kedua lengan berotot Rafa, dan menahannya ketika mereka berdua sudah berada di samping Rafa.
"Apa sih?! Lepasin tangan gue."
Rafa meronta, berteriak kesal ketika Diki, dan Rizky menahan kedua tangannya untuk ikut kembali ke kantin teknik, dan bergabung bersama teman-temannya yang lain.
"Kita harus ngebahas Gladys juga. Lo melupakan wanita busuk satunya lagi," bentak Diki yang membuat Rafa terdiam.
"Lepasin."
Diki, dan Rizky tersenyum melihat Rafa kembali berjalan kearah kantin teknik, dan bergabung bersama teman-temannya kembali.
"Tunggu kita woy!" seru Rizky kepada Rafa. Lalu, Rizky, dan Diki berlari menyusul Rafa.
"Ck!"
Rafa berdecak ketika melihat Brian. Ia kembali kesal ketika mengingat ucapan sahabatnya itu. Enak sekali ia menyuruh Mona untuk memaafkannnya setelah apa yang ia lakukan kepada istrinya di masa lalu. Biarkan saja Mona hidup dengan penyesalannya seumur hidup. Itu sebagai balasannya selama ini.
Brian hanya tertawa. Hal itu membuat Rafa, dan Firman menatap sahabatnya tajam.
"Sorry, Raf." kata Brian kepada Rafa. Sementara Rafa hanya diam tidak menjawab, dan Brian memaklumi itu. Sahabatnya sedang marah terhadap dirinya.
"Lonya juga salah kampret! Dia lagi panas, dan lo menyuruhnya untuk memaafkannya. Tambah panas lah dia." Brian kembali tertawa atas ucapan Firman.
"Oh ya, Gladys satu apartemen sama lo kan, Raf?" tanya Rizky tiba-tiba.
"Hmm."
"Selama lo berdua tinggal di sana belum ada hal mencurigakan, atau Gladys berbuat hal nekat kan?" tanyanya kembali
"Hmm, dia nggak tahu gue tinggal di lantai berapa."
"Apa nggak menutup kemungkinan Gladys akan tahu?" sambar Diki cepat. Hal itu membuat Rafa terdiam, dan mengepalkan kedua tangannya.
Benar juga apa yang diucapkan sahabatnya itu. Lama kelamaan Gladys akan tahu di lantai berapa ia, dan Andin tinggal.
"Sial!" umpat Rafa.
"Gue saranin kalian tinggal di rumah orang tua lo aja mulai semester depan. Andin akan lebih aman di sana. Lo juga udah mulai skripsi, dan bekerja juga di perusahaan bokap lo. Gue takutnya hal buruk terjadi kepada Andin ketika nggak ada lo. Raf, lebih baik mencegah sebelum terjadi."
Semua terdiam atas ucapan Firman. Begitu pula, dengan Rafa.
"Gue setuju. Andin juga pasti mau. Ntuh anak kan takut hantu. Mana mau dia di tinggal sendirian," sabar Brian. Semua teman-temannya mengangguk setuju.
"Lo juga tenang aja. Untuk masalah di kampus Andin akan aman. Karena teman-temannya alias pacar-pacar kita akan menjaga Andin selama di kampus. Jadi, lo tenang aja," kata Firman.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband
RomancePerjodohan yang sudah ada sejak lahir, sepasang sahabat menjodohkan anak mereka jika mereka sudah bertumbuh dewasa. "Senyum dikit kek kaku amat kek triplek," Andini Putri Hermawan. "Diam, atau lo mau gue cium," Rafa Fauzan Kamil. WARNING! 🚨 SUKA ME...
