CHAPTER 82

5.4K 519 29
                                        

"Mas, aku lapar," kata Andin kepada Rafa. Ia menompang kepalanya di atas meja. Salah satu lengannya memegang perutnya.

Sekarang memang sudah waktunya makan siang, tetapi Andin tidak memasak karena Rafa tidak mengijinkannya. Apalagi selain ia sedang berbadan dua, ia juga tidak ingin istrinya kecapean.

Kadang Andin berpikir. Ia hanya hamil, bukan sedang mengidap penyakit yang mematikan. Tangan, dan kakinya masih bisa berfungsi dengan normal. Suaminya saja yang terlalu berlebihan.

"Memangnya kamu sudah selesai nonton drakornya?" tanya Rafa kepada Andin sambil mengelus rambut Andin.

"Belum, tapi perut aku lapar." Andin cemberut.

Rafa tersenyum geli. Ia menarik pipi Andin gemas. "Baiklah. Kalau begitu kamu mau makan apa? Aku—

"Gado-gado," seru Andin semangat. Ia mengangkat salah satu tangannya tinggi-tinggi. Rafa melihatnya tertawa.

"Dasar bocah." Rafa meraup wajah Andin yang membuat Andin dengan cepat melepaskan tangan Rafa kasar dari wajahnya. Ia mendelik.

Rafa tertawa melihatnya. Andin memukul lengan Rafa kesal. "Kalau begitu kamu siap-siap kita beli di luar."

"Aku nggak mau." Andin bersedekap. Ia memalingkan wajahnya.

Rafa kembali tertawa. Sepertinya istrinya ini sedang marah kepada dirinya.

"Kenapa? Ya udah kamu tunggu di sini, biar aku yang beli," pancing Rafa. Andin tidak berani di tinggal sendiri. Ia takut sekali dengan makhluk tak kasat mata. Mau itu siang, atau malam ia tetap takut.

Lihat saja nanti juga Andin akan menghentikan langkahnya. Rafa menahan senyum.

"Tunggu." Andin dengan cepat menahan tangan Rafa yang hendak meninggalkannya itu.

Lihat, dugaanya benar bukan? Andin mana mau ditinggalkan sendirian di apartemen.

"Kamu takut aku tinggal sendiri? Sudah beberapa kali aku bilang. Jangan takut sama hantu. Bagaimanapun juga derajat kita lebih tinggi dari mereka, kita—"

"Bukan itu!" Andin terlihat kesal.

Dahi Rafa mengernyit. Jadi, dugaannya salah? Andin menahannya bukan karena takut ia tinggalkan sendiri, tetapi ada hal lain. Astaga.

"Lalu?"

"Kamu di sini aja. Aku hanya mau Brian yang membeli gado-gado-nya."

"Apa?" Rafa terlihat terkejut, tetapi tidak lama ia mengacak puncak kepala Andin gemas. Ia mendaratkan bokongnya kembali, dan duduk di samping Andin.

"Kali ini janji di makan?" tanya Rafa kepada Andin. Ia menjulurkan jari kelingkingnya.

Rafa ingat dengan jelas. Dulu Andin juga menginginkan seblak. Istrinya itu menyuruh Diki untuk membelikannya, dan ia juga yang menghabiskannya.

Sahabatnya itu terlihat sangat tersiksa. Mau tidak mau ia harus menghabiskannya. Rafa juga tahu seblak yang sudah dingin, dan mengembang rasanya sudah sudah enak.

"Hmm, aku janji." Andin menganggukkan kepalanya. Ia manautkan jari kelingkingnya juga kepada Rafa.

"Kalau begitu aku hubungi Brian dulu."

Andin mengangguk antusias atas ucapan Rafa. Setelah itu Rafa mencari kontak Brian di ponsel pintarnya, dan segera menghubunginya. Tidak lupa juga me- loudspeaker ponselnya.

"Assalamualaikum," sapa Rafa kepada Brian diseberang sana. Andin menyenderkan kepala di lengan berotot Rafa.

"Waalaikumsalam, Raf. Ada apa? Si Sherly udah pulang? Kalau begitu gue juga akan pulang hari ini."

My Perfect HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang