"Rafa, apa yang terjadi dengan anak Bunda?" tanya Lilis khawatir.
Bagaimana tidak, Lilis, dan sang suami dikejutkan dengan kedatangan menantunya, Rafa. Ia sedang membopong Andin ala bridal style menuju kediamannya.
Mereka pikir, mereka akan di sambut pelukan hangat dari anak bungsunya, Andin. Ya, setelah menikah Andin bersikap manja kepada ibu, dan ayahnya setiap main ke rumah orang tuanya.
Sebenarnya setelah Rafa, dan Andin sampai di kediaman Hermawan. Andin masih tertidur pulas di dalam mobil. Rafa memang menyuruh Andin untuk tidur karena melihat wajahnya yang pucat kembali setelah mereka sarapan bubur.
"Andin sakit, dan Rafa harus membawanya ke kamar," jawab Rafa sambil melihat Andin yang tertidur di dalam pelukannya. Ia terlihat sedih melihat istrinya yang sakit.
"APA?" teriak Lilis. Ia sudah menduganya karena ia melihat wajahnya anaknya yang pucat itu.
"Usst ... kamu jangan berisik. Andin sedang tertidur." Rian menyuruh istrinya untuk mengecilkan suaranya. Ia tidak ingin jika istrinya membangunkan putrinya yang sedang tertidur dalam dekapan Rafa.
"Kamu nggak dengar apa yang Rafa katakan. Anak kita lagi sakit! Lihat, wajahnya sangat pucat," kata Lilis kesal kepada Rian sambil menunjuk wajah anaknya.
Tentu saja Rian juga khawatir dengan putri kesayangan ini. Ia melihat anaknya terlihat lemas. Belum lagi wajah pucatnya.
"Aku tahu. Maka dari itu kamu kecilkan suara kamu. Aku ti—"
"Apa? jadi kamu menyalahkan aku? Mas, apa aku salah mengkhawatirkan anak aku?!" Lilis berkacak pinggang. Ia menatap suaminya marah. Sementara Rian menghela napas.
Berbeda dengan Rafa. Ia terkejut atas pertengkaran ibu, dan ayah mertuanya. Ia memang sering melihat pertengkaran kecil antara Lilis, dan Rian sewaktu dulu sebelum ia menikah dengan Andin. Ia juga sangat yakin beberapa menit lagi mereka akan berbaikan.
"Eh!" Rafa terkejut, dan tidak lama ia menganggukkan kepalanya ketika melihat Rian menyuruhnya untuk segera membawa Andin ke kamarnya lewat tatapan matanya.
Rafa berspekulasi sepertinya ibu, dan ayah mertuanya tidak ingin ia mendengar pertengkaran mereka.
"Anak aku lagi sakit sekarang. Lagi pula, itu respon aku karena melihat Andin yang pucat. Apa aku salah reflek berteriak?"
"Bukan, bukan seperti itu. Suara berisik kamu itu bisa membangunkan Andin." Rian memijat dahinya.
"Oh ... suara berisik aku? Bukannya dari dulu juga kamu sudah tahu seperti apa aku! Lalu, kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya?!"
"Sudah, kamu seperti anak kecil." Rian berusaha mengalah. Ia tidak ingin ada pertengkaran diantara dirinya, dan istrinya.
"Apa?! Jadi aku kekanak-kanakan? Seperti itu?!" Lilis murka.
Rafa masih bisa mendengar suara pertengkaran ibu, dan ayah mertuanya di bawah sana. Kemudian, ia menundukkan kepalanya, dan melihat keadaan Andin yang ia bopong. Ia takutnya Andin terbangun karena mendengar pertengkaran ibu, dan ayah mertuanya.
"Dasar." Rafa tersenyum geli, dan menggelengkan kepalanya ketika ia melihat tidak ada pergerakan bahwa Andin akan terbangun.
Tidak lama Rafa sampai di kamar Andin, yang dimana sudah menjadi kamarnya juga setelah menikah. Ia membaringkan Andin di kasur king size-nya dengan perlahan.
"Ungh ...," lenguh Andin di dalam tidurnya.
"Ustt ... aku di sini." Rafa dengan cepat menepuk-nepuk bahu Andin dengan lembut. Ia menenangkan Andin yang terusik ketika ia memindahkannya ke tempat tidur. Tidak lama Andin tertidur kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband
RomancePerjodohan yang sudah ada sejak lahir, sepasang sahabat menjodohkan anak mereka jika mereka sudah bertumbuh dewasa. "Senyum dikit kek kaku amat kek triplek," Andini Putri Hermawan. "Diam, atau lo mau gue cium," Rafa Fauzan Kamil. WARNING! 🚨 SUKA ME...
