CHAPTER 86

5.4K 429 17
                                        

"Jadi berangkat hari ini?"

Lilis, wanita paruh baya itu menatap anaknya sendu. Ia memeluk sang suami. Rian, mengelus punggung istrinya lembut untuk menenangkannya.

Padahal, baru saja kemarin Lilis merasa senang karena anak, dan menantunya kembali ke rumah. Ya, Andin, dan Rafa akan tinggal di rumahnya, tetapi sekarang ia dibuat sedih karena harus ditinggalkan kembali.

"Iya, Bun. Hanya satu minggu. Kita nggak akan lama." Andin mengangguk atas ucapan ibunya. Ia juga merasa sedih.

"Udah, Lis. Gue juga sedih. Bukan lo doang kok." Aluna, berusaha menghibur sang sahabat yang sekaligus besannya itu. Hal itu membuat Lilis mengangguk.

Ya, mereka semua sedang berada di halaman rumah Hermawan. Mereka sedang berkumpul untuk mengantar Andin, dan Rafa yang hendak berlibur ke Bali bersama teman-temannya.

"Kalian hati-hati di sana. Raf, jaga istri kamu," perintah Rian kepada menantunya.

Rafa hanya mengangguk atas ucapan ayah mertuanya.

"Kalau begitu Rafa, dan Andin pamit," pamit Rafa kepada semuanya. Ia menyalami kedua orang tuanya, dan ayah, ibu mertuanya diikuti Andin setelahnya.

"Hmm, hati-hati," jawab mereka kompak.

Setelah itu Andin, dan Rafa masuk mobil, dan duduk dikursi penumpang. Hari ini Rafa, dan Andin tidak membawa mobil. Mereka diantar oleh supir ke bandara.

"Dadah semuanya. Jangan kangen, hihi." Andin melambaikan tangannya kepada kedua orangnya, ibu mertuanya, dan ayah mertuanya. Ia terkikik geli diakhir ucapannya.

"Dasar anak nakal," kesal Lilis. Tidak lama ia tertawa diikuti suami, dan kedua besannya.

Andin tertawa. Ia melihat ibunya yang tampak kesal. Setelah mobil jauh dari penglihatan Andin. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menghela napas kasar. Rafa dengan cepat menarik tubuh Andin, dam memeluknya.

"Kasihan Bunda," gumam Andin. Sementara Rafa hanya diam. Ia tidak membuka suaranya. Ia menyandarkan dagunya di kepala Andin.

Andin meronta dipelukan Rafa. Hal itu mau tidak mau Rafa melepaskan pelukannya dari Andin. "Ada apa?" Dahinya mengernyit.

"Aku mau kirim pesan ke Abang Al," katanya. Setelah itu ia mencari ponselnya di dalam tas ransel yang ia bawa. Tidak membutuhkan waktu lama tangan lincahnya mengetik kata demi kata.

Abang Al
Gue juga mau liburan, emang lo doang 😝

Andin tertawa atas apa yang ia tulis untuk kakaknya. Sementara yang Rafa melihatnya tersenyum geli.

Setelah itu Andin segera mencari kontak temannya, Diki. Ia juga harus memberi tahu sahabatnya bahwa ia, dan Rafa sudah berangkat dari rumah menuju bandara.

Diki
Gue sama laki gue udah otw. Yang lain?

Ia mengirimi pesan kepada Diki, tetapi belum ada balasan juga dari sahabatnya itu. Rafa kembali membawa Andin ke dalam pelukannya.

"Akhirnya bisa liburan juga. Mas, ingat nanti bopong aku ke pesawat. Tutup mata aku, kamu—"

"Kamu nggak boleh kemana-mana harus selalu ada di samping aku, titik." Rafa tertawa diakhir ucapannya. Ia mengacak rambut Andin gemas. Tentu saja ia ingat kata-kata Andin itu. Ia selalu berbicara seperti itu, sejak tadi pagi.

"Iya, itu." Andin ikut tertawa.

Drettt ... drett ....

Andin merasakan ponselnya bergetar. Pertanda ada pesan masuk. Seketika ia, dan Rafa melihat ponsel Andin siapa yang mengirimnya pesan. Ternyata dari kakaknya Aldi.

My Perfect HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang