Ia bersumpah. Gladys tidak akan baik-baik saja jika sampai menyakiti Andin, walaupun hanya seujung kuku.
Cup.
Rafa mencium dahi Andin.
"Tidur yang nyenyak."
Setelah itu Rafa menutupi tubuh Andin menggunakan sweater miliknya. Tidak lama ia mengendarai mobilnya keluar dari parkiran kampus. Sesekali Rafa melihat keadaan Andin yang tertidur di sampingnya.
****
"Semua akan baik-baik saja, aku janji."
Rafa mengelus puncak kepala Andin ketika ia mengendarai mobilnya, tetapi tidak lama ia fokus menyetir kembali.
Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya mereka sampai apartemen, dan Rafa memarkirkan mobilnya. Ia melihat Andin masih tertidur pulas, tidak lama ia melihat Andin tidur dalam gelisah.
"Ustt ... ada aku."
Rafa mengelus lengan Andin lembut, dan ia berspekulasi pasti ia bermimpi buruk.
"Sial!" Rafa mengumpat. Pasti Andin memikirkan Gladys. Ia takut Gladys melakukan hal yang jahat seperti Mona.
Setelah Andin kembali tenang. Rafa akhirnya membopong Andin dengan hati-hati. Ia membopong Andin ala bridal style menuju lift, dan menekan tombol lantai apartemen, tempat mereka tinggal.
Tring!
Pintu lift terbuka. Dengan cepat Rafa berjalan keluar dari lift munuju apartemennya. Ia agak sedikit kesusahan ketika hendak menekan pintu password pintu apartemen mereka. Karena posisi Rafa sedang membopong Andin. Tidak lama pintu berhasil terbuka, dan Rafa bernapas lega.
Rafa membaringkan tubuh Andin di kasur king size-nya begitu ia sudah sampai kamar mereka. Ia membaringkan tubuh Andin dengan hati-hati.
Cup.
Rafa mencium dahi Andin. Ia ikut membaringkan tubuhnya di samping Andin. Ia menatap Andin lekat.
"Aku akan menjaga kamu apapun yang terjadi. Aku tidak mau kalau terjadi sesuatu sama kalian," kata Rafa sambil menatap Andin. Ia juga mengelus perut Andin yang masih rata itu.
"Kamu harus kuat. Anak Ayah nggak boleh lemah," kata Rafa kepada perut Andin. Lalu, ia mencium perut Andin lama di sana.
Setelah merasa cukup Rafa tidur di samping Andin sambil memeluknya erat. Ia juga tidak hentinya menghirup aroma shampo Andin.
Kring ... kring ...
Ponsel Rafa berdering di dalam sakunya. Ia dengan cepat mengecek Andin. Ia takut istrinya itu terbangun ketika mendengar suara telepon dari Rafa.
"Assalamualaikum, Raf. Bukain pintu woy! Ini udah gue pencet beberapa kali kaga lo bukain. Lelah hayati."
"Waalaikumsalam. Sebentar."
"Cepetan. Gue sama Raka udah pe—"
Tut.
Rafa memutuskan panggilan Diki secara sepihak. Ia dengan sangat yakin pasti sahabatnya itu sedang mencak-mencak. Rafa tersenyum geli membayangkan itu.
"Bagus. Gue belum selesai ngomong udah di matiin. Sudah biasa saya mah," kata Diki ketika Rafa sudah membukakan pintu apartemennya.
"Sebenarnya lo berdua itu lagi ngapain sih di dalam? Gue tekan-tekan bel nggak di buka-buka. Ck!" Diki berdecak di akhir ucapannya. Ia berjalan melewati Rafa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Perfect Husband
RomancePerjodohan yang sudah ada sejak lahir, sepasang sahabat menjodohkan anak mereka jika mereka sudah bertumbuh dewasa. "Senyum dikit kek kaku amat kek triplek," Andini Putri Hermawan. "Diam, atau lo mau gue cium," Rafa Fauzan Kamil. WARNING! 🚨 SUKA ME...
