BAB 4
Motor Royan melaju pesat membelah jalanan kota. Kedua muda-mudi yang kini sibuk menghitung bintang di gelapnya malam, sepertinya belum mau beranjak dari laju motornya.
Jika kalian berpikir keduanya sama-sama hanyut dalam mahligai asmara remaja, itu benar. Royan dapat merasakan dekapan erat dari gadis di belakangnya. Terasa jika bahu untuk bersandar dan tubuh untuk dipeluk memang ditujukan untuk Dania.
Royan tak mempermasalahkan hal tersebut, dirinya justru begitu senang dan ikut membuka kedua tangannya jika Dania ingin mendekapnya lebih lama lagi.
"Andai kelas gue sering jam kosong, mungkin gue bakal samperin lo setiap hari," gerutu Dania di sepanjang jalan, membuat Royan terkekeh dan mengusap punggung tangan gadis itu.
Keduanya telah sampai di halaman depan apartemen Dania. Berjalan masuk ke dalam, sebelum keduanya sama-sama berdiri di depan ruangan yang bertuliskan nomor apartemen dan jangan lupakan dengan kunci yang berpenampilan seperti benda pipih dimana ditempelkan di atas gagang pintu dan menggunakan password agar sang pemilik bisa memasuki kawasannya.
Dania mempersilakan Royan untuk masuk. "Ayo."
Anggukan Royan pertanda jika dirinya tak mau menolak ajakan Dania. Ia pun mengikuti gadis itu dari belakang setelah melepas sepatunya dan menaruhnya pada rak yang terletak di balik pintu.
"Kita makan dulu, ya? Gue laper banget soalnya."
"Boleh-boleh."
Mereka tak serta merta pulang dengan tangan kosong. Beberapa penjual yang tak sengaja melintas ketika keduanya tengah duduk santai sembari memakan es krim, sengaja dihentikan oleh Dania karena gadis itu suka dengan apa yang dijual oleh abang-abang yang lewat di depannya.
Seperti halnya, cilok, siomay Bandung, dan telur gulung. Hanya sebatas itu makanan yang Dania anggap ringan, sisanya biar Royan yang menentukan makan malam keduanya akan menyantap apa.
Alhasil, pilihan terakhir jatuh pada nasi goreng dan juga sate ayam yang letaknya tak jauh dari apartemen Dania.
Sebenarnya Dania sering membeli kedua makanan itu jika tak ada makanan ataupun tak sempat memasak di kala bangun lebih awal. Akan tetapi jika Royan yang membeli untuknya, ia tak bisa menolak dan mengangguk mantap sembari tersenyum merekah.
Drtt.. Drtt..
Dania melirik ke arah ponselnya yang bergetar sebelum tangannya terulur untuk mengambil benda itu.
"Hallo?"
Royan mengikuti arah pandang gadis itu, matanya memicing kala Dania menjauh darinya ketika mengangkat telepon tersebut. Memangnya, siapa yang tengah menghubungi Dania di saat keduanya bersama?
"Udah di apartemen, dan sekarang Dania lagi makan."
"Oh.. Papa kira masih di luar."
Dania menghela napasnya berat, ia menunduk, lalu kembali mendongak dan berusaha menyemangati dirinya sendiri.
"Uang jajan kamu untuk bulan depan udah Papa transfer, ya."
Lagi dan lagi, Dania harus tersenyum palsu mendengar kalimat tersebut. Mungkin bagi sebagian anak pada umumnya akan merasa bahagia ketika orang tuanya telah mengirim uang bulanan. Akan tetapi berbeda dengan Dania. Dia memang hidup serba kecukupan sejak kecil, namun hal itu tak bisa membuatnya tersenyum sumringah ketika bertemu dengan orang tuanya.
Dania sering merasa kesepian. Padahal kedua orang tuanya masih utuh, bahkan dia sama sekali bukan korban broken home. Dia bukan korban keegoisan orang tuanya. Iya, bukan. Dan itu menurut orang-orang yang hanya melihatnya dari sisi duit, duit, dan duit.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA DANIA ✅
Roman pour AdolescentsJika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba. Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
