BAB 81
Serina tak pernah menyangka kejadian hari ini akan menimpa padanya. Seakan mimpi di siang bolong, ternyata menjadi bahan tontonan banyak orang, hingga dipermalukan, cukup membuat mentalnya semakin down.
"Buruan, klarifikasi!" desak beberapa murid yang tak sabaran.
Ketiga gadis yang saat ini saling melempar pandang seraya memberi isyarat satu sama lain itu pun, hanya mampu terdiam sebelum suara bariton dari arah seberang mengintrupsinya.
"SEMUANYA DIAM! BIARKAN SERINA YANG MENJELASKAN SEMUANYA!"
Pak Nolan memberi ruang, agar Serina segera memberikan pernyataannya. "Silakan, Serina."
Banyak orang yang menunggu klarifikasi tersebut, terutama pihak yang merasa dirugikan.
Dania memperhatikannya, melihat bagaimana rasa gugup yang Serina alami saat ini membuatnya berkaca pada beberapa hari yang lalu. Di mana, mentalnya yang diuji dengan berbagai tudingan tak mendasar.
"Gimana, lo seneng gak, lihat topeng monyetnya?" bisik Damar.
Dania melotot, sebelum mencubit lengan cowok itu.
"Haha.. sekarang Serina udah alih profesi jadi pawang monyet, Dan."
Damar terbahak, diikuti gerombolan empat orang yang berlari ke arahnya.
"Lah, kalian dari mana aja? Pertunjukan topeng monyet bakal dimulai, loh," seru Damar, mendapati kedua sahabatnya bersama dengan Nadya dan juga Hardi yang baru saja tiba di sana.
"Kita tadi di isolasi dulu sama Pak Gatot. Tapi gak kelewatan, kan?"
Damar menggeleng, sebagai respon atas pertanyaan Dikta barusan.
Kini, semua pasang mata yang berada di sana, kontan tertuju pada Serina. Gadis itu mulai memberanikan diri untuk speak up.
Exhale and inhale, rasanya tak luput dari aksi Serina setelah ini. Dirinya mencoba untuk lebih berani menatap lurus, sembari berseru, "di sini, saya dan juga kedua teman saya mau meminta maaf soal berita yang sengaja kami sebar di media sosial tenpo hari.."
"Saya sama sekali tidak tahu perihal Dania dan juga pria asing itu. Saya kira, dia bukan orang terdekat Dania, tapi ternyata dia adalah ajudannya.."
Bisikan demi bisikan mulai berdatangan, menyerang Serina yang hendak bersuara. Ia alihkan semua itu dengan tetap berdiri tegap di sana. Mencoba menerima kenyataan.
"Perlu saya tegaskan kembali jika berita itu tidak benar adanya. Saya dan juga teman saya hanya ingin mencari followers atas kejadian tersebut. Dania tidak sedang bersama dengan pria hidung belang, seperti yang saya sebutkan di akun media sosial saya.."
"Di hari ini, setelah klarifikasi saya selesai, saya akan segera men-take down foto, video, serta artikel yang sengaja saya buat."
Rasa lega, pasti ada. Dania mencoba untuk tetap tenang walau saat ini kesombongannya naik satu tingkat dari sebelumnya. Ia harus mengontrol hal itu, Dania tak mau memiliki sifat angkuh jika kemenangan berpihak padanya. Biarkan, semua berjalan semestinya.
"Sekali lagi, kami minta maaf," ucap Serina, mengakhiri kalimatnya sebelum Pak Nolan menyuruh ketiganya untuk beranjak dari sana.
Dania memejamkan matanya sesaat, satu persatu bebannya sudah hilang. Rengkuhan dan juga genggaman erat tangan seseorang pun kembali ia rasakan. "Mama minta maaf, Dania."
"Ma, Mama gak salah. Kenapa harus minta maaf sama Dania?"
Ayumi mengusap air matanya, "selama ini Mama gak pernah ada buat kamu. Mama bahkan gak tahu perkembangan kamu di sekolah. Sampai adanya kasus ini, Mama seolah ditampar sama kenyataan---"
"Ma, udah, Ma."
"Dania anak kuat, Mama sama Papa sayang sama Dania."
Gadis itu tersenyum getir. Di saat masa-masa remaja sepertinya membutuhkan teman cerita, seperti halnya orang tua. Dania tak merasakan hal itu.
Selama ini, ia pendam sendiri kesedihan yang hampir membuatnya menyerah. Dania tak mau menambah beban orang tuanya jika ia menceritakan bagaimana keadaannya di sekolah. Dia takut dianggap beban.
Banyak cinta untuk gadis itu, banyak sayang serta belas kasih dari orang sekitar.
"Maafkan, mereka ya, sayang. Anggap semua ini sebuah ujian buat kamu."
Berkaca dari hujatan yang selama ini menimpa dirinya, Dania mulai mengikhlaskan semua itu dan mencoba memaafkan siapapun yang sudah membuatnya jatuh.
***
"Masih aman, gue kira dia beneran bertindak sejauh itu."
Royan menatap Monika dari ekor matanya sebelum napasnya berhembus jengah. Sejak kapan gadis itu berada di sebelahnya? Bukankah, dirinya tadi berdiri di tepi lapangan sendirian?
"Makanya, jangan gampang kemakan sama berita murahan!" sahut Royan.
Monika mengerucutkan bibirnya, sok paling kesal dengan apa yang ia lihat saat ini. "Yah, gagal deh, rencana gue buat bikin nama Dania buruk di mata lo."
Royan mendengarnya, sangat jelas. Bahkan selepas itu dirinya dibuat tersenyum miring karenanya.
Sebenci itukah, Monika terhadap Dania? Hingga ingin menjatuhkan nama baik gadis itu?
"Makanya upgrade tuh, otak. Biar gak karatan mikirin rencana busuk mulu!"
Cowok itu menjauh dari sana, berniat hendak menemui Dania agar bisa menenangkan gadis itu. Namun belum ada sepuluh meter menjauh dari tempat Monika berdiri, Royan kembali berhenti tatkala suara gadis di belakangnya mengintrupsi.
"Gak kebalik, Roy? Bukannya lo yang punya rencana busuk?"
Mendapati sang adik tak bisa berkutik dengan ucapannya, membuat Monika semakin mendongakkan kepalanya. "Apa yang gue bilang bener, kan? Lo emang punya rencana busuk. Bahkan lebih busuk dari gue!"
Kedua tangan Royan mengepal kuat sebelum akhirnya berbalik badan dan menghampiri Monika.
"Lo---"
"Apa? Mau protes? Apa yang harus lo protes kalau yang gue bilang tadi sebuah kenyataan.."
"Otak lo isinya lebih busuk daripada gue! Sebejat-bejatnya gue, gak pernah tuh, kepikiran buat ngelakuin pembunuhan berencana.." Monika sengaja menekan dua kata terakhir sembari berbisik.
Bahkan setelah senyuman iblis terbit dari bibir gadis itu, ia segera pergi. "Gue cuma berpesan sama lo buat jaga diri baik-baik. Karena target lo bukan orang sembarangan, dia anak konglomerat yang bisa ngelakuin apa aja buat bikin lawan menderita. Dan lo bisa lihat saat ini, gimana berpengaruhnya keluarga dia sampai bikin Serina mati kutu di depan orang banyak."
Sebuah peringatan dini dari Monika, tak membuat Royan merasa takut atas rasa cemas yang baru saja melandanya. Ia justru semakin tertantang dan berambisi untuk membuktikan jika ucapan sang kakak tak benar.
"Kita lihat Mon, siapa yang bakal berhasil membalaskan dendamnya," gumam Royan sebelum mengambil ponsel di saku celananya.
"Hari ini, dia harus ada di markas. Karena gue udah gak sabar bikin dia babak belur."
***
Sorry.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA DANIA ✅
Ficção AdolescenteJika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba. Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
