Jika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba.
Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 61
"Pertanyaan apa sih, brodiee?" Damar merangkul bahu Royan, belagak sok akrab walau raut wajahnya terlihat sombong dan menantang.
Baru sadar jika ada sosok lain, Royan langsung menatap kanan kirinya. Saat ini, tiga orang pemuda yang menjadi rivalnya seolah tengah mengepung dirinya. Damar dan kedua sahabatnya seakan ingin menerkam Royan saat itu juga.
"Apa-apaan lo!" Royan segera menepis kasar tangan Damar di bahunya, berniat melenggang dari sana ... namun pergerakannya sudah ditahan oleh Dikta.
"Eit.. mau kemana? Main kabur aja!"
Ia lantas berhenti. "Kabur? Lo kira gue takut hadapin kalian bertiga?!"
Reflek, Royan menarik kerah kemeja Fathur, menggeram beberapa saat ketika mendengar nada bicara yang seolah meremehkannya.
"Eh.. santai kali!"
"Kayanya jagoan kita satu ini gak bisa santai, ya."
"Persetan!"
Sebenarnya sudah teramat kesal dan juga emosi, tapi ia sadar harus menahan hal itu agar tidak lepas kendali. Tenang, Roy, efek yang ditimbulkan atas ketidakpekaan Dania lebih baik disimpan terlebih dahulu. Jika sudah waktunya, mungkin boleh lah, diluapkan pada orang lain.
Ia lantas memilih beranjak dari sana, berusaha memendam amarah walau suara dari belakang membuat langkahnya terhenti.
"Royan Adiraja, anak dari pimpinan geng motor dark lion, sekaligus anak dari seorang bandar narkoba yang sudah berjalan puluhan tahun..."
Seketika, tubuhnya mendadak kaku mendengar penuturan sialan dari Damar. Dari mana Damar tahu mengenai identitas aslinya?
Damar berjalan mendekati Royan, menepuk bahu cowok itu berulang kali, sebelum berujar, "wah, gue salut sama pekerjaan bokap lo."
Royan kembali dibuat membeku, lidahnya mendadak kelu. Sumpah serapah yang tadinya sudah ingin ia lontarkan pada Damar, mendadak hilang begitu saja.
"Bukan begitu, Roy?" tanya Damar lagi, berusaha membuat sang lawan kehabisan kata-katanya.
"Ternyata selama ini banyak yang salah menilai lo. Apa yang dibilang sebuah fitnah belaka, ternyata itu fakta sesungguhnya." Dikta ikut nimbrung.
"Lo masih ingat, kan? Satu tahun lalu, dimana anak BM heboh gara-gara ada sabu di tas lo. Dan lo mati-matian bantah hal itu walau bukti udah bisa dilihat. Anehnya lagi, berita itu seketika lenyap seolah lo nyogok pihak sekolah buat gak ekspos beritanya ke anak-anak lain---"