9 - Musuh Dalam Selimut?

260 35 1
                                        

BAB 9

Berjalan di sepanjang koridor sendirian tak akan membuat nyalinya menciut karena tatapan sinis dari berbagai pasang mata yang menyorot langkahnya. Dania begitu percaya diri melenggok di depan mereka walau ada satu dua bisikan setan yang menyuruhnya untuk mengacak rambut siapapun orang yang mulai julid dengannya.

Apa yang saat ini Dania rasakan tak begitu menyakitkan seperti awal-awal proses adaptasinya dengan lingkungan sekitar. Banyaknya orang yang bergerumbul terkadang membuat ia harus putar haluan lantaran sibuk memikirkan hal negatif bila ia melintas di depan mereka.

Itu dulu, untuk sekarang mungkin tidak, karena Dania sudah kebal menghadapi situasi seperti ini, termasuk kehadiran seseorang yang sangat tidak ia harapkan.

"Berhenti lo."

Dania tak menghiraukan perintah dari seorang gadis yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Ia menghela napasnya berat, lalu beranjak dari sana sebelum satu tangannya berhasil ditahan oleh gadis itu.

"Nggak sopan banget lo ya, sama kakak kelas."

Pasrah. Akhirnya Dania memilih untuk berhenti sembari menatap malas gadis yang pernah berseteru dengannya beberapa hari lalu.

Perihal minuman yang tak sengaja tumpah, menjadikan dirinya seakan manusia paling sial di muka bumi. Monica, kakak kelas yang belagak tinggi itu terkadang masih membuat Dania enggan berlama-lama berada di sebelahnya.

"Mau lo apa sih, Mon?" tanya Dania, berusaha santai dengan kedua tangan ia lipat di depan dada.

"Gue cuma mau lo denger satu hal.."

"..."

"Jangan jadi cewek yang masih stuck sama bayang-bayang mantan! Lo pikir, pacarnya mantan lo bakal terima kalau cowoknya masih berhubungan sama masa lalu?"

Berpikir sejenak dengan apa yang dikatakan oleh Monica, Dania mencoba untuk memastikan kembali apa yang dilontarkan gadis itu. "Tunggu, yang lo maksud masih kebanyang-banyang mantan siapa, ya?"

"Lo, lah! Lo yang selalu ada di pikiran Damar. Lo yang selalu menjadi prioritas Damar. Dan kayanya lo juga masih ada hati sama Damar!"

Apakah Dania tak salah dengar? Apakah Monica tengah memberinya sebuah lelucon musim panas? Jika iya, bolehkah Dania protes jika lelucon itu sama sekali tak lucu dan tak bermutu?

"Gue nggak merasa jadi prioritas Damar. Gue bahkan nyesel pernah pacaran sama dia! Jangankan untuk berhubungan lagi, nganggap dia sebagai mantan pun ogah!"

"Nggak usah munafik, gue tahu kok, lo masih ada rasa sama dia!"

Dania telonjak kaget ketika gadis itu mulai mendorong bahunya. "Gila! Lo bener-bener udah gila! Masa iya nggak bisa bedain---"

"Nggak usah ngeles! Kalau lo udah nggak pernah berhubungan lagi sama dia, nggak mungkin dong, dia nyebut nama lo di depan gue!"

"What the fuck!" batin Dania, menggeram sendiri mendengar penuturan Monica yang sangat lebay.

"Kalau dia sering nyebut nama gue di depan lo, salahin dia lah, setan! Kenapa lo jadi marah-marah ke gue?!"

DUNIA DANIA ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang