87 - Kembalinya Kamu

92 6 0
                                        

BAB 87

Hidup akan terus berjalan sekalipun dia memilih untuk menyerah.

Kehidupan di dunia bukanlah yang utama, namun banyak dari mereka mengutamakan kehidupan sementara ini.

Hembusan napas yang mencoba bangkit, membuat beberapa orang yang berada di sana memiliki sebuah harapan besar pada dia---yang telah berjuang hingga detik ini.

"Pasien sudah sadar."

Sebuah kalimat membahagiakan sekaligus haru di saat bersamaan itu, kontan membuat para kerabat turut bangkit dari duduknya serta beranjak menemui seseorang yang kini mencoba untuk membuka matanya.

"Nad, bilangin ke Dania kalau Damar udah sadar," seru Dikta.

Nadya mengangguk, lalu berlari sembari berteriak ke arah Dania yang berdiri bersama Andra di ujung koridor.

"Dania. Damar udah sadar!"

Gadis itu refleks menoleh, melihat raut bahagia dari Nadya, nampaknya untuk kali ini ia juga harus menampilkan raut yang sama. Penantian yang ia tunggu selama ini akhirnya pecah juga.

Dania berlari menuju ruangan tempat Damar terbaring lemah. Ia masuk, orang-orang turut menyambutnya dengan raut tak kalah bahagia sembari pelukan hangat yang diterimanya bertubi-tubi.

"Mar?" sebuah panggilan lirih nan lembut, mengalun bersamaan dengan jari jemari Damar yang mulai bergerak.

Semua orang bisa melihatnya, bagaimana tubuh yang akhir-akhir ini hanya diam dengan bantuan alat pernapasan, kini mulai menunjukkan sinyal akan pertanda baik.

Dokter yang bertugas, segera mengambil tindakan cepat. Perawat turut serta membantu dengan cekatan ketika tanda-tanda kesadaran Damar mulai terkumpul.

Tangis pun pecah lantaran bahagia. Melihat sang putra sedikit demi sedikit membuka matanya, Linda seakan tak kuasa menahan tubuhnya untuk tidak memeluk Damar.

"Mar, Mama khawatir sama kamu."

Sekilas, suara parau menjawab kekhawatiran Linda. "Ma," ujar Damar lirih, bahkan bisa dibilang sangat lirih lantaran masih terlalu lemah.

Hanya satu kata itu saja, namun semua orang sudah dibuat lega. Dania salah satunya, ia ikut mendekat seraya menggenggam jemari pemuda itu.

Damar yang tersadar dengan kehadiran seseorang di sebelah kanannya, turut mengedarkan pandangan sebelum sebuah senyuman terukir di bibirnya.

"Dan-nia."

Dania sangat lega mendengar Damar mampu mengucapkan namanya, senyum serta tangis bahagia tak hentinya ia tampilkan. "Gue ada di sini, Mar."

Senyuman atas respon yang diberikan Damar kontan membuat Dania membalas hal serupa.

Walau saat ini keadaan Damar bisa dibilang memprihatikan, namun Dania sangat senang ketika pemuda itu dapat merespon kehadirannya dan mengeja setiap nama orang yang berada di sana.

Rasa takut yang sempat bersarang pada pikiran masing-masing, kini perlahan pudar ketika senyuman itu terbit di balik alat bantu pernapasan.

Dania yakin jika Damar bisa kembali pulih seperti sedia kala. Ia yakin cowok itu kuat, bahkan lebih kuat darinya lantaran bisa bertahan menerima dan menemaninya hingga saat ini.

Damar melirik sekali lagi gadis di sebelahnya, tangannya terulur untuk mengusap air mata di pipi Dania sebelum berujar, "ja-jangan na-ngis, gue kan, u-dah sadar."

Bukannya berhenti setelah mendengar penuturan dari Damar, Dania justru semakin terisak seraya mengeratkan genggaman tangannya.

"Gue takut, Mar. Gue takut---" Dania seolah tak mampu melanjutkan ucapannya sebelum mendapat gelengan kepala yang sangat pelan dari Damar.

DUNIA DANIA ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang