Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

36 - Tak Seindah Ekspektasi

76 10 0
                                        


BAB 36

Pagi, waktunya mulai presentasi.

Kelompok pertama, telah maju. Semua murid memberikan tepuk tangan kepada ke empat murid yang baru saja melaksanakan tugasnya.

"Baik, untuk selanjutnya silakan kelompok dua."

Dania bersiap, bangkit dari duduknya sebelum telinganya mendengar seseorang berdecak lantaran ia tak sengaja menabrak bahunya.

"Hati-hati dong!"

Gadis itu tak merespon, memilih berlalu begitu saja.

Damar, cowok yang selalu saja menyalahkan Dania dalam keadaan apapun. Sekalipun hendak berjalan pun, makian Damar tak pernah terlewatkan untuk gadis itu.

Ke empatnya duduk, lalu memulai presentasi hari ini dengan di awali oleh Fathur sebagai moderator.

Semuanya sibuk memperhatikan, tidak ada yang berbicara sendiri ataupun mengacuhkan mereka yang tengah berada di depan, karena mereka tahu cara menghargai seseorang.

Satu demi satu pemateri telah menyampaikan materinya, walau merasa ada yang kurang ... namun mereka masih bisa memaklumi.

Tidak hanya itu saja, pertanyaan yang dilontarkan para audience pun juga berhasil mereka jawab dengan waktu yang cukup singkat. Semua itu terbantu dengan Fathur, cowok pintar yang selalu menduduki peringkat ke tiga setelah Hardi dan juga Nadya.

"Baik, untuk mengakhiri presentasi kali ini, kami ingin memutar sebuah video berupa penyampaian kesimpulan dari pembahasan kita hari ini."

Fathur mulai menekan tombol play, pada sebuah video yang telah ia unduh untuk mengakhiri presentasi hari ini. Sebenarnya sih, hanya sekadar video kesimpulan mengenai materi yang mereka bawakan ... namun tiba-tiba saja semua mendadak meledakkan tawanya setelah video berhasil diputar.

Semua, tak terkecuali Bu Lastri yang sudah menggeram.

"Thur, matiin, Thur!" ujar Damar, tangannya memukul-mukul lengan Fathur agar tersadar dengan apa yang diputarnya beberapa detik lalu.

"Bentar-bentar."

Fathur segera mengakhiri video tersebut, lalu melirik ke arah ketiga temannya serta menggeleng pelan seolah mengatakan, "bukan gue yang masukin video itu."

"Semuanya diam!" bentak Bu Lastri.

"Saya benar-benar gak habis pikir sama kalian! Saya kira kenakalan kalian sudah mulai berkurang. Tapi ternyata ... malah makin parah!"

Bu Lastri jelas murka kepada kelompok Dania. Pasalnya video yang Fathur play tadi menunjukkan tingkah wanita paruh baya itu ketika berada di ruang guru sendirian, sembari berjoget dengan musik dari oppa Nassar kiyowo.

"Benar-benar tidak tahu privasi! Bisa-bisanya kalian sengaja mempertontonkan video saya di depan semua teman-teman kalian!"

"Bukan seperti itu, Bu, tadi niatnya saya mau ngasih video---"

"Alah.. pake segala alasan! Saya gak terima pembelaan dari kalian, bukti udah jelas kalau kalian berempat sengaja mau mempermalukan saya!"

"Bu, ini salah paham, kita beneran gak pernah nge-videoin Ibu diam-diam, bahkan kita sendiri pun juga kaget." Dania ikut angkat bicara, walau sebenarnya ia juga tak tahu menahu mengenai video itu. Ia yakin seratus persen jika apa yang dikerjakannya dengan Dikta tadi pagi sesuai rencana awal.

Iya, rencana awal untuk memasukkan sebuah slide berupa beberapa kalimat kesimpulan, bukan malah video tentang privasi Bu Lastri, bukan. Dania tidak ada niat buruk untuk mempermalukan wanita itu. Bahkan ia juga yakin jika ketiga partner-nya juga melakukan hal yang sama dengannya.

DUNIA DANIA ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang