BAB 47
Hanya numpang bercermin, tidak ingin buang air ataupun buang angin. Selepas itu ia langsung beranjak dari kamar mandi.
Langkahnya mulai menyusuri koridor yang kini lumayan ramai dengan banyaknya murid BM yang asik bergosip sembari menunjuk ke arah lapangan.
"Ternyata gantengnya nambah ya, kalau lagi main basket gitu."
"Iya, apalagi waktu keringetan. Uh.. kek pengin ngusapin kan, jadinya."
Dania awalnya tak tertarik dengan topik obrolan mereka, tapi ketika mendengar nama seseorang tengah diperebutkan dalam sebuah perdebatan, kepalanya sontak menoleh.
"Damar cocoknya cuma sama gue, lo yang lain aja."
"Jangan ngarep, dia aja gak tahu kalau lo ada di dunia ini."
Tumben, saat ini Damar menjadi perbincangan murid lain. Ia pikir, topik obrolan di BM hanya tentang fitnah yang ditujukan padanya. Ternyata, bagi mereka Damar juga menarik bila dijadikan tokoh dalam dunia gosip.
"Wooo... Damar kiyowo."
"Keren bangeeettt, Damar! I love youuu.."
Sepertinya Dania harus segera pergi dari sana, jika tak mau perutnya semakin mual mendengar pujian yang berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Damar tidak sekeren itu, woi!
Gadis itu lantas beranjak setelah sempat melirik ke arah lapangan, dimana Damar juga sempat menyadari kehadirannya di koridor.
Sungguh sial, mengapa Dania harus melewati koridor utama? Harusnya ia putar balik saja jika tak mau bertemu dengan sorot Damar yang menatapnya jahil. Kalau perlu, koridor yang berhadapan langsung dengan lapangan, ditiadakan saja.
"Damar, kampret! Dikasih umpan malah ngelamun! Babi lo!"
Dikta memberikan umpatan berkali-kali pada Damar saat tim lawan sudah mencetak tiga poin.
"Eh.. sorry, Ta." ucapnya, sebelum berbalik dan kembali fokus dengan babak kedua permainan basket.
Dania bergidik ngeri, berjalan tergesa meninggalkan area lapangan, sebelum langkahnya memelan kala melihat sosok yang ia kenal berdiri membelakangi dirinya.
Ingin segera berbelok untuk menaiki tangga menuju kelasnya, akan tetapi tiba-tiba saja kakinya mendadak berhenti tatkala matanya menangkap sosok Royan yang tengah berbincang dengan seseorang.
"Monika?" gumam gadis itu, di balik tembok pembatas, yang menutupi dirinya dari orang di belakang tembok tersebut.
"Mereka ngomongin apaan, ya?"
Terlalu kepo dengan segala hal, hingga pertemuan Royan dan juga Monika hari ini pun tak luput dari pantauannya.
Berbagai spekulasi mengenai kedua insan tersebut juga sempat meramaikan pikiran Dania. "Kira-kira, Royan ada masalah apa ya, sama Monika? Kenapa ngobrolnya harus ngumpet-ngumpet kaya gitu?"
Pikirannya tak kunjung usai jika terus-terusan melibatkan mereka berdua. Toh, ia juga tidak sepatutnya ikut campur.
Dengan berat hati, Dania memilih untuk meninggalkan tempat itu. Namun sebelum hal itu terjadi, dirinya mendadak telonjak bersamaan dengan pertanyaan dari seseorang yang mengintrupsi langkahnya.
"Loh, Dania? Kok lo ada di sini?"
Dania reflek berbalik badan. Ia mengenali suara itu.
Yap, dia Royan. Pemuda yang membuat Dania tak siap dengan kedatangannya dan akhirnya hanya bisa memberikan jawaban terbata-bata. "G-gue---"
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA DANIA ✅
Teen FictionJika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba. Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
