BAB 6
Sorot mata iba serta kening yang mengerut bingung kontan membuat tiga orang murid kelas sebelas IPA 2 itu menunduk. Ketika mereka hendak memasuki area kelas, hawa negatif serta perasaan tak tenang mulai menyelimuti. Terutama Nadya.
Gadis itu masih berjalan sembari menunduk malu ketika Bu Lastri menyadari kejanggalan pada seragamnya.
"Loh, Nadya, seragam kamu kenapa bisa kotor begitu?"
"Hmm... ma-maaf Bu, ta-tadi seragam saya ketumpahan jus."
Bu Lastri menggelengkan kepalanya pelan sebelum menyuruh ketiga anak didiknya untuk duduk di bangku masing-masing.
Sejak masuk kelas tadi, mereka bertiga memang menjadi pusat perhatian murid lain. Terlebih tiga orang siswa yang duduk di bangku paling pojok belakang.
Ada Fathur yang satu bangku dengan Damar, lalu di depannya ada Dikta yang kebetulan duduk sendirian tanpa ditemani oleh murid lain.
"Bukannya yang ketumpahan minuman tadi si Monica, ya? Kenapa sekarang jadi seragam Nadya yang basah?" gumam Fathur, merasa kasihan ketika melihat gadis tak bersalah itu menunduk takut.
Untuk mendongak pun rasanya sangat sulit, Nadya belum mau memperlihatkan raut wajah sedihnya kepada semua orang. Akan tetapi ketika Bu Lastri telah berdiri di depan, memperhatikan siswa siswinya satu persatu seraya berseru, membuat hampir penghuni kelas menatap beliau.
"Hari ini saya akan memberikan kalian tugas untuk dikerjakan di rumah. Kalian harus membentuk kelompok, dan setiap kelompok minimal beranggotakan oleh empat orang."
Bisikan-bisikan yang muncul ketika ucapan Bu Lastri menggema kontan membuat wanita itu bersidekap dada, berjalan maju perlahan, hingga tak sengaja mendengar kegelisahan para muridnya.
"Yah, kita cuma bertiga."
"Bertiga pun nggak masalah Nad, tiap hari kan, emang udah terbiasa bertiga."
"Tapi beda Dania, hari ini kita diwajibkan untuk membentuk kelompok minimal empat orang, kalau sewaktu-waktu kita disuruh gabung kelompok lain gimana coba?"
Wanita itu tersenyum tipis ketika mendengar perasaan cemas dari muridnya. Ia kembali berjalan ke arah meja guru, mengambil satu buah wadah berbentuk lingkaran dimana isi di dalamnya terdapat sebuah bola-bola kecil bak salju, dengan disertai beberapa gulungan kertas.
"Baik, saya akan bacakan peraturannya.."
"Beberapa dari kalian yang berada di sini akan saya suruh maju ke depan untuk mengambil gulungan kertas berisikan nomor yang akan menjadi nomor kelompok kalian nantinya. Satu murid yang saya tunjuk adalah dia yang berhasil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, jadi.. pastikan kalian bersiap dari sekarang dan pilih anggota kelompok kalian sesuai dengan kata hati kalian."
Peraturan dari Bu Lastri nampaknya dapat ditangkap oleh siswa-siswinya. Mereka bahkan begitu antusias untuk mengangkat tangan lebih dahulu agar dapat memilih anggota kelompok sesuai kemauannya.
"Gue harus cepat-cepat angkat tangan, sih," gumam Dania.
"Semangat bestieee, jangan lupa pilih gue, ya?"
"Siap, gue pasti pilih lo sama Nadya buat jadi anggota kelompok gue."
Kini, Dania mulai bersiap sebelum Bu Lastri memberi aba-aba. Ia ingin mengangkat tangannya agar bisa men-klaim Nadya dan juga Hardi masuk ke dalam kelompoknya. Urusan satu orang yang belum memenuhi isi dari kelompok belajarnya akan ia pikirkan nanti.
Yang terpenting hanya kedua sahabatnya, tanpa mereka Dania tak bisa berbuat apa-apa lantaran tak terlalu akrab dengan temannya yang lain. Hanya Nadya dan juga Hardi sahabat terbaiknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DUNIA DANIA ✅
Roman pour AdolescentsJika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba. Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
