Jika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba.
Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 66
Pintu kamarnya seolah didobrak secara paksa tatkala dua orang tiba-tiba muncul dari sana. Damar mengerutkan keningnya sebelum sebuah bantal melayang ke wajah malangnya. "Sok-sokan mukanya dibikin lebam, bilang aja kali kalau mau ketemu sama kita berdua. Gak usah merasa tersakiti gitu---"
Keduanya lantas duduk di tepi ranjang pemuda itu, mengamatinya dengan teliti sebelum satu tabokan mendarat pada kaki kanan Damar.
"Lemah amat. Masa gitu doang, udah bonyok? Emang khodam lo kabur kemana?" Dikta ikut menimpali.
"Ck, sakit,ege!"
Kedua manusia itu memang tak ada bedanya, sama-sama meresahkan. Satu bantal yang dilempar Fathur tanpa sebab, dan juga tabokan spesial yang dilayangkan Dikta pada kaki Damar. Memang sialan mereka berdua.
Damar mengelus-elus kakinya, memberikan tatapan sayu khas seorang anak kecil yang meminta perhatian lebih. "Logika lah, anying! Gue gak mungkin bisa lawan enam orang begal, yang bawa sajam!"
"Hah, serius mereka sampai bawa sajam?"
"Serius, makanya nyali gue menciut!"
Dengan sajam yang dibawa salah seorang begal tersebut, Damar sempat berpikir jika benda itu menghantam tubuhnya, mungkin sekarang dirinya belum tentu masih menginjakkan kaki di bumi ini.
Namun untungnya itu semua dapat terselamatkan oleh para polisi yang bergerak cepat menolongnya, jika tidak ... entah apa yang terjadi dengan dirinya setelah itu.
"Kasihan banget, ya. Untung kemarin kita gak ada disitu, ya kan, Ta?"
Terlalu polos atau memang tak setia kawan ketika melihat sahabatnya terbaring lemas, Dikta langsung menyenggol lengan Fathur, agar cowok itu bisa mengontrol kalimatnya.
Tapi nyatanya itu semua percuma, walau Dikta sudah memberikan pelototan tajamnya pada Fathur, Damar sudah lebih dulu mendengar semuanya. "Teman bangsat emang lo berdua," gumamnya kesal.
Melihat raut tertekuk Damar, membuat Fathur mencoba untuk mengalihkan pembicaraannya. "Terus gimana keadaan lo sekarang?"
Sok perhatian, sok peduli, dan sok baik, mungkin itu yang dinilai orang awam ketika melihat secara langsung perubahan sikap Fathur sebelumnya.
"Ya, lumayan agak mendingan daripada kemarin."
"Kata Tante Linda tadi, lo sampai gak bisa jalan, ya?"
Damar hanya terdiam sembari menunduk, memperhatikan kedua kakinya yang masih terasa nyeri setelah tadi sempat melakukan treatment khusus.