79 - Menjadi Tameng

62 7 0
                                        

Maaf guys, telat upload. Karena akhir-akhir ini aku lagi proses revisi naskah "STICKY NOTE" yang Insya Allah akan terbit. Doain semuanya lancar, ygy<3

Song : Fabio Asher - Bertahan Terluka

BAB 79

"Mari, Nona."

Dania mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil ketika Sam membukakan pintu untuknya.

Ia terperanjat sesaat setelah duduk. "Papa?" gumamnya tatkala mendapati Andra sudah lebih dulu berada di mobil sang anak.

"Papa, k-kok ada di sini?" Dania mengedarkan pandangannya, tak hanya melihat Andra, melainkan pria lain juga berada di bangku paling depan sebelah Sam. "Frans, juga?" 

Andra belum bergeming dari keterdiamannya menatap layar iPad.

"Papa sekalian berangkat ke kantor, ya?" tanya Dania, masih berusaha mencecar sang papa untuk dimintai keterangan soal kehadiran pria itu di mobilnya.

Tak biasanya Andra melakukan hal semacam ini. Mengantar anaknyq pergi ke sekolah seolah bukan menjadi tugas utamanya. Tapi hari ini, apakah pria itu akan mengantar Dania sesuai dengan keinginan gadis itu di setiap malamnya?

Entahlah, yang pasti setelah Andra mematikan layar iPad-nya langsung menatap sang anak sembari mengelus puncak kepalanya. "Kenapa hanya diam? Kenapa gak pernah bilang ke Papa?"

Dania semakin dibuat bingung dengan pertanyaan Andra. Ia menatap penuh tanya pria itu sebelum sebuah pelukan hangat ia terima di pagi hari.

"Maafin Papa, ya. Papa gak bisa jadi orang tua yang selalu ada untuk anaknya."

"Papa kenapa ngomong kaya gitu?"

Pelukan mereka merenggang, Andra menatap lembut sang anak dengan kedua telapak tangannya berada di pipi gadis itu sebelum mengecup keningnya singkat.

Pergerakan dari sang papa jelas membuat Dania semakin dilanda kebingungan. Ia tak tahu tujuan pria itu mengucapkan kalimat maaf, serta keikutsertaannya ketika Dania turun dari mobil dan hendak menuju kelas.

"Papa mau nganterin aku sampai kelas?"

"Iya, hari ini Papa akan anterin kamu."

Tumben. Tak biasanya Andra mau direpotkan dengan mengantar sang anak hingga kelas. Selama Dania masuk ke jenjang SMA, baru kali ini pria itu mau mengantarnya, biasanya sang mama yang turun tangan ketika pekerjaan telah cuti.

Aura mengintimidasi sangat terlihat ketika Dania berjalan di sepanjang koridor. Banyak pasang mata yang memperhatikan langkahnya, apalagi saat ini ia tengah beriringan dengan Andra dan juga dua ajudannya. Berasa seperti putri bangsawan yang harus dijaga ketat.

"Belajar yang rajin ya, sayang."

"Makasih, Pa," jawab Dania, sebelum menjabat tangan Andra dan masuk ke kelasnya.

Pria itu menatap sekitar, menyorot pandangan semua murid ke arahnya, lalu berlalu dari sana.

Tujuan Andra mengantar Dania tadi bukan semata-mata akan ia lakukan rutin mulai hari ini. Melainkan ada sebuah berita miring yang harus ia luruskan dengan pihak sekolah.

Kini, pria itu sudah berada di depan ruang kepala sekolah. Masuk ke dalam, seraya menyapa siapapun yang berada di sana, termasuk Ayumi.

Keduanya saling pandang, namun tidak saling sapa. Hanya sebuah kode tersirat dari bola mata wanita itu yang kontan membuat Andra duduk di sampingnya.

"Pak Andra, Bu Ayumi, saya benar-benar minta maaf dengan kejadian yang menimpa Dania kemarin---"

"Saya tetap kecewa dengan tindakan salah satu siswi BM yang sengaja mempermalukan anak saya!" sungut Andra, memotong secara sepihak pembicaraan Pak Nolan.

DUNIA DANIA ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang