50 A - Modus

73 7 1
                                        

BAB 50

Karena ingatan Damar begitu kuat mengenai janji Dania yang mengatakan, "iya." Sejak kepulangannya dari sekolah tadi, gadis itu sudah diteror dengan berbagai pesan yang mengharuskan dirinya untuk ke rumah seorang Damar Agistan.

Sebenarnya sih, malas. Tapi.. ia merasa tak enak hati jika mengingat kejadian tadi siang.

Dania melihatnya sendiri, bagaimana Damar yang menahan panas akibat teriknya matahari, lantaran cowok itu harus berdiri di tengah lapangan sembari mengangkat tangannya guna hormat di depan tiang bendera.

Itu semua karena Damar yang sengaja meminjamkan seragamnya agar dipakai oleh Dania.

Dan malam ini, ia sengaja tak memberi tahu Sam jika hendak pergi ke rumah Damar. Bahkan saat berangkat pun Dania memilih untuk memesan taksi online.

"Malam, Tante," sapa gadis itu, setelah pintu yang ia ketuk tiga kali terbuka dengan seseorang di baliknya.

"Aduh.. ada anak mantu, eh-eh.. maksudnya, Daniaaa..." Linda begitu antusias, hingga kelupaan jika gadis cantik di depannya ini hanya seorang mantan kekasih anaknya.

Mereka memang sudah tidak bersatu. Tapi dengan kekuatan doa dari seorang ibu, yang dianggap masa lalu mungkin bisa kembali merajut asmara seperti dahulu. Semoga saja.

"Ayo masuk." Linda mempersilakan gadis itu untuk masuk.

"Damar nya ada, Tan?"

"Ada, mau Tante anterin ketemu dia?"

"Boleh."

Langsung to the point saja, Dania memang tak suka basa-basi. Niatnya ke sini memang ingin menemui Damar.

Wanita itu pun mengantar Dania menuju area samping rumahnya. Tepatnya di outdoor ... bagian kolam renang. Eh.. tunggu, jangan bilang kalau Damar..

"Tuh, dia lagi berenang." Seperti dugaan Dania di awal, Damar memang tengah berenang walau hari sudah mulai larut. Apa dia tidak takut terkena rematik nantinya?

"Kamu samperin gih, Tante ke dapur dulu ... mau ambil minum buat kamu," imbuh Linda, mempersilakan Dania untuk menghampiri Damar.

"Iya, makasih Tante."

Damar terlihat masih asyik dengan dunianya, belum menyadari kehadiran Dania di sana.

Dania lantas mengambil duduk di bangku yang berada tak jauh dari kolam renang.

Sambil menunggu, sesekali ia memainkan ponselnya. Belagak sok sibuk, padahal hanya menggeser menu dan buka tutup galeri saja. Sad sekali, apalagi tidak ada satu pun chat yang masuk.

Sepuluh menit terlewat, Dania dibuat menggeram. Damar tak kunjung menampakkan diri di hadapan gadis itu. Apakah dia sudah lupa dengan janjinya?

Sudah mulai kesal, Dania pun mencoba untuk memanggilnya. "Mar!"

Belum ada respon.

"Damar!!"

Masih tetap sama, Damar belum menyahut.

DUNIA DANIA ✅Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang