Jika tidak diadakannya razia dadakan dari dewan guru beserta anggota BNN, mungkin Dania tidak akan mengetahui bila salah seorang teman dekatnya kedapatan membawa paket terlarang, yaitu narkoba.
Semua kedekatan bermula dari sana. Atas rasa penasaran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 83
Tubuh Damar kembali diseret masuk ke dalam sebuah markas besar milik komplotan ternama yang dulunya dikenal sebagai dark lion.
Hingga saat ini, komplotan tersebut masih ada. Belum dibubarkan, ataupun membubarkan diri semenjak terkena kasus tabrak lari beberapa tahun silam.
Mereka masih tetap aktif, bahkan bisa dibilang bangkitnya dark lion memiliki tujuan tersendiri, yaitu ingin membalaskan dendamnya pada orang yang telah membuat pimpinan terdahulu meninggal dunia.
"Ikat dia di tiang itu!" perintah Rendra.
Sejak target utama sang anak dibawa masuk, Rendra langsung menegakkan tubuhnya dan menyambut tubuh tak berdaya Damar dengan menyuruh anak buahnya mengikat kedua tangan pemuda itu ke belakang, pada tiang yang berada tak jauh darinya.
"Ternyata, gak sia-sia saya ajarkan cara ampuh menyerang lawan pada kalian."
Rendra bertepuk tangan bangga dengan kinerja anak buahnya. Rupanya, mereka tak seburuk yang dibayangkan. Bahkan bisa dibilang sebuah pilihan yang tepat ketika mengandalkan mereka.
Pria itu mendekat ke arah Damar. Tubuh lunglai yang kini telah terikat pasrah itu hanya bisa menunduk sembari menunggu bala pertolongan.
"Siapapun yang mencoba untuk merecoki markas besar kita, cepat atau lambat akan kena getahnya! Sama seperti kamu, tak lama lagi lantai ini tak bisa kamu pijak lagi!"
Layaknya seseorang yang tengah memendam amarah, Rendra sampai mengepalkan kedua tangannya bersamaan dengan gerakan refleks dari lehernya yang sontak menoleh ke samping kiri.
Ia mengernyit, "kamu bawa siapa, Roy?"
Royan datang dengan seorang gadis yang ia gendong ala bridal style. Berjalan ke arah kursi yang berada di sebelah Rendra, lalu memposisikan gadis itu untuk duduk di sana.
"Papa gak mengenali dia?" tanya Royan, setelah menyibak rambut yang menghalangi sebagian wajah itu.
"Dania?"
"Ya. Royan berhasil membawa Dania ke sini, jadi ... hadiah apa yang pantas Royan dapat?"
Rendra memalingkan wajahnya setelah tersenyum miring sembari menepuk bahu sang anak, dan berlalu dari sana. "Ikat gadis itu juga," perintahnya.
Kursi tempat Dania duduk kali ini berhadapan langsung dengan tubuh Damar yang terlihat lemas. Bahkan ketika gadis itu siuman nanti, bisa dipastikan jika kondisi Damar akan terlihat sangat jelas.
Beberapa pria suruhan Rendra mulai mengikat tubuh Dania, tak lupa menutup mata gadis itu menggunakan kain atas permintaan dari Royan.
Pemuda itu hanya ingin memberikan kejutan indah untuk Dania jika nanti kesadarannya telah tekumpul. Lumayan, sebagai pencuci mata saat melihat Damar babak belur di depannya.