"Kita hampir sampai!" Theo sangat bersemangat menuntun kami.
"Hah..." Bion duduk tak berdaya.
Dion mengotak-atik layar dari jamnya. Dia mengamati sekitar dan tersenyum entah mengapa. Mungkin saja dan menemukan gunung emas disini.
"Dapat apa?"
"Sumber mata air lain, sepertinya di bawah sini terdapat aliran sungai bawah tanah."
"Benarkah?" Theo ikut menatap layar.
"Kita akan menandai tempat ini, jika mungkin kita akan mengebornya." Dion memasang seperti alat pelacak dan menguburnya ke dalam.
Kami melanjutkan perjalanan, sesekali warga Blackland datang menyapa. Mereka menjadi sangat ramah setelah pertandingan dengan Simon. Aku merasa begitu diakui sebagai Sioner.
"Begitulah Blackland, kuharap kalian terbiasa."
"Oh ya, apa kalian punya tempat aman? Semacam camp pengungsian?" Aku hanya mencoba melihat kemungkinan buruknya.
"Ya, di gua itu tempat cukup aman karena kami bisa keluar menuju ke danau di luar daerah Blackland."
"Jadi maksudmu Greenland?"
"Bukan, Redland."
"Ah, danau itu?"
Danau dengan ribuan Coin didalamnya. Kuharap ada pejantan lain yang lahir, meski populasi Coin meningkat tiap tahun. Coin juga punya masanya. Pasti dia sudah menjaga sangat lama sekali.
"Danau merah itu sebenarnya sangat luas, hanya Coin yang selalu menjaga perbatasan antara kami."
"Aku baru tahu!" Dion menengok Theo.
"Itu rahasia, tapi kalian sudah mendapat pengakuan. Jadi, aku lebih leluasa sekarang."
"Yah, sebenarnya Blackland cukup bagus ditinggali jika kalian punya jiwa petualang sejati. Disini sangat keras dan rapuh secara bersamaan." Aku cemas dengan negara ini.
Aku tahu Blackland kuat, namun mereka juga sangat rapuh. Tempat yang harusnya mereka tak tinggali. Tempat ini sangat rawan. Mereka perlu tempat baru.
"Kita sampai!"
Ini bukan semacam gunung berapi yang aktif.
"Bukan ini!"
"Tapi yang ini yang kami tahu."
Memang ada kawah di bawah, cuma tanda-tanda ada larva minim. Hanya ada gas yang keluar, aku tak mengerti ini hanya gas alam. Bukan dari larva.
Dion berjalan pelan, dia duduk dan berdiri kembali. Kami melewati hutan yang curam dan harus naik kembali. Ternyata masih terdapat gunung lain di sebelah kawah itu. Mungkin karena disini curam dan rimbun mereka tak sampai kemari. Dion melangkah naik dengan cepat, dia berdiri kaku dengan apa didepannya.
"Hah? Tidak mungkin!"
Kami mendapatkan gunung! Gunung yang sangat aktif. Ternyata kami belum sampai ke puncak tertinggi. Ini hanya anak gunung saja. Aku termenung.
Theo berlari sangat cepat menuju gunung. Mungkin sekitar 100 meter lebih. Kami harus kembali naik dan naik memanjatnya perlahan.
"Astaga!"
"Ini baru kawah!" Bion melempar kerikil. Di bawah memang larva, larva yang sangat panas.
"Kita harus memberitahu Master G." Dion langsung menghubunginya.
Aku terpana dengan ini, ini sangat panas buatku. Keringat mengucur deras. Rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku. Tak ada orang yang tahu jika tempat ini kawah utamanya selama bertahun-tahun lamanya. Kenapa ini baru ditemukan? Atau sebenarnya mereka sudah tahu namun disembunyikan agar penduduk tak merasa takut. Namun, siapa yang bertanggung jawab?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Science FictionTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
