Bab 56 : Selamat Datang Kembali

193 31 1
                                        

"Trea!"

"Hmm?"

"Kita sudah sampai!"

El membangunkan ku, di luar langit masih sangat petang. Aku melihat keluar dan kami sampai di perbatasan. Aku turun dan melihat sebuah jalan dengan dua warna berbeda. Sangat. Perbedaannya adalah warna putih dan warna hijau yang sangat ketara. Bahkan jika ada sebuah pohon tumbuh, dia juga akan ikut dengan dua warna. Hijau dan putih.

"Kita akan melewati perbatasan ini ke Ruma. Karena jalan Blackland rusak kita harus berputar." Jelas Dion mengamati peta.

"Hah, bagaimana?" Tapi aku tak bisa masuk ke Whiteland. Aku lupa fakta itu.

Ruma berada di wilayah Redland dan Blackland. Tentu saja banyak imigran gelap karena dua negara itu sering ke Whiteland.

"Kita akan menerobos, setiap perbatasan. Mungkin akan ada kelompok, tapi lebih baik daripada tertangkap Demoter." El masuk ke dalam mobil.

Lalu, untuk apa dia menyuruhku bangun?

"Jam berapa ini?" Tanyaku pada Bion.

"Jam 2, hoammm..."

"Apa?"

Aku masuk ke dalam mobil, kali ini Aswin yang menyetir. Aku duduk ditempatku lagi dan mencoba untuk tidur kembali.

"Ngrookkk..."

El?

Aku mengintip sesaat, suara El memenuhi mobil sampai aku ingin menambalnya dengan sesuatu.

Dion dan Bion cepat sekali masuk ke dalam mimpi mereka. Aku mengedarkan pandanganku ke luar. Kanan dan kiri memiliki pemandangan yang berbeda. Seperti masuk ke dua alam yang satu putih dan satu berwarna.

"Kamu tidak tidur?"

"Ngroookk..."

"Hmm."

Aswin menutup hidung El segera, beberapa detik El memalingkan wajahnya dan dengkurannya menjadi sangat halus.

"Tidurlah, perjalanan ke Ruma memakan banyak waktu. Mungkin sore kita baru sampai."

"Nanti sore?"

"Hmm, kita hanya menggunakan mobil biasa. Jika mereka menambahkan turbo mungkin nanti jam 9 kita sampai ke Ruma."

"Ah, kukira pagi ini kita sampai."

"Tidak, jalan utamanya rusak dan ini jalan mobil yang bisa dilewati sejauh ini."

"Ohh... Harusnya kita menggunakan mobilmu atau pesawat."

"Sayangnya mobilku tidak bisa tembus pandang."

Apa?

🍁🍁🍁

Benar kata Aswin, kami sampai sore hari. Dengan keadaan semuanya mabuk dan kelaparan. El hanya membawa roti saja karena tempat sudah habis dengan senjata. Dan aku baru tahu mobil kami sudah dimodifikasi menjadi transparan. Pantas saja Bion menolaknya untuk dijual.

"Jadi apa selanjutnya?" Tanyaku pada El.

"Berbaur."

Mereka menggunakan tudung kepala. Aku hanya diberi topi karena dengan penampilanku ini mereka bisa memasukan kami dengan harga miring. Tentu aku jadi sandera.

"Berapa orang?"

Seseorang berbadan sangat besar mendata kami. Wajah dan pakaiannnya serba putih hanya saja rambut dan matanya hitam mirip Blackland.

"5 orang, 4 laki-laki, dan satu perempuan."

El mengikat tanganku ke belakang. Aku cukup diam dan pura-pura jadi buronan atau budak siap jual ke orang kaya.

Fanfare ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang