Ini paling menakjubkan yang pernah kualami seumur hidupku 17 tahun ini. Disini tidak ada shower atau bak kamar mandi yang lebar. Hanya ada sebuah balon berisi air dan kita hanya perlu masuk. Clingg... Tubuh kita sudah bersih dari kotoran. Bahkan gigi bagian dalam sekalipun bersih dan napasku berbau mint. Mesin cuci disini juga hebat, sekali sentuh bajuku sudah bersih dan harum. Aku tak percaya dengan teknologi ini. Semua itu diajarkan oleh Bos Dion. Dia memberitahuku banyak hal ini itu.
Kupakai pakaian dilemari walau sebenarnya bajuku sudah kering. Aku butuh baju lain, pilihanku jatuh ke dress putih selutut. Ada renda putih dan bordiran yang indah. Kuikat rambutku seadanya, perutku sudah lapar sedari tadi.
Kulihat ada dua orang yang duduk di meja makan. Satu orang lagi memasak dengan aroma daging menyambutku. Perutku meronta-ronta diberi makan. Aku perlu asupan atau setidaknya air untuk menghilangkan dahagaku.
"Wah, beautiful." Bion menatapku diikuti Bos Dion yang menganga. Dia menjatuhkan roti yang dipegangannya.
"Aku buat makanan, cepat dud-" Chef El berbalik dan menatapku lekat.
Aku turun pelan dan menghampiri mereka. Ada perasaan gugup yang menyergapku seketika saat mata tajam Chef El melihatku seintens itu. Bibirku tertarik ke atas dan duduk di kursi yang ajaibnya melayang di udara. Pandanganku jatuh ke makanan mahal diatas meja.
"Wah, banyak sekali. Apa semua ini buatan chef?" Tanyaku berbinar-binar dengan aneka warna dihadapanku.
"Hm, you look so beautiful. Kamu dapat dari kamar?" Tanya Bion memecah keheningan.
"Thanks, ya. Maaf, aku memakainya." Kugaruk tengkukku yang tak gatal.
"Itu memang kamar khusus untuk mu." Bion tersenyum hangat.
Perkataannya membuatku ingin bertanya untuk sekali lagi. Kamar khusus untukku? Kualihkan pandanganku ke Bos Dion yang menunduk dalam. Sedangkan Chef El masih terus melihatku tanpa mengalihkan pandangannya. Kucium aroma hampir gosong dari arah belakangnya.
"Chef, masakanmu akan gosong nanti!" Peringatanku.
"Oh, y-ya! Auh, sial!" Tingkahnya gelagapan saat tahu apa yang terjadi pada masakannya.
"Bos, bolehkah aku bertanya?" Aku ingin pulang segera.
"Tentu, tapi bisa kamu hilangkan kata bos dan chef." Pinta Bos Dion yang kujawab dengan anggukan.
"Kapan kita pulang?" Aku rindu rumahku dan aku juga khawatir dengan keadaan cafe. Ada Hani yang terkapar di lantai. Aku takut dia kenapa-napa.
"Kita akan membicarakannya nanti, sekarang kita makan. Kita butuh energi lebih." Chef El meletakkan mangkuk besar berisi sup.
Sup ini membuatku teringat dengan masakan buatan ibu. Dia membuatnya penuh kasih sayang dan cinta. Aku tahu mereka pergi ke Jakarta dua minggu. Hanya saja apa jadinya rumahku nanti jika kutinggal lama. Kehembuskan napas lelah, perasaanku mengatakan aku akan tinggal lama disini. Entahlah...
🍁🍁🍁
"Dingin?" Tanya Dion duduk disampingku.
Kugelengankan kepalaku dan mengeratkan selimut yang menutupi seluruh tubuhku. Malam menjadi sangat dingin, kurasakan telapak tanganku yang dingin. Kusesap coklat panas pemberian El. Yah, aku harus terbiasa dengan sapaan nama saja tanpa embel-embel. Kulirik Bion, wajahnya yang putih bertambah putih. Mirip sehelai kertas putih yang rapuh.
"Belum ada kabar?" El datang dengan dengan kue kering yang mengodaku.
"Dia baru sampai berbatasan bangsa Metro." Jawab Bion mengambil kue itu.
Metro? Apalagi kata ini? Ada banyak kosa kata baru yang baru kudengar. Whiteland? Dimana itu, apakah di Indonesia atau di Eropa. Bisa saja di Amerika berhubungan teknologi disini hebat. Tapi, bahasa Bion membuatku merasa aneh. Bahasanya bahasa Indonesia tidak neko-neko. Bukan bahasa gaul anak zaman sekarang.
"Setelah Gerry sampai kita pergi, mereka sudah mencium keberadaan kita." El duduk di samping Bion. Kami saling berhadapan satu sama lain.
"Hm, bisakah kalian menerangkan semua ini!" Pintaku.
Aku butuh penjelasan yang masuk akal. Aku ingin segera pulang!
"Trea! Mungkin ini terdengar gila untukmu. Tapi, percayalah semua ini benar adanya. Pernahkah kamu berpikir didunia ini lebih dari satu galaksi?" Dion berganti tanya kepadaku.
Lebih dari satu galaksi terdengar aneh. Yang kutahu hanya ada galaksi bima sakti. Walau masih banyak galaksi lain yang aku sendiri tak tahu namanya. Alam semesta itu sangat luas bahkan manusia belum bisa pergi ke planet lain selain planet terdekat. Dan bumi ada di dalamnya. Berputar mengelilingi matahari bersama planet lainnya. Walau aku tinggal kelas, aku tahu sedikit mengenai hal itu. Apa dunia ini ada galaksi lain?
"Matahari bukan satu-satunya pusat tata surya, di alam semesta ada beribu juta seperti matahari. Diitari oleh planet yang kecil. Salah satunya adalah galaksi ini. Kami menyebutnya galaksi Kulamo. Pusat tata surya juga matahari dan semua sekelilingnya sama. Kita berada di bumi, bukan bumi di galaksi Bima Sakti. Kita berada di bumi galaksi Kulamo. Apa kamu mengerti?" Aku manggut-manggut, Dion cukup pandai menjelaskan.
"Jadi kita di luar planet? Kita di luar angkasa?" Tanyaku memastikan.
"Yah."
Jantungku berhenti, ada rasa ketakutan yang merayap ke hatiku. Mengerogoti semua keberanianku dan menambah rasa kekhawatiranku. Aku bukan jauh lagi dari orang tuaku. Aku sangat jauh dari mereka. Satu pertanyaan yang lansung melintas. Apa aku bisa pulang?
"Pada dasarnya kita berada di satu dimensi. Hanya galaksi kita yang berbeda. Galaksi ini saling berhubungan dengan potral. Potral bisa terbuka dengan alat atau alamiah. Apa kamu pernah mendengar sungai yang tiba-tiba kering?" Tanya Dion lagi.
"Yah, aku pernah lihat di tv." Jawabku seadanya.
"Air disana bukan hilang secara tiba-tiba, semua itu ditansfer ke bumi bagian lain. Semua air jatuh ke sini. Intinya bumi disini terhubung dengan bumi disana." Aku paham untuk itu.
Berarti bumi disana sama dengan bumi disini. Itu terdengar tidak masuk akal karena yang kutahu hanya ada satu bumi. Tetapi, nyatanya ada bumi lain selain bumi. Ada matahari lain selain matahari disana. Semuanya terhubung dengan potral yang sama dengan yang kulalui saat datang kemari waktu dengan mobil waktu itu. Bulatan putih besar yang siap menelan hidup-hidup.
"Lalu, jika sama. Kita ada dimana sekarang?" Tanyaku lagi.
"Walau kita sama-sama di bumi, aslinya penampakannya berbeda jauh. Wilayah daratan masih terhubung, tidak ada kata Eropa, Asia, Amerika, Afrika, dan Australia. Kita berada dalam satu daratan yang luas. Kami menyebutnya Archi." Dion berdiri diikuti El dan Bion.
Mereka mengelilingi meja yang berada di tengah. Tubuhku ikut berdiri dan memperhatikan mereka yang entah melakukan apa. Tiba-tiba sebuah hologram peta dunia terpampang dimeja. Hologramnya berwarna biru dengan penampilan yang menonjol. Aku bisa melihat gunung, kota, danau, sungai, hutan. Menganggumkan dan sangat luas wilayah daratan. Tak ada pulau kecil atau wilayah yang terpisah. Semuanya menyatu dan jelas terlihat nyata.
"Ini adalah Archi!"
🍁🍁🍁
Maaf, gaje🙇
Salam ThunderCalp!🙌
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Science FictionTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
