"Kita akan berlatih dengan mereka."
"Hah?"
Kami datang sangat pagi, Timoty mengantar kami ke tempat para remaja berlatih pertahanan sampai usia 25 tahun. Setelahnya mereka akan ditugaskan ke sektor masing-masing sesuai kemampuan mereka. Berlatih pedang, panah, pistol, semua peralatan untuk bertahan hidup. Pakaian mereka serba hitam dengan rambut tak kalah hitamnya. Berkilau walau tak ada matahari. Ada semburat keunguan jika rambut mereka tertiup angin atau bergerak.
"Hah... Aku tak mau bertemu mereka!" Bion nampak lesu sedari tadi. Bahkan Timoty menariknya paksa.
"Kenapa?"
"Bion memiliki masalah dengan tubuhnya, dia perlu waktu lama untuk bertahan." Dion mengecek alatnya berupa jam tangan. Dia terus mengecek data random yang sulit diterangkan.
El tak mengeluh, matanya memancarkan semangat membara. Mungkin dia bertemu hal disukainya.
"El!"
Seorang laki-laki datang memeluk El erat seperti tak pernah bertemu ribuan tahun.
"Tugasmu di Bumi selesai?"
"Hmm, aku sudah menemukannya!"
"Siapa?"
"Dia Trea!" El menunjukku.
"Perempuan?"
Dahinya mengerut dan melihatku seksama. Memangnya sioner perempuan begitu mengejutkan? Aku tak paham kenapa orang-orang seketerkejut itu melihatku.
"Jerome!"
"Trea!"
Kami berjabat tangan singkat, setidaknya kupikir kami perlu memperkenalkan diri. Meski dia seperti engan mengenalku.
"Hati-hati dengan Jerome!"
"Kenapa?" Bisikku pada Bion.
"Dia lebih kejam dari El!"
Tubuhku bergidik ngeri, melihat Timoty saja sudah membuatku mundur ribuan langkah. Terutama yang kupikirkan adalah rakyat Blackland lebih tak ramah. Sejak awal datang kemari, mereka memberikan tatapan dingin. Serupa hunusan pedang di depan mata.
Tak banyak omongan yang aku dengar hanya saja mereka seperti menggunakan bahasa isyarat untuk berbicara satu sama lain.
"Kalian bertiga akan dilatih Tuan Vincent!" Timoty mengambil instruksi.
"Hah? Tamat riwayatku!" Bion hampir pingsan jika tidak ada Dion menopangnya.
"Kamu!"
"Ya?" Aku tak tahu Timoty tahu namaku atau tidak.
"Kamu akan berlatih denganku! Setelah kamu cukup sanggup dilatih Tuan Vincent."
"Baiklah!"
Aku tak tahu seperti apa Tuan Vincent sampai Bion takut padanya. Tapi, dengan Timoty saja aku tak sanggup membayangkan latihan apa yang mereka berikan.
"Jerome antar mereka ke sektor 5, Tuan Vincent berada disana."
"Oke, ayo!"
El menepuk pundakku sesaat dan pergi bersama dua kembar. Aku tahu dia memberiku semangat ketika rasanya sudah sangat lemah berhadapan dengan Timoty.
"Hmm, kita akan berlatih apa?"
"Ikuti aku!"
Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya, dia terus berjalan melewati kerumunan orang berlatih tanpa memperdulikan orang-orang menatap kami. Napasku memburu tahu bukan disini tempat kami berlatih. Dia terus berjalan masuk ke dalam hutan lembab. Blackland tak cukup kering dibandingkan Redland. Disini lebih suram dan berbau tanah basah. Aromanya membuatku percaya tempat ini dianugerahi hujan dengan curah besar. Bahkan banyak air mengenang menyebabkan bajuku penuh dengan lumpur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Ciencia FicciónTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
