"Selamat pagi!"
Sapaku ke semua orang yang ada di cafe. Hani mengajarkanku harus sopan dan selalu menebar senyum kepada semua pegawai. Itu dapat membuat kedudukan ku yang tidak seberapa dapat dihargai disini.
"Wah, ini baru jam 6. Pagi banget, dek." Kak Akbar menyiapkan beberapa alat kopi.
Kak Akbar salah satu pegawai tetap di Cafe Zero. Dia sudah 2 tahun bekerja, usianya masih 20 tahun. Dia juga seorang mahasiswa. Aku juga ingin bercita-cita kuliah sembari bekerja. Tapi, apa aku bisa dengan kondisiku saat ini?
"Kan semangat, kak. Kak Akbar dari jam berapa?" Tanyaku.
"Jam tengah 6, kamu lap gelas di sana sama piring sekalian." Kak Akbar menunjuk rak pojok dekat kran air.
"Oke."
Mari bekerja Rea! Kuregangkan otot tanganku dan mulai mengelap. Terlebih dulu kupakai celemek agar bajuku tidak kotor. Aku juga harus bersih dan rapi, itu akan menambah nilai plus ku. Waktu semakin siang, sudah banyak yang datang termasuk Hani. Hani dua tahun diatasku, dia hanya lulusan SMK dan langsung bekerja disini. Bos Dion memang menerima pekerja yang masih kuliah dan lulus SMA/SMK.
"Wih, rajin banget adek baru aku." Hani mencubit pipi tembemku.
"Auww, sakit." Keluhku mengusap pipi ku yang kuyakin memerah.
"Lucu, jadi gemes." Hani pergi ke dalam ruang karyawan.
Hari ini katanya cafe akan kedatangan chef dari Jogja. Menurut Hani tadi malam, chef itu adalah teman baik bos Dion yang otomatis umurnya tak jauh berbeda. Kenapa bertepatan sekali denganku masuk? Itu cuma kebetulan bukan.
🍁🍁🍁
"Oke. Aku ingin memperkenalkan chef baru kita. Namanya Chef Elang dari Jogja. Aslinya orang sini, yakan El!" Bos Dion menepuk pundak lelaki disamping nya.
Wajah laki-laki datar tanpa ekspresi berbanding terbalik dengan Bos Dion yang super ramah. Apalagi aura yang dia keluar kan. Aku sempat merinding, entahlah aku merasa aneh saat melihatnya pertama kali. Jangan ditanya bagaimana wajahnya, dia kuning langsat dengan hidung mancung dan alis tebalnya. Ada bulu-bulu halus diseketir dagunya sampai kumis. Tubuhnya lebih tinggi dari Bos Dion dan lebih gagah. Mirip prajurit perang jika kupikir bukannya seorang dibalik dapur.
"Pegawaiku ada tujuh, tiga di depan dua disini dan dua jadi kasir. Oh, dan pegawai baru. Si gadis kecil kita." Bos Dion menunjuk ku yang berdiri didekat Hani.
Kuulas senyum dan mengangguk kecil. Kukira dia akan diam dan dingin. Ternyata dia ikut tersenyum bahkan memperhatikan giginya. Entah aku salah, itu mirip seringaian daripada senyuman. Menakutkan, aku sudah tak nyaman berada dalam situasi ini.
"El, selamat datang dan semoga kita dapat bekerja sama dengan baik kedepannya. Urusan ini menjadi tanggung jawab mu." Bos Dion mengeluarkan tangannya untuk berjabat tangan dan langsung diterima Chef Elang.
"Tentu, aku akan mengurusnya." Suara laki-laki itu berat dan khas. Ada serak yang unik.
"Baik, mari bekerja!" Bos Dion memberikan semangat kepada kami.
Kami membubarkan diri dan mengerjakan pekerjaan kami masing-masing. Kusiapkan diri untuk mencuci semua yang harus dicuci. Biasanya hari libur cafe ini ramai oleh muda-mudi. Aku sering lihat banyak anak-anak dari sekolahku kemari. Entah untuk mengerjakan tugas atau hanya kumpul-kumpul. Aku sering berandai-andai apakah aku bisa masuk kemari seperti mereka. Sekarang aku bisa disini bahkan berdiri di dapurnya.
"Trea!" Bos Dion memanggilku.
"Ya, bos?" Apa aku melakukan kesalahan. Kurasa jawabannya lawan dari iya. Semua peralatan dan perlengkapan sudah kulap dengan baik. Wajan dan piring kucuci sebersih mungkin tanpa noda sedikitpun.
"El, dia bukan?" Bos menunjukku. Ada apa?
Chef Elang mengangguk, dia sedikit berbisik kepada Bos Dion. Telingaku hanya mendengar kata "Misi", "Master", " Sioner"... Bos Dion manggut-manggut dan tersenyum kepadaku. Senyumnya ramah menghangat, ada perasaan aman dan nyaman dihatiku.
"Tidak apa-apa. Pekerjaanmu bagus!" Pujinya membuat senyumku merekah.
Kukira ada apa, jantungku ingin copot rasanya. Kulanjutkan tugas ku kembali, inilah hari-hariku dua minggu kedepan. Menjadi pegawai di cafe. Apa lagi yang lebih mengasikan dari ini?
🍁🍁🍁
"Trea, mau bareng?" Hani mengenakan helmnya.
"Tidak, terimakasih. Rumahku dekat dari sini." Kulirik jam tanganku, waktu menunjukan jam 5 sore.
Biasanya cafe akan tutup jam 10 malam. Tapi, untuk ku dan Hani lain ceritanya. Pegawai perempuan hanya sampai sore saja, itu enaknya bekerja di cafe ini. Makanya siapapun yang bekerja disini pasti akan betah tetap bekerja dibawah bowoh Bos Dion.
"Oke, aku pulang dulu. Dah!" Hani menyalakan motornya dan pergi.
Kutatap dia sampai punggungnya menghilang. Di ufuk barat cahaya matahari sore sudah sangat jingga. Aku suka menikmati senja, ada keajaiban saat matahari digantikan perannya oleh bulan. Aku ingat aku harus pulang segera. Ayah dan ibu menungguku di rumah.
"Trea!" Seseorang memanggil namaku. Suaranya cukup familiar ditelingaku, siapa? Kutengok kesana kemari mencari sumber suara.
"Chef El?" Aku melihatnya datang kearahku dengan setengah berlari. Ada apa lagi ini?
"Mana handphonemu!"
Hah? Apa maksudnya itu? Dia meminta handphoneku, tidak salah. Kukerutkan dahiku tidak mengerti arah pembicaraan nya. Chef El mendengus dan merebut handphone yang sedari tadi berada digenggamanku. Tidak sopan orang ini!
"Ini nomorku, kamu harus menghubungiku jika ada apa-apa." Dia menyerahkan handphoneku yang langsung kuterima.
"Memangnya ada apa, chef?" Siapa dia siapa aku? Apa setiap aku ada sesuatu harus menghubunginya begitu. Aneh sekali, aku dan dia baru bertemu satu kali dan tiba-tiba dia memberikan nomor teleponnya kepadaku. Bahkan sedari tadi kami tidak saling berbicara. Menyapa saja dia tak pernah.
"Turuti saja kataku, kamu mengerti!" Chef El menepuk pucuk kepalaku pelan dan pergi.
Hal itu membuat tubuhku mematung ditempat. Dia menepuk kepalaku? Kusentuh kepalaku, kejadian langka dalam hidupku. Seorang pria asing berani menyentuh kepalaku. Napas saja sulit untuk kuambil sekarang. Aku harus segera pulang dan mandi bunga tujuh rupa. Bukan karena aku jijik atau apa, tapi aku ingin menghilangkan sentuhannya dikepalaku. Terutama rambutku, siapapun tak akan kuijinkan menyentuh rambutku selain ayah dan ibu.
Aku tidak memiliki fobia atau semacamnya. Namun, tubuhku akan bereaksi seperti ini jika orang asing menyentuh rambutku secara tiba-tiba tanpa aku beri izin. Mungkin aku hanya berlebihan, jujur aku tak suka dengan pria yang suka menyentuh wanita walau hanya sebatas rambut tanpa izin dari sang wanita. Aku benar-benar tak menyukainya...
🍁🍁🍁
Salam ThunderCalp!🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Ciencia FicciónTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
