Tubuhku masuk ke dalam mobil, bukan lagi mobil milik Dion kemarin. Kali ini milik Master G yang kelewat canggih dengan keamanan lebih terjamin. Aku memakai bajuku awal, aku tak ingin kehilangan identitasku sebagai manusia asli bumi. Barang pun hanya ranselku ditambah beberapa cemilan untuk berjaga-jaga.
Omong-omong sejak kemarin aku belum berbicara dengan Master G. Aku sudah takut duluan sebelum bicara satu kata pun. Tak ada yang tahu kecuali diriku sendiri. Udara mendingin disini, kaca masih berembun. Gedung-gedung tenang tanpa keributan saat pagi.
"Cepat masuk, kita akan berangkat! El, ambil alih!" Suara barito Master G. Kutahan tawaku saat melihat wajah El yang cemberut kesal. Dia berubah dari chef menjadi sopir. Keahliannya tak perlu diragukan karena berhasil membuat ku mual.
"Dion saja! Tanganku sakit." Dia melengos masuk duduk disampingku. Itu cuma alasannya, tangannya masih baik saja tadi.
"Hah, terserah." Semua masuk ke dalam, Master G menatapku dan tersenyum kecil.
Kami berlima duduk tenang di dalam mobil, kuperhatikan sekitar. Rumah dengan cat putih mulus yang bersih dan indah, aku menyukainya. Terutama rumah milik Bion, dia memberi nama rumah ini Amber. Lucu karena saat ingin pergi, Bion membuat ritual untuk Amber. Kata Dion itu tradisi Bion agar Amber tetap terjaga dan aman.
"Kita akan pergi ke wilayah Redland, kita butuh pengakuan untuk Trea dan bertemu kawan lama. Oh, jangan lupa samblok, kita akan membutuhkannya." Master G memakai kaca mata hitamnya.
Setelah mendengar perkataannya, aku tahu satu hal. Aku akan jadi hitam nanti!
🍁🍁🍁
Butuh waktu satu hari menuju Redland. Kami masih berada dijalan entah aku tidak tahu. Yang jelas kami sudah keluar dari zona putih milik Whiteland. Pemandangan pertama saat keluar adalah musim yang panas. Matahari jauh lebih panas dan terik. Aku cepat berkeringat dan merasa haus. Kutengok sampingku, tiga pemuda tertidur pulas. Sekarang Master G yang menyetir. Padahal hari belum menjelang malam tapi mereka bertiga sudah tidur pulas.
"Kamu tidak tidur?" Tanya orang didepan kemudi.
"A-aku belum mengantuk." Pandanganku beralih keluar kaca. Ladang jagung yang siap panen langsung terlihat. Ada orang yang sedang memanennya, jangan berpikir memakai alat tradisional. Mereka menggunakan semacam robot petani. Manusia hanya perlu mengontrol para rabot pekerja. Kenapa aku tahu, sebab yang kudapati selama perjalan sama. Bahkan hanya jagung yang menguning.
"Apa kamu takut denganku?" Tanyanya lagi.
"T-tidak, tentu tidak." Bohongku. Orang akan takut bila bertemu dengan orang asing. Apalagi dandanannya yang mirip gengster membuat nyaliku ciut seketika.
"Haha... Aku tahu kamu takut, kamu kira pasti aku pria jahat dengan umur yang sudah tua." Dia melihatku dari kaca depan. Giginya berjajar rapi dengan dua gigi depan yang lebih panjang dan besar. Dia menjadi lucu dengan gigi kelincinya.
"Memangnya umur master berapa?" Tanyaku kurang sopan kepada yang lebih tua.
"Kamu akan terkejut! Umur ku 19 tahun ini."
Apa!!! Mataku mengerjap tidak percaya, dia lebih muda daripada El dan Dion. Hebat, di umurnya yang 19 dia sudah jadi ketua. Mulutku terbuka lebar, fakta ini lebih mengejutkan lagi. Kudengar suara tawa didepan, Master G tertawa renyah.
"Kamu gadis yang sangat polos, umurku 24 tahun. Jangan tertipu lain kali!" Dia geleng-geleng dari yang kulihat di kaca depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Ciencia FicciónTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
