Bab 19 : Bersama Teknologi

458 68 1
                                        

"Kita aman di Redland karena mereka adalah sekutu Blackland. Tapi, kita juga harus waspada karena mereka sekutu Whiteland. Kadang, pemerintah Whiteland lebih suka masuk Redland mencari keberadaan Sioner." Bion mengeser gambar lainnya menampilkan gerombolan pasukan putih di depan gedung bercat merah orange.

"Disini teknologi masih tergantung pada dua wilayah itu. Bahan utama didapat dari Whiteland sedangkan cadangan dari Blackland. Walau cadangan sebenarnya kualitas jauh lebih bagus dari Whiteland. Apalagi Blackland sudah mengenal cara membuat alat dan mesin dari pohon atau batu. Mereka membuat mesin pintar mengubah partikel batu menjadi partikel logam. Besok aku harus membuatnya!" Bion sangat semangat membahas hal-hal berbau ilmiah, robot, dan teknologi.

"Buatkan aku satu!"

Siapa tahu jika aku punya di rumah aku bisa membuat sampah menjadi barang baru. Bisa jadi kain atau pakaian ber-merek. Aku bisa menjualnya dan mendapat laba tinggi. Kugunakan untuk sekolah, membantu ayah ibu, dan menyantuni anak yatim piatu. Aku butuh mesin itu!

"Yah, asalkan kamu punya material Blackland aku dapat membuatnya. Oh, aku lupa! Ayo, aku akan memberitahumu beberapa hal lainnya. Kamu akan suka!" Bion menarik tanganku menuju ke pojok ruangan.

Dia menekan sebuah tombol merah dan desingan pelan berbunyi. Seketika tembok dihadapanku berganti dengan mesin game di bumi. Yah, aku pernah lihat anak hits suka memainkannya. Tentu harganya mahal dan hanya beberapa yang punya. Mulutku melongo dengan keajaiban didepanku. Luar biasa hebat!

"Bagaimana?"

"Keren! Aku selalu ingin memainkannya." Kupegang ujung layar lebar dan dua kursi didepannya. Ada alat menyetir disetiap kursi.

"Coba saja!"

Aku duduk, kursinya dapat menyesuaikan pemakainya dan sangat nyaman. Busanya membuatku betah berlama-lama. Kupegang setir mirip yang kulihat saat El dan lainnya menyetir mobil. Rasa senang langsung menghampiri ku dan menumbuhkan ueforia berlebih. Terdengar alay karena aku baru pertama kali bermain secara langsung dan nyata.

"Ayo, berlomba!"

Bion mengambil duduk disampingku dan memakai kaca-mata besar. Mungkin kaca-mata 3D tapi berbentuk alat terapi mata. Dia menyodorkan satu kepadaku. Kupasang pelan dan merasakan sensasi dingin menyentuh mataku. Pemandangan baru dapat kulihat setelah memakainya.

Sircuit...

Aku tengok kanan-kiri, aku berada di dalam mobil. Pakaianku berubah jadi pakaian pembalap dengan helm dikepalaku. Kurasakan pemandangan nyata, tanganku memegang erat setir. Didepanku banyak mobil berjajar. Aku masuk balapan mobil dengan diriku sendiri sebagai pembalapnya.

'3...'

Terdengar seorang berbicara bahasa asing.

'2...'

Dia menghitung mundur, jantungku terpacu. Susana tenang berubah jadi tegang berkat hitungannya hampir menyentuh angka...

'1... Go...'

Wusshh...

Semua mobil melaju kencang meninggalkanku yang masih terpaku. Aku harus apa? Mesinnya menyala sendari tadi, lalu bagaimana cara jalannya. Pedal gas? Kuinjak pedal di bawah kakiku, entah yang mana tapi tubuhku terlonjak ke belakang dan arah mobil sangat aneh. Kadang kanan kadang kiri kadang juga berputar-putar. Mereka kembali melintas kedua kalinya melewatiku.

Cukup! Kueratkan peganganku dan menginjak pedal kutambah kecepatanku. Aku tidak ingin jadi terakhir, aku harus lebih unggul minimal di atas si nomer terakhir. Posisiku sangat jauh dari yang lain. Mereka sudah mencapai 3 lap sedangkan aku baru lap pertama tapi belum selesai.

Kutambah lagi kecepatanku, adrenalinku membuncah diselingi gelisah. Aku harus cepat menyusul mereka. Entah apa aku seperti dirasuki pembalap profesional. Aku berhasil melewati dua lap tanpa menabrak atau membentur pembatas. Mereka mencapai lap ke- 4. Sedikit lagi aku berhasil 3 lap. Mobilku semakin cepat menyusul dengan hanya bermodalkan nekat.

Kami hanya perlu menyelesaikan 7 lap agar menang. Mobilku berhasil menyusul mereka ke lap 5. Aku terkejut saat tahu Bio menyetir di depanku. Aku tepat di belakangnya. Raut senang aku panjatkan, aku tidak akan jadi yang terakhir sepertinya. Kami sudah mencapai lap ke- 6. Posisiku berada urutan ke- 8 dari 9 pemain. Untuk lap terakhir mobil didepanku semakin cepat, kutambah lagi kecepatan. Mataku fokus ke garis finis yang kurang sedikit lagi. Kuakui ini menyenangkan untuk pemula.

Kami semua melewati garis finis. Kucopot kaca-mata dimataku, aku tak peduli hasilnya karena aku tahu bukan aku yang menang. Kulihat Bion yang baru melepaskan dan menatapku terkejut.

"Aku suka, kita main lagi kapan-kapan!"

"Eh, y-ya. Oh, selamat!" Bio mengulurkan tangannya.

Keningku mengkerut tanda bingung. Selamat untuk apa, selamat karena aku berhasil juara satu dari bawah atau karena sudah menyelesaikan semua lap tanpa mengeluh. Dia menunjuk papan layar yang memperlihatkan urutan pemenang. Wajahku bukan berada di bawah, semua laki-laki dan Bion berada di nomer 4.

Lalu, dimana aku?

"Kamu juaranya, baru bercobaan pertama dan berhasil. Menakjubkan!" Bion bertepuk tangan sendiri.

Aku juaranya?

Mataku menatap ke layar sekali lagi, dan... Benar. Wajahku yang kuning langsat berada di urutan pertama. Kutelan salivaku susah payah, aku mungkin benar-benar dirasuki oleh pembalap profesional!

🍁🍁🍁

"Dia mengalahkan Timoty! Gila kan?" Bion berteriak dihadapan lainnya.

Dia menceritakan bagaimana aku yang memenangkan balapan. Kututup wajahku yang merah padam menahan malu dan kesal. Pasti kebetulan tadi, mana mungkin aku bisa. Kebetulan! Mereka menatapku terkejut dan tersenyum mendengarnya. Rexa menepuk pundak ku memberikan semangat dan menyuruhku membuka telapak tanganku.

"Baiklah, kamu hebat dalam game! Timoty adalah lawan yang sulit, dia akan terkejut melihatmu!" Master G geleng-geleng.

"Bukannya dia game?" Aku merasa ada yang tak beres dari ini.

"Dia sungguhan, pemain yang melawan kita tadi. Dia di Blackland, kukira kamu tahu. Ada informasi setiap pemain diatas mobil." Bion memakan apel secara rakus.

"Oh, dan aku berhasil mengalahkannya. Dia akan marah tidak?" Kugaruk tengkukku.

"Haha... Tentu. Juaranya selama 4 tahun ini langsung lenyap ditanganmu!" Master G tertawa renyah memegang perutnya.

Aku berhasil mengalahkan Timoty, aku menambah lawan dan musuh. Juara 4 tahun dan langsung dikalahkan gadis ingusan sepertiku. Harga dirinya hancur begitu saja dan akulah menyebabnya. Kugigit bibirku gelisah, siapa sebenarnya aku ini?

Apakah ini keahlianku game? Tidak, kukira itu bukan keahlianku secara hanya faktor keberuntungan saja. Akan lebih keren bila aku memiliki keahlian seperti bela diri, senjata, jenius, atau teknologi. Keren bukan? Atau bisa melakukan keajaiban layaknya superhero. Bisa jadi aku memilikinya! Toh, di Sioner ini belum ada yang bisa.

Aku cuma berharap seadanya!

Tidak ada yang tidak mungkin kan?

🍁🍁🍁

Salam ThunderClap!

Semoga kalian masih menunggu cerita absurd ini.

See you...

Fanfare ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang