Pikiranku masih terkunci pada mimpi aneh kemarin. Aku baru sadar bahwa mimpi yang katanya bunga tidur berubah menjadi malapetaka baru untukku. Pasalnya saat aku terbangun, lenganku sakit dan mengeluarkan darah. Sayatannya melintang dari siku ke atas yang membentuk garis lurus beraturan. Tak hanya itu, lukanya cukup dalam dan dugaanku adalah mimpi itu nyata adanya.
"Trea!"
"Auww...!" Pekikku ketika lenganku dipegang. Hanya aku yang tahu dan gara-gara Bion yang menyengol lenganku efek nyerinya kembali menyerang. Niatnya baik mau membangunkan ku dari lamunan, namun akhirnya niatnya akan menjadi senjata mematikan untukku.
"Tanganmu!" Mata Bion melihat ke lengan kiriku. Baju yag dulunya putih berubah jadi merah. Tadi pagi aku cuma memberi betadien dan dibalut kasa.
"Sial! G!" Teriak El di depanku. Dia yang sibuk mengemudi memukul setir.
Beberapa menit lagi akan terjadi kekacauan. Dalam mobil berubah aturan, kursiku menjadi paling belakang bersama El. Master G mengambil alih kemudi. Ini keistimewaan mobil di bumi disini. Tak perlu keluar hanya perlu menekan tombol. Dion dan Bion duduk dikursi tengah. Mereka melihatku dengan tatapan menyelidiki.
"Jangan berbalik atau kupatahkan kepala kalian!" Hardik El langsung membuat si kembar kembali diam tanpa menoleh ke belakang.
El mengubah posisi kami menjadi saling berhadapan. Dia mengeluarkan kotak P3K di ambil entah dimana. Dia menyuruh ku mengelung lenganku sampai keatas batas ketiak untuk memudahkan mengobati. Aku sudah berinisiatif mengobati diriku sendiri tapi dia menolak rencanaku itu. Darah mengalir dari balik kasa.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya mencopot kasa secara perlahan.
"Aku pun tak tahu, semalam aku bermimpi terluka di lengan. Dua kali aku bermimpi hal yang sama. Dan baru tadi lagi hal ini terjadi." Yah, setelah makan malam aku tidur. Lagi-lagi mimpi yang sama dan situasi yang sama pula.
El membalut lukaku, dia ahli juga mengobati luka seseorang. Darahnya tertutup aku harus menjaga lenganku agar tidak menimbulkan luka terbuka lagi. El juga menyarankan hal demikian, dia juga mengancam yang lain agar menjauhkanku hal berbahaya atau apalah. Kuputuskan untuk bersandar di kursi mobil dan mengalihkan mataku ke objek luar jendela.
"Apa yang kamu mimpikan?" Tanya El disampingku.
"Gambaran alam yang menjadi kelam dan diakhir cerita lenganku terluka. Aku juga dengar kalimat itu juga." Kuhembuskan napas lelah. Kupijat pucuk hidungku kepalku pusing mengingat hal buruk.
"Mereka akan muncul lagi, Sioner yang telah terdeteksi dapat mendapat sinyal bahaya. Kami juga pernah mengalaminya jauh lebih parah karena kami laki-laki dan peluang mendapat pengakuan lebih besar. Mimpimu adalah awalnya lalu mereka akan muncul untuk merealisasikannya." Penjelasan Dion memberikan kengerian kepadaku.
Mereka akan datang kembali dan mereka akan membunuhku. Bolehkah kuminta mereka lenyap saja dimuka bumi. Aku memiliki kehidupan jalanku masih panjang. Aku harus hidup melanjutkan hidupku bukan berakhir ditempat ini. Atau parahnya berakhir di ruang serba putih yang menyedot layaknya lubang hitam.
"Kamu akan baik-baik saja, kamu memiliki kami!" El menepuk kepalaku pelan menyalurkan rasa hangat layaknya keluarga.
Benar, aku punya mereka sekarang. Master G ahli senjata, Bion ahli teknologi, Dion si kamus berjalan, dan El si multiman. Apa yang perlu kutakutkan apabila aku punya orang-orang hebat disamping ku.
Duarr...
Stttt...
Stttt...
KAMU SEDANG MEMBACA
Fanfare ( END )
Ciencia FicciónTrea harus merasakan berbagai kejadian-kejadian di luar pemahamannya. Semuanya terkuak satu demi satu sampai akhirnya dia menerima fakta bahwa dia adalah Sioner. Hidup dalam pengejaran dan diburu. Bahkan dia tak tahu dunia apa yang menantinya nanti...
