Bab 28 : Kedua kalinya

272 40 7
                                        

"Kamu seperti Hulk."

Aku terdiam cukup lama mendengar ucapan Bion. Kutahan air mata yang hampir tumpah. Bukankah Hulk adalah manusia super berwarna hijau yang sangat besar. Apa aku sebesar itu?

"Dasar, ini tidak apa-apa Trea!" Dion memberiku segelas teh hangat.

Kami sudah kembali pulang, katanya Theo mencari mereka dan butuh tiga orang membawaku kembali. Tiga orang dengan badan super kekar melebihi Ade Rai!!!

"Tubuhku membesar!"

"Okey Trea, tenanglah. ELLL!!!!" Dion berteriak cukup keras sampai bergema ke seisi rumah.

"Ada apa?"

El datang terburu-buru, dibelakangnya muncul Master G. Mereka nampak baru dari suatu tempat karena bau mereka seperti bau tanah. Aku mencium apa?

"Ini jauh dari ekspektasiku, kukira efek bunglonnya hanya akan merubah rambut dan matanya." Master G. bersedekap dan menatapku nanar.

"Bisa kamu jelaskan Theo?" Pinta El.

"Aku hanya mengantarkannya ke kedai kakakku. Dia menghabiskan 10 piring dalam waktu 15 menit dan perlahan rambut dan tubuhnya berubah." Jelas Theo membuatku tambah takut.

10 piring?

"Apa? Tadi pagi dia sudah habis 10 potong besar ayam!" Bion terkejut dan melihatku ngeri.

Menurutku aku hanya habis 2 piring saja.

"Sepertinya kemampuan bunglonnya sedang beradaptasi, tubuhnya mungkin bisa mengecil kembali tapi tetap saja ototnya tidak akan hilang. Karena dasar kemampuan warga Blackland berada dikekuatan tubuh." Terang Dion sembari terus mengamati keadaan tubuhku.

"Ini akan mudah untuk Trea untuk menghadapi ujian selanjutnya." Master G. keluar ruangan.

"Masalahnya, hormon Trea sedang tidak stabil. Bisa saja dia jauh lebih besar dari ini." Dion menatapku lekat.

"Apa?"

Kutahan tangisku kembali, aku tidak mau menjadi raksasa. Kupukul kasurku sampai satu bagian penyangga patah.

"Trea jangan memukulku." Bion bersembunyi dibalik tubuh saudaranya.

"Apa yang harus kita lakukan?" El bertanya pada Dion.

"Ya, dia harus menjaga moodnya. Menurut perhitunganku jika dia bisa mengendalikannya tubuhnya dapat kembali."

Mereka semua melihatku dengan mata iba. Bagaimana caranya?

"Apa makan?" Tawar Theo memecah keheningan.

Tubuhku berdiri dan pandanganku begitu tinggi melebihi tinggi El. Aku menatap nanar lantai begitu jauh. Tangan yang besar berotot, kaki sebesar wajan, dan wajahku sangat berbeda. Aku heran, bagaimana wajahku berubah walau hanya mata dan rambut jauh lebih hitam berkilau. Aku terdiam, jika begini sama saja aku tak dapat pulang ke rumah.

"Kamu serius lapar?" Tanya Bion.

"Aku mau keluar saja, disini sangat sempit. Aku takut bertambah besar."

"Kamu mau jalan-jalan?" Tawar El yang kujawab dengan anggukan.

Di luar kamar ada Master G. dan seorang pria dengan luka di wajahnya sedang berbincang. Mereka menengok ke arahku.

"Tidak kusangka Sioner baru memiliki kemampuan hebat."

"Trea, dia Tuan Vincent."

"Hallo, saya Trea."

"Kalian akan kemana?" Tanyanya.

"Ke luar sebentar." El menarikku dengan cepat sebelum pertanyaan lain datang.

Fanfare ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang