Bab 92 : Perpisahan

205 22 0
                                        

Aku memutuskan untuk menghubungi semua orang yang kukenal. Dari Redland, Blackland, Greenland, dan Whiteland. Aku tidak bisa menemui mereka satu persatu. Aku sudah terlalu lama pergi dari rumah. Orangtuaku akan khawatir padaku jika masih bertahan disini lebih lama lagi.

El memegang tanganku sangat erat. Kami akan menemui ayah dan ibu di Jakarta.

"Hiskk... Jangan lupa mengunjungi kami jika liburan!" Nenek memelukku erat.

"Iya, aku pasti datang bersama ayah dan ibu."

"Tolong bawa mereka kemari." Aku mengangguk.

Kakek merentangkan tangannya begitu lebar. Aku memeluk kakek sangat erat. Aku pasti akan menyempatkan waktu datang ke dunia ini lagi. Dunia ku. Para sepupuku saling berjejer dengan wajah sedih, apa aku harus memeluk mereka satu persatu? Sepertinya hubungan kami jauh lebih dekat daripada sebelumnya. Aku bisa merasakan mereka jauh lebih menerima kehadiranku.

"Nanti kalau kamu butuh bantuan untuk belajar beritahu aku." Naomi memberikan buku dokter padaku.

Tapi aku belum tahu akan mengambil jurusan apa nantinya. Dokter cukup sulit dilakukan. Masa kuliahnya juga pasti sangat lama dan aku mungkin tidak bisa mengejarnya.

"Terima kasih."

"Kita masih bisa bertarung lagi suatu saat nanti. Aku sangat ingin melawan Big Trea. Jangan lupa pulang!" Alberto tersenyum. Sepertinya baru kali ini aku melihatnya tersenyum selebar ini.

"Jika kamu ingin sesuatu katakan pada kami semua." Samuel menepuk kepalaku.

"Hmm, iya."

Terakhir James yang menatapku dengan wajah menahan tangis.

"Sayang, jika kamu kesulitan dan mengalami masalah beritahu orang disekitarmu. Jangan memendam sendiri, sekarang kamu punya orang-orang disekelilingmu. Aku juga akan membantumu. Ini hadiahku." James memberikanku sebuah kartu.

Kata-kata darinya lebih bagus dari kuharapkan. Tapi bukankah ini kartu ATM di bumi? Bagaimana dia mendapatkannya?

"Itu semua hadiah dari hasil game. Tentu saja pembagiannya adil, tapi aku menambahkan uang ku untuk mu berbelanja disana. Habiskan saja, kakakmu ini kaya daripada El!"

"Apa? Aku juga kaya! Aku juga bisa membelikan apapun untuk adikku!" El menarik tubuh James. Bukankah mereka sangat akrab?

Aku memeluk keluarga James bergantian. Aku juga akan merindukan keluarga besarku ini. Mereka sangat banyak dan banyak.

"Jaga dirimu!" Bisik bibi.

"Iya."

Aku menatap bergantian Sioner lainnya. Memeluk Dion dan Bion yang terus menangis. Bion menangis bukan karena aku pergi ke bumi, tapi dia menangis karena tidak akan ada lagi yang mengajaknya bermain game. Aku sudah meminta Theo untuk menemaninya. Theo juga menangis saat aku memberitahunya pergi. Dia bahkan ingin ikut denganku ke bumi. Tapi Luca langsung menutup mulut Theo dan menyuruhku hidup dengan baik.

"Kami akan kesana mengunjungi mu. Jangan lupa belajar!" Dion masih mengingatkanku.

"Aku pintar, ya tidak sepintar seperti mu. Tapi nilaiku cukup bagus."

"Kami percaya! Beritahu orangtua kalian, bahwa kami sangat berterima kasih dan kami akan merepotkan anak mereka lagi nantinya." Master G. melihatku dan El.

"Jangan lupa salam kami! Hiskkk... Jika kamu kesana, belikan aku game." Bion berlari memelukku.

"Nanti aku cari game bagus." Aku menepuk punggung Bion.

"Sudah sampai disini! Ayo pergi." El menarikku.

Tapi aku masih memiliki satu orang lagi. Ada Aswin yang berdiri disana. Waktuku bersama Aswin juga sangat sedikit. Aku selalu diawasi oleh siapapun. Aku belum berpamitan dengannya.

"Tunggu El! Aku harus mengucapkan sesuatu pada Aswin." Aku menghentikan El.

"Tidak ada kontak fisik dan cepat!"

Aku melihat Aswin, aku bisa mengatakannya.

"Tunggu aku! Meski itu akan lama, tunggu aku kembali. Saat itu, tolong berikan aku banyak bunga."

"Iya, saat itu aku akan menunjukkan versi terbaikku untukmu. Tolong, tetap ingat aku dan jangan melihat pria lain di bumi." Aswin memalingkan wajahnya.

"Hmm, Aswin sampai jumpa!"

"Sampai jumpa!" Aku memegang tangan Aswin dan melepaskannya.

Aku berjalan dan berdiri di samping El. Bola portal di lempar dan kami  berjalan pada portal lebih besar dan bersinar terang. Kami akan melewati gerbang portal yang akan membawa kami pulang ke rumah. Ke bumi.

"Sampai jumpa semuanya!" Aku melambaikan tanganku dan masuk bersama El.

Dalam sekejap semua wajah mereka digantikan dengan pemandangan sebuah rumah. Aku tidak mual lagi saat menggunakannya. Di depan kami ayah dan ibu melihat kami. Wajah mereka nampak lebih bersinar dari sebelumnya. Aku berlari dan memeluk mereka. Aku tidak bisa menahan air mataku.

"Yah, Bu. Aku pulang!"

"Kalian pulang!" Ibu terisak.

"El!" Ayah merentangkan tangannya.

Aku melihat El menutup wajahnya, tubuhnya sangat gemetaran. Kami bisa hidup dengan tenang. Aku menarik tubuh El mendekat. Berapa lama dia tidak bisa melakukan hal ini?

"Kakakku!" Aku memeluk El.

"Hiskkk... Maaf, lama. Sekarang, kita tidak perlu lagi bersembunyi dari Demoter. Kami sudah memusnahkan mereka. Hiskkk..."

Wajah mereka sangat terkejut, aku tersenyum dan menarik mereka semua memeluk El. El sudah berjuang sangat keras sendirian di dunia itu. Jadi, aku juga harus berjuang keras. Kami akhirnya tidak akan lagi diteror oleh Demoter. Tidak akan ada lagi yang mengganggu kami.

"Ayo, masuk. Kita makan!" Ajak ibu.

"Ada sambel?" Tanya El.

"Ada! Ayah juga beli jengkol sama pete." Ayah berjalan bersama El.

"Enak!!! Oh ya, aku punya kejutan nanti." Aku menarik tangan ibu.

"Apa?"

"Jangan kaget!!!"

🍁🍁🍁

Salam ThunderCalp!🤗

Hai!

Satu bab lagi dan semuanya telah berakhir. Cerita ini saya buat sangatlah lama, dari tahun ke tahun. Mungkin hampir 3 tahun lebih untuk saya menyelesaikan cerita ini. Cerita yang sangat menguras isi pikiran karena sempat berhenti di tengah jalan, terlalu banyak hal yang saya tuangkan dalam cerita ini.

Saya mohon maaf jika ada banyak kekurangan dalam cerita ini atau beberapa hal yang belum terjawab. Saya masih berusaha semampu saya.

Terima kasih telah menemani para Sioner ini! Perjalanan Trea khususnya yang mencari jati dirinya. Untuk kalian yang terus membaca cerita ini sampai akhir, terima kasih banyak 💞💞💞

Saya sangat senang bisa menyelesaikannya sampai akhir.

Fanfare telah berakhir.

Fanfare ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang