Bab 37 : Pagi dan Pagi

218 33 2
                                        

Aku membuka mataku, ini bukan lagi di sel. Aku sudah berasa di ruangan putih dengan teknologi canggih. Apa ini rumah sakit? Baunya tak menyengat sama sekali seperti rumah sakit. Mungkin semacam ruang kesehatan.

"Puas?" Aswin melihatku.

Dia duduk di samping ranjang dan dengan tatapan angkuhnya.

"Berapa lama aku tidur?" Sepertinya tak lama, hanya menutup mata dan terbuka lagi.

"8 jam 29 menit 25 detik."

Dia melihat jamnya, aku kembali menutup mataku. Aku ingin tidur lagi aku sudah sangat lelah mengurusi berbagai hal. Setidaknya besok aku akan bekerja lagi.

"Kenapa kamu bisa tahu?"

Suaranya menggema ditelingaku.

"Kamu tahu, manusia bumi itu butuh tidur cukup lama. Jika hanya berapa detik kami bisa merasakannya."

Untuk apa tidur beberapa detik dan bangun lagi. Tubuhku dan otakku mungkin bisa bekerja sesuai obat. Namun naluri dan kebiasaan akan tetap bekerja. Harusnya aku sudah tidur nyenyak.

"Hmm... Hanya itu?"

"Kamu ingin mengubahnya? Jangan lakukan biarkan mereka mendapat tidur mereka, mereka juga manusia. Walau aku tidak tahu apa kesalahan mereka, jika kamu tidak memberikan hak mereka sebagai manusia. Mungkin kamu lebih parah dibandingkan mereka."

"Walau mereka membunuh, memperk*s*, mencuri, meneror? Jika mereka melakukannya pada keluargamu, apa yang kamu lakukan?"

"Aku tidak tahu."

Jawabku seadanya.

"Nilai ku PKN tak bagus, sih. Tapi dengan membuat mereka bekerja tanpa henti, itu hanya akan membunuh mereka. Aku juga tak membenarkan perilaku mereka, kesalahan tetap kesalahan apapun bentuknya."

"Ini yang harus kami lakukan supaya mereka jera."

"Kalian membunuh mereka! Hentikan!"

Aswin menatapku, aku tidak mau Berlin akan mengalami sesuatu. Ini terlalu kejam dilakukan. Mereka juga manusia.

"Ini sudah terjadi sangat lama, kamu juga jangan terlalu percaya pada mereka."

"Apapun itu, tak bisakah kalian meringankan? Mereka terus dipaksa bekerja!"

Aswin pergi meninggalkanku, dia berdiri di depan pintu keluar.

"Berlin, dia mencuri obat-obatan menjualnya kembali ke bandar gelap dan menyelundupkan narkoba. Dia tinggal bersama wanita yang kamu lerai waktu itu. Mereka saudara."

Apa?

Aku mencoba berdiri dan mengejarnya, benarkah Berlin begitu. Aku tak peduli lagi, aku harus dapat sesuatu. Ini menyangkut mereka.

"Tunggu, jawab aku!"

"Apa lagi?"

"Berikan aku buktinya!"

Aswin menghembuskan napasnya, dia memperhatikan sekitar dan membawaku ke suatu tempat. Kami berada di ruangannya karena aku dapat melihat namanya di meja. Dia membuka laporan yang cukup banyak dan membawakan sebuah map berisi nama Berlin dan Barlin. Mereka benar bersaudara.

Aku membacanya, Berlin dan Barlin dua bersaudara yang menyelundupkan narkoba dan memperjualkan obat vaksin anak-anak ke pasar gelap. Mereka sudah melakukannya sejak lama dan kemarin mereka baru ditangkap dengan barang bukti di rumah mereka.

Berlin berbohong? Lalu neneknya?

Mereka adalah anak yatim piatu.

"Kenapa kamu degan mudah memberikan laporan ini?" Tanyaku membolak-balik lembar demi lembar.

Fanfare ( END )Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang