[BrotherShip Story]
Alvin, pemuda tanggung itu kini terseret kedalam teknologi buatannya sendiri, "Dimensional Transmission" Disuruh memainkan alur cerita berbeda - beda dan mengubahnya demi menyelamatkan hidupnya.
"Gail? Apa yang terjadi?!!"
"Sep...
Kepalanya menunduk malu, kuping dan pipi nya merona. Entah karena kulit bocah itu yang tipis atau karena udara panas penyebabnya. Tampak begitu patuh, dan pendiam.
Srak.
Mendongak, surai rambutnya diacak pelan. Melihat Renord yang beberapa hari ini menghilang berdiri tepat disampingnya. Membuatnya menatap pemuda itu bingung.
"Lapar?"
"Ti--tidak" kepalanya menggeleng. Diam - diam meruntuki diri sendiri, sungguh memalukan. Perutnya sangat tidak bisa diajak kerja sama. Huh.
Mata onix itu menatapnya, dahinya berkerut ringan. Tampaknya pemuda itu tengah memikirkan sesuatu dan berkata "Hn. Akan kucarikan buah didekat sini" dan berlalu begitu Saja.
Ia tahu, pemuda itu sangat irit berbicara, tapi ia tak menyangka pemuda itu bisa bersikap perhatian padanya.
"Bagaimana keadaan tubuhmu? Adakah yang sakit?" Alvin kembali menoleh, menatap George dan menggeleng pelan. "Aku baik - baik saja" dengan gumaman kecil.
"Baguslah kalau begitu"
"Hem"
suasana kembali hening, membuat Alvin merasa kikuk. Terkadang bocah itu akan melirik kesana - kemari dengan tak nyaman.
"Adakah yang ingin kau katakan?" Tanya George. Pemuda itu jelas ingin Alvin menjelaskan secara detail apa yang terjadi. Jika bukan karena Edward tidak memiliki ingatan, pemuda itu juga tak mau menanyakan hal ini padanya.
"Kenapa kau menanyakan hal itu padanya? Dia baru saja bangun" Licius menatap George tak senang.
"Aku hanya bertanya, jika dia tak mau menjawab aku takkan memaksa"
"Pertanyaanmu tak kenal waktu. Jelas - jelas anak itu pingsan setelah kita datang" Enord ikut menimpali.
George menghela napas panjang. Mendekati Alvin perlahan, berjongkok "Lupakan saja. Oke. Jika kau tak mau menjawab tidak usah jawab pertanyaan ku" dengan nada pelan.
Si kecil yang selalu menunduk kini mengangkat kepalanya, mengangguk kecil. Namun, gerak - geriknya jelas tak nyaman, Bagaimana bisa ia tenang jika saja tatapan Edward yang seakan menembus tubuhnya. Harusnya pemuda itu berterima kasih padanya. Ia sudah menyelamatkannya, dan mengorbankan harga dirinya. Pikirnya kesal. Suasana menjadi canggung.
Karmiel sedikit memahami situasinya, dan mulai berbicara "Kebetulan kalian semua ada disini, aku memiliki info penting untuk disampaikan pada kalian" Seluruh orang kini mengalihkan pandangannya pada pemuda itu. "Cale, bisakah kau bawa Alvin keluar?" Cale cemberut, mencebikkan bibirnya dan berkata "Miel~~ kenapa harus aku? Aku juga ingin mendengarkan" dengan nada keras kepala.
"Kau juga harus membersihkan bajumu. Bajumu penuh dengan darah mutan, Cale" menunduk menghadap bajunya yang kotor, Akhirnya Cale mengangguk dengan berat hati dan menarik Alvin keluar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.