ARC 4 (DT 24)

521 188 6
                                        

DON'T FORGET TO CLICK VOTE BUTTON

🚛

HAPPY READING💛

.
.
.
.
.

ALL PIC BY PINTEREST

Karena tujuan mereka adalah hutan yang berada di wilayah Elementhe, perjalanan menjadi lebih berisiko, perlahan suasana hutan jadi lebih berbeda, kabut menembus udara memerangi jalanan yang hanya diliputi oleh kegelapan.

Yang berbeda kali ini dia dikelilingi oleh orang - orang hebat, membuatnya merasa lebih tenang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Yang berbeda kali ini dia dikelilingi oleh orang - orang hebat, membuatnya merasa lebih tenang. Langit malam sudah gelap dengan bulan yang menggantung tinggi, hanya ada jajaran pohon willow  raksasa sepanjang mata memandang. Namun, tubuhnya berbeda dari yang lainnya karena jarak yang terasa menyiksa membuatnya beberapa kali berhenti untuk beristirahat, ditambah dengan kakinya yang terkilir hal ini membuat perjalanan sering kali terhambat.

Ditengah perjalanan, Alvin tiba - tiba mendesis kesakitan mengangkat kaki celananya untuk memeriksanya sendiri.

"Kau terluka?" Enord menatapnya menyelidik, dan benar saja kakinya sudah memerah dengan luka sayatan. Yang membuat perjalanan lagi dan lagi kembali tertunda.

"Jika kita terus begini, kita tak akan sampai pada tujuan" Leena mencibir pelan.

Alvin menundukkan kepala, merasa bersalah. Ia sadar jika dirinya menghambat perjalanan semua orang "kakak kalian bisa jalan duluan, tak perlu memikirkan aku, aku akan menyusul kalian" bisiknya pelan. Surainya menutupi wajahnya, menyisakan pipi besar dimasing-masing sisi wajah yang menunduk sedih. Seperti penampilan anak kecil yang berbuat salah. Melihat penampilan bersalah ank itu, Renord mengerutkan kening tak suka pada Leena. 

"Kalian bisa duluan, aku yang akan menemaninya" Sahut Renord.

"Cale juga mau menemani Alvin!" Cale mengangkat tangannya antusias. Senyum lebar menghiasi wajah bocah itu.

"Aku juga lelah, beristirahat sebentar sepertinya ide yang bagus" Enord mendudukan dirinya ditanah. Wajah lelahnya tampak dibuat - dibuat. Alvin merasa terharu, menatap semua orang dengan wajah yang hampir menangis.

"Kalian terlalu memanjakannya!"

Melihat punggung gadis yang pergi begitu saja membuat beberapa orang bertanya - tanya "Ada apa dengannya?" Yang dijawab mata kebingungan yang lainnya. Walau ada sedikit konfrontasi singkat, setiap orang tampak tidak perduli, kembali ke sikap masing - masing dan berpencar untuk mengumpulkan ranting - ranting kecil sebagai bahan bakar api unggun.

( TRANSMIGRATION) Dimensional TransmissionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang