Satya melepas jam tangan dan juga kacamatanya dalam gerakan pelan. Melihat gerak-gerik Yumna yang bersiap menggeser tubuh untuk kabur dari tepi ranjang, Satya bergerak lebih cepat hingga berhasil mengurung tubuh Yumna dengan kedua tangannya, membungkuk hingga wajah mereka berada dalam jarak sejengkal. Yumna beringsut mundur. Raut panik sedikit takut melihat tatapan tajam Satya yang menyentuh dagunya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dengan gerakan yang tegas namun diiringi kelembutan terselubung, Satya mengangkat kedua tangan Yumna ke atas kepala, lalu menguncinya dengan satu tangan besar. Sementara tangan kanannya yang bebas kembali mencengkeram lembut dagu Yumna, memaksa perempuan itu mendongak dan menatap langsung ke dalam manik matanya.
Satya mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat itu tepat di telinga Yumna dengan suara serak yang membuat bulu kuduk Yumna meremang.
"Kamu pernah tanya kan, apa yang bisa melanggengkan posisi saya di keluarga Bagaskara selain nikahin kamu?" bisik Satya pelan.
Tatapan Yumna terpaku, tak diijinkan beranjak dari manik hazel laki-laki itu.
"Kamu bahkan sempat nebak kalau saya bakal poligami."
Yumna menahan napas, dadanya bergemuruh hebat mendengar nada suara Satya yang berubah menjadi begitu tenang namun mengintimidasi.
"Biar saya beritahu kamu, Yumna.."
Suaranya melembut tetapi sarat akan kepemilikan mutlak.
"...yang bisa melanggengkan posisi saya sebagai ahli waris utama Bagaskara, adalah anak yang lahir dari rahimmu ini."
Seketika, tangan besar Satya meluncur turun, menelusup masuk ke dalam baju kebaya Yumna, memberikan usapan yang begitu lembut di permukaan perut rata Yumna. Sentuhan hangat itu membuat Yumna terkesiap dan menggigit bibir bawahnya.
Belum sempat Yumna meresapi ucapan mengejutkan itu, Satya mengecup kening Yumna dan turun menuju hidung mungilnya.
Satya menegakkan sedikit tubuhnya, namun tangan kirinya tetap mengunci kedua tangan Yumna di atas kepala. Dengan tatapan mata hazelnya yang dingin, namun sarat akan intensitas yang membakar, Satya menunduk menatap Yumna. Jemari besar itu berpindah dari perut ke bibir ranum Yumna. Memberinya usapan lembut disana.
"Menurut kamu..." suara berat Satya memecah keheningan kamar. "...apa yang akan saya lakukan supaya kamu gak berani lagi mikirin perceraian?"
Mata Yumna bergerak-gerak gelisah. Bola matanya berputar panik, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria di atasnya. Tenggorokannya terasa kering, dan jantungnya berdegup begitu kencang seolah ingin melompat keluar dari dada.
"M-Mas pernah bilang gak akan menggauli aku. Jadi aku pikir, kamu gak akan tertarik sama sekali."
Satya menyelipkan ibu jarinya ke dalam mulut Yumna, menyentuh lembut deretan gigi bawah dan mengusap permukaan bibir bawah istrinya yang lembab. Yumna terkesiap, matanya melebar saat ibu jari itu bergerak melingkar di bibirnya.