🪐 C&B 30

521 23 4
                                        




Setelah puas menggoda gadis yang ada di hadapannya, Djindra segera kembali ke tempat duduknya dan mulai menjalankan mobilnya membelah kemacetan. Mereka berdua duduk berdampingan di dalam mobil. Jarak antara restoran menuju ke hotel Diamond lumayan cukup jauh. Djindra memang sengaja memindahkan lokasi pertemuan mereka salah satu alasannya adalah agar mereka bisa pergi dalam satu mobil.

Sudah dua puluh menit lamanya mereka berada dalam mobil yang sama, tapi tidak ada satupun dari mereka yang memulai berbicara. Aca merasa sangat canggung dengan suasana hening yang tercipta di antara mereka. Mau tidak mau Aca harus memulai pembicaraan terlebih dahulu, karena ia baru saja teringat akan mobilnya.

"hmm... boleh saya bertanya sesuatu. mobil saya bagaimana kenapa belum juga kembali sampai saat ini." tanya Aca yang sedikit takut.

"Kau tidak perlu berbicara formal denganku, bicaralah seperti biasa saja. Dan soal mobilmu itu memang belum selesai, masih berada di bengkel." bohong Djindra.

"hah.. bagaimana bisa masih di bengkel bukankah ini sudah lebih dari satu minggu bahkan mungkin sudah hampir dua Minggu lamanya, kenapa masih belum juga selesai. Bisa beritahukan saya dimana bengkelnya, biar saya saja yang mengambilnya sendiri." tanya Aca heran.

"tidak bisa. Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kerusakan mobilmu itu cukup besar, maka dari itu belum selesai. lagipula kau sendiri yang menyerahkan mobilmu kepadaku supaya aku bertanggungjawab bukan, maka aku sendiri juga yang akan mengambilnya dan mengantarkannya kepada mu. Orang bengkel tidak akan percaya kepadamu kalau kau yang mengambilnya, mereka hanya percaya padaku." ucap Djindra dengan gugup.

Aca yang mendengar itu pun hanya mengangguk dan percaya begitu saja. Aca yang begitu awam tentang mobil dan bengkel sama sekali tidak menaruh curiga sedikitpun. Suasana di dalam mobil pun kembali hening, tidak ada lagi pembicaraan mengenai mobil diantara mereka. Djindra yang merasa canggung karena hanya diam saja, kini gilirannya yang memulai topik pembicaraan diantara mereka berdua.

"apa kau cukup sering mengadakan pameran perhiasan seperti itu."

"ehmm... lumayan cukup sering. Biasanya kami akan mengadakan pameran paling tidak tiga kali dalam setahun. Pada saat awal tahun, pertengahan tahun dan sudah pasti akhir tahun yang akan menjadi penutup dan biasanya akan menjadi season terbesar." jelas Aca apa adanya.

"apa saja yang kalian pamerkan disana.." tanya Djindra yang terus berusaha mengajak Aca bicara dengannya.

"Banyak. Biasanya yang kami pamerkan merupakan koleksi atau desain terbaru yang belum pernah ada di galery kami. Mulai dari set perhiasan sampai dengan jam tangan bertahtakan berlian juga biasanya kami pamerkan."

Djindra mendengar penuturan Aca hanya merespon dengan anggukan kepalanya. Djindra menilai Aca adalah sosok yang berdedikasi tinggi dengan pekerjaannya. Terbukti dengan cara Aca menjawab pertanyaan yang Djindra lemparkan terlihat sangat antusias dan bersemangat.

"lalu berapa orang desainer yang bekerja dalam naungan galery mu itu." tanya Djindra lagi.

"tidak ada, hanya saya. mengapa anda banyak sekali bertanya, apa anda tertarik dengan bidang ini." ucap Aca heran, bukankah dia termasuk sosok laki - laki yang irit bicara.

"tidak tau, ya mungkin saja. walaupun bisnisku sekarang tidak ada yang berkaitan dengan hal itu, tapi siapa tau suatu saat aku tertarik untuk berinvestasi. Karena perkembangan bisnis kedepan kita tidak ada yang tau bukan." ucap Djindra sambil menggendikkan kedua bahunya.

Walau Aca tidak terlalu paham dengan dunia bisnis. Tapi apa yang dikatakan oleh Djindra adalah memang benar adanya perkembangan tren atau bisnis yang bisa mengahasilkan keuntungan besar sangat sulit untuk diprediksi. Berada satu mobil yang sama bersama Djindra ternyata tidak seperti yang Aca bayangkan sebelumya. Aca membayangkan bahwa suasananya akan penuh kecanggungan dan terasa kaku, ternyata berbicara dengan Djindra cukup menyenangkan. Mereka berdua ternyata mempunyai minat topik pembicaraan yang sama.

Mereka berdua pun menghabiskan waktu pejalanan dengan saling berbicara tentang topik yang ringan. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, tak terasa perjalanan panjang selama hampir dua jam itu sudah berakhir. Mereka sudah sampai di hotel Diamond milik Djindra. Setelah membukakan pintu untuk Aca, mereka pun segera melangkah ke ruang kerja Djindra yang berada di Hotel tersebut.

***

Saat akan memasuki sebuah kamar yang berada di lantai paling atas sendiri, ada sebuah keraguan dalam diri Aca. Karena ini pengalaman kali pertama Aca memasuki sebuah kamar hotel bersama seorang pria, walau tujuan sebenarnya adalah ruang kerja yang ada di dalam sana tetap saja membuat Aca takut. Aca sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu masuk, ia terus memikirkan apakah yang Aca lakukan saat ini benar atau salah. Bagaimana jika ada orang lain yang melihatnya memasuki sebuah kamar hotel bahkan dengan dua orang pria sekaligus, pasti akan banyak yang menilainya buruk.

Saat Aca tengah merenung dengan berbagai pemikirannya, Djindra yang melihat Aca berhenti di ambang pintu pun datang menghampirinya. Hal itu juga dilihat oleh Mike sang manajer hotel yang menyusul kedatangan bos dan tamunya itu, melihat ada orang yang berhenti diambang pintu Mike pun ikut berhenti dan sedikit memundurkan posisinya.

"ada apa.. kenapa berhenti dan kenapa tidak jadi masuk. ayo segeralah masuk." ucap Djindra yang berhasil membuyarkan lamuanan Aca.

"ehmm.. apa tidak sebaiknya kita menandatangani dokumennya di tempat lain, ruang meeting mungkin yang penting tidak di dalam sini." ucap Aca ragu-ragu.

"memangnya kenapa kalau di dalam sini, ruangan kerjaku berada di dalam kamar ini. apa yang kau takutkan, apa kau sedang berpikir yang tidak - tidak tentang diriku."

"bukan.. bukan begitu. saya hanya takut nanti kalau sampai ada orang yang melihat saya masuk ke kamar ini bersama anda, mereka akan berpikir yang macam - macam tentang kita berdua terutama saya." jelas Aca.

"kau tenang saja.. seluruh lantai ini tidak ada kamar tamu atau yang lain hanya ada kamar ini saja. jadi tidak akan ada yang melihatmu atau bahkan sampai berpikir yang tidak - tidak tentang dirimu." kekeh Djindra.

Mike yang mendengar pembicaraan antara Aca dengan Djindra hanya tersenyum kecil. Ia sedikit heran di jaman sekarang masih ada gadis polos seperti Aca, yang sangat mengkhawatirkan pandangan orang lain terhadap dirinya.

"Ayo cepat masuk." Aca pun segera mengikuti langkah Djindra memasuki kamar menuju ruang kerjanya.

Saat berada di dalam Aca sangat terkejut dengan pemandangan yang sedang ia lihat. Kamar yang saat ini yang tengah ia masuki bukanlah kamar biasa seperti pada umumnya. Melainkan adalah sebuah penthouse yang sangat luas, bahkan di dalamnya terdapat ruang tamu dan meja bilyard. Pantas saja tadi Djindra mengatakan tidak akan ada yang melihat Aca di lantai itu, karena satu lantai itu di jadikan sebuah penthouse oleh sang pemilik hotel.

Kini Aca dan Djindra tengah menandatangani dokumen kerja sama diantara mereka. Bahkan Djindra juga menjadi salah satu sponsor utama dalam acara pameran itu. Inilah yang Aca tawarkan kepada Djindra di restoran tadi, Aca tidak hanya sekedar menyewa ballroom hotel ini melainkan juga menjadikannya sebagai salah satu sponsor mereka. Dengan begitu kedua belah pihak akan merasa di untungkan satu sama lainnya.

Saat Aca ingin berpamitan pulang, Djindra melarang dan menahannya untuk tetap disana. Mengingat waktu yang sudah menunjukkan petang hari, Djindra ingin mengajak Aca untuk makan malam bersama terlebih dahulu. Sebenarnya Aca tidak ingin menerimanya, namun Aca juga merasa tidak enak kalau harus menolak tawaran itu.

Aca dan Djindra saat ini tengah menikmati makan malam mereka berdua di restoran yang terdapat di rooftop. Suasana canggung kembali menerpa keduanya, bagaimana tidak merasa canggung disana hanya ada mereka berdua tanpa ada orang lain. Ditemani cahaya lampu yang terkesan redup membuat suasana di sekeliling mereka terasa begitu hangat dan romantis. Aca sempat berpikir makan malam apa ini sebenarnya, kenapa mereka berdua terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan dan melakukan dinner romantis.

"Dimana keberadaan tuan rumahnya ini..."

******

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang