"Selamat siang tuan Djindra. Bisa kita bicara sebentar?" Sapa seorang pria muda begitu masuk ke ruangan Djindra.
Pria itu tidak lain adalah Daniel Wang. Daniel yang sama dengan yang pernah bekerja sama dengan Aca, dan Daniel yang sama juga adalah adik dari Jackson Wang.
"Untuk apa kau datang kemari? Aku rasa kita tidak terlibat kerjasama bisnis apapun bukan."
Daniel tidak merespon itu, ia justru langsung duduk tepat di hadapan Djindra. Membuka kancing jasnya dan menatap santai ke arah lawan bicaranya.
"Kita memang tidak berbisnis apapun tuan Djindra. Tapi kedatangan saya kesini, saya rasa akan sangat anda butuhkan. Dan anda akan berterima kasih kepada saya." Senyum remeh Daniel terus terpancar sejak dia tiba.
"Apa maksudmu?"
"Saya dengar dua hari yang lalu anda mendatangi kakak saya di kantornya. Benar? Kenapa anda datang kesana? Bukankah kalian saling bermusuhan?" Daniel terus bicara tanpa menyentuh inti dari kedatangannya.
"Tidak perlu bertele-tele tuan Daniel. Saya harap anda bisa langsung ke poin utamanya. Karena kami tidak punya banyak waktu jika hanya untuk omong kosong." James merasa kesabarannya sudah menyentuh titik batasnya, karena terus melihat Daniel bertingkah angkuh.
Daniel sesaat melirik James, ia melihat pria itu dari atas sampai bawah. Jelas Daniel tidak akan memperdulikan keberadaan James yang hanya seorang asisten.
"Katakan intinya, untuk apa kau kemari. Sebelum kesabaranku habis dan mengu-"
"Anda mencari keberadaan Aca, istri anda bukan?" Sela Daniel dengan cepat. "Kalau saya bisa memberitahu dimana keberadaannya, imbalan apa yang akan saya dapat?"
Mendengar nama istrinya jelas membuat Djindra terkejut. Bagaimana bisa Daniel tahu kalau Aca hilang? Apa dari kakaknya? Tapi apapun itu, yang terpenting ada informasi tentang Aca.
"Kalau kau memang tahu dimana keberadaan istriku. Apapun akan aku berikan."
"Termasuk jika saya meminta Aca sendiri sebagai imbalannya?"
Brak!!
Djindra memukul meja dengan keras, ia tidak terima dengan perkataan Daniel. Apa maksudnya meminta Aca sebagai imbalan?
"Brengsek!! Kau mau bermain-main denganku rupanya. Apa kau tidak tahu siapa aku, hah?!" Cengkraman tangan Djindra pada kemeja Daniel cukup memperlihatkan bagaimana tersinggung nya pria itu.
Tapi Daniel tidak gentar, dia tetap tersenyum remeh ke arah Djindra. "Saya tahu persis siapa anda. Oleh karenanya, menurut saya anda tidak pantas untuk Aca."
James mencoba memisahkan Djindra dengan Daniel, agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Tuan Daniel sebaiknya anda menjaga ucapan. Pantaskah seorang pria seperti anda meminta seorang wanita yang sudah berstatus sebagai istri, bahkan kepada suaminya sendiri?!"
"Saya tidak peduli, karena itu kenyataannya." Lepas dari jeratan Djindra, dengan santai Daniel merapikan bajunya. "Dan untuk anda tuan Djindra. Jika memang keselamatan Aca penting untuk anda, pastinya anda tidak menolak penawaran saya. Anda bisa menemui saya petang nanti di cafe ujung jalan, agar bisa menyelamatkan Aca. Ingat waktu kita tidak banyak."
Daniel melangkah pergi dari kantor Djindra, namun sesaat dia berhenti dan memutar badannya kembali. Sepertinya pria itu terlihat ingat akan sesuatu. "Ah.. satu lagi tuan Djindra. Coba anda ingat-ingat, terakhir kali anda berkonflik dengan siapa. Bisa jadi dia adalah musuh yang datang dari masa lalu."
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
Roman d'amourTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
