"kau ingin tau. Karena ponselku jauh lebih berharga di banding dengan harga dirimu." ucap Djindra dengan nada bicara yang datar dan sedingin mungkin.
Irrish yang mendengar ucapan itu terlihat sangat kesal dan marah. bagaimana tidak baru kali ini ia tidak dianggap keberadaannya oleh seorang laki-laki. Bahkan memandang kepada dirinya sekalipun tidak. Ia terus saja menatap ke arah Djindra, Irrish merasa tidak terima karena telah diperlakukan seperti ini.
"Sebaiknya nona pergi dari sini, kami tidak ada yang mengundang nona untuk datang kemari. Lagi pula kita tidak saling mengenal nona, lantas apa yang membuat nona berani untuk duduk di meja kami." Ucap Joenathan yang sudah sedari tadi tidak suka ketika melihat kedatangan wanita yang ada di hadapannya ini.
Irrish sontak melihat tajam ke arah Joenathan, ia bertambah kesal ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut laki-laki itu.
"Itu benar nona, sebelum terjadi sesuatu padamu lebih baik kau tinggalkan meja kami." Ucap Nickholas menambahkan.
Irrish pun berdiri lalu pergi dari meja itu dengan perasaan penuh amarah. Ia tidak terima di perlakukan seperti ini. Irrish benar-benar benci kepada ke empat laki-laki itu terutama kepada Djindra.
"Lihat saja akan aku balas perbuatan kalian semua padaku. Terutama kau, kau harus menjadi milikku agar aku puas membalas rasa sakit ku." Ucap Irrish ketika sudah menjauh dari meja empat pria itu.
"Sebenarnya dia itu siapa kak, kenapa dengan beraninya ia datang kemeja kita " tanya Jerry yang masih penasaran dengan sosok wanita bernama Irrish tadi.
"Bukan siapa-siapa kami hanya tidak sengaja bertemu kemarin di restoran. Aku juga tidak tau apa yang membuatnya seberani itu." Kali ini yang menjawab adalah Joenathan, sedangkan Djindra ia sama sekali tidak bergeming sedikitpun.
"Aku rasa wanita itu sudah tertarik pada kak J, hingga dia berani berbuat seperti itu." Ucap Nickholas yang juga heran, padahal meja mereka juga di jaga oleh para bodyguard, tapi wanita itu tetap saja nekat.
"Aku tidak tertarik dengan barang rongsokan seperti itu." Saut Djindra.
Mendengar kalimat sadis yang keluar dari mulut Djindra,sontak membuat ketiga orang lainnya yang ada di sana hanya menggelengkan kepalanya dengan heran. Mereka pun kembali menikmati malam mereka dengan minum - minum sampai puas, kali ini sudah tidak ada yang berani mengganggu mereka. Mereka menikmati suasana yang sudah lama tidak mereka nikmati bersama.
***
Sinar mentari pun datang memasuki sebuah mansion yang terbilang cukup mewah itu. Pagi ini mansion Nickholas semakin ramai dengan kedatangan Jerry. Ya semalam setelah mereka berempat menghabiskan waktu dengan berpesta, Jerry memutuskan untuk tidur di mansion Nickholas juga.
Saat ini mereka berempat tengah menikmati sarapan pagi bersama. Semua terlihat sangat menikmati makanan masing - masing, hingga suara dari Djindra memecahkan suasana.
"Jerr.. apa kau tidak ada keinginan untuk membantu papamu di perusahaannya. Apa kau tidak kasian dengan orang tua mu itu."
"Kenapa kak J bertanya seperti itu, ada apa tumben sekali." Jawab Jerry yang sejenak menghentikan makannya dan melihat ke arah Djindra.
"Tidak ada. Aku hanya kasian dengan om Mark dan kak Sherly. Terutama kak Sherly dia sudah menikah tapi masih harus di repotkan mengurusi perusahaan. Lagi pula sampai kapan kau mau terus seperti ini." Ucap Djindra yang berusaha menyadarkan sahabatnya itu.
Jerry yang mendengar itu merasa tidak suka, karena ia merasa di tekan dan di campuri urusannya. Joenathan dan Nickholas yang mendengar ucapan Djindra kepada Jerry tidak berani ikut campur, karena itu merupakan urusan pribadi dari Jerry. Tapi mereka berdua juga tidak menampik apa yang di katakan Djindra memang benar adanya, selama ini om Mark selalu meminta kepada Jerry untuk membantunya di perusahaan namun Jerry bersikeras menolaknya.
Jerry menolak karena ia tidak ingin hidupnya penuh dengan aturan dan tekanan ia masih ingin bebas, lagipula Jerry berpikir sudah ada Sherly kakaknya dan Choky sang kakak ipar yang sudah membantu papanya. Jadi Jerry merasa tenaga dia sudah tidak di butuhkan lagi.
"Aku tau kau pasti akan tersinggung dengan ucapanku. Tapi aku berkata demikian itu untuk kebaikanmu juga Jerry. Aku tidak ingin kau terus saja membuang-buang waktumu dengan percuma. Kau itu laki-laki kelak kau juga akan punya pasangan, lalu akan kau beri makan apa pasanganmu nanti, walau kau berasal dari keluarga kaya raya tapi itu bukan uangmu itu kekayaan orang tuamu." Jelas Djindra panjang lebar.
"Kak J berkata seperti itu, padahal dirinya sendiri juga belum menikah sampai sekarang." Tutur Jerry dengan lirih.
Joenathan dan Nickholas yang mendengar keluhan dari Jerry hanya menahan tawa mereka sebisa mungkin.
"Kau bicara apa Jerry.."
"Ah.. tidak aku tidak bicara apa-apa kak."
"Begini saja kalau memang kau tidak ingin membantu papamu, maka bantulah aku. Bantulah aku untuk mengelola cabang perusahaanku yang sebentar lagi akan aku buka di negara asalmu. Dengan begitu kau juga bisa mengawasi perusahaan orang tua mu itu." Ucap Djindra yang sejak semalam sudah memutuskan untuk mengajak Jerry membantu mengelola perusahaannya.
"Aku beri waktu kau untuk berpikir sampai selesainya acara pernikahan Yuda. Setelah itu kau harus putuskan mau menerima atau menolaknya." Ucap Djindra menambahkan. Lalu Djindra beranjak pergi dari ruang makan itu.
"Saran ku lebih baik kau terima tawaran dari kak J,, kalau memang kau tidak mau membantu papamu dan menyerahkan perusahaan itu kepada kakakmu. Lebih baik kau membantu mengawasinya dari jauh, bagaimanapun juga mereka masih keluargamu Jerry. Aku harap kau pertimbangkan matang-matang sebelum mengambil keputusan." Ucap Joenathan yang ikut memberikan saran pada sahabatnya itu.
Apa yang dikatakan oleh sahabat - sahabatnya itu memang benar adanya. Di usia Jerry yang cukup matang harusnya ia sudah mulai berpikir tentang masa depannya kedepan mau seperti apa. Kalau di pikir lebih jauh lagi tawaran Djindra sedikit banyak menguntungkan untuk Jerry. Ia tidak akan terlalu banyak di tuntut oleh keinginan sang papa, daripada ia harus bekerja di perusahaan keluarganya. Lagi pula Jerry sudah sangat hafal betul sistem dan pola Djindra ketika bekerja seperti apa, ia rasa tidak akan mengalami banyak kesulitan nanti.
Contohnya seperti Joenathan dan Nickholas yang sudah sangat di percaya oleh Djindra, bahkan mereka di kenal khalayak ramai sebagai pemilik perusahaan, walau nyatanya bukan mereka lah pemilik sebenarnya. Jerry akhirnya mengambil keputusan untuk mempertimbangkan tawaran dari Djindra.
***
Saat Djindra dalam perjalanan menuju kantornya, di dalam mobil dia menerima pesan dari Tian yang membuatnya merasa jengah.
TING
Tian
{Kak J,, aku dengar mami Tiwi dan papi Dharma berniat ingin menjodohkan mu kembali kak. Beberapa hari yang lalu mereka mengadakan pertemuan keluarga di restoran milik kak Djoena. }
Membaca pesan itu membuat mood Djindra rusak seketika. Sampai kapan orang tuanya itu terus berusaha menjodohkannya, apa mereka tidak lelah karena terus saja di tolak. Kali ini dengan keluarga mana ia akan di jodohkan. Djindra yang terus saja di jodohkan sudah merasa lelah dan bosan, tapi itu berbanding terbalik dengan keinginan keluarganya untuk segera menikah.
{Segera cari tau siapa gadisnya dan berasal dari keluarga mana yang akan di jodohkan denganku}
TING
Tian
{Sudah kak J, tanpa kau suruh sudah aku lakukan karena aku yakin kau pasti akan memintanya seperti itu. Tapi sepertinya kali ini berbeda kak, kali ini sulit sekali mencari informasi siapa calon yang akan di jodohkan denganmu. Aku rasa dia datang bukan dari keluarga biasa, sepertinya berasal dari keluarga yang penting dan mempunyai pengaruh yang besar}
Djindra berpikir keras dengan siapa orang tuanya menjodohkannya kali ini. Keluarga orang penting dan setara pengaruhnya seperti mereka hanya keluarga Wijaya. Tapi setahu Djindra mereka tidak mempunyai anak perempuan, mereka hanya memiliki dua anak laki-laki itupun sudah menikah semua.
TING
{Kak J aku ada informasi penting untukmu}.
*********
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
