Resort yang di bangun Djindra dengan para sahabatnya sudah dua hari ini terlihat ramai. Itu tidak lepas dari kedatangan sang pemilik yang menghabiskan long weekend mereka disana. Bukan hanya Djindra dan Aca melainkan sahabat-sahabat mereka juga dengan pasangan masing-masing berada disana, bahkan Rey dan Vale juga ikut datang.
Dua hari di awal minggu yang kebetulan berwarna merah, sengaja di manfaatkan oleh Djindra untuk mengumpulkan sahabat-sahabatnya yang sangat sulit dilakukan jika pada hari sibuk. Djindra memboyong semuanya kesana termasuk asisten dirinya dan juga sang istri. Ini ia lakukan tidak lain untuk membantu merelakskan pikiran sebelum menghadapi kerasnya pekerjaan yang ada di depan mata.
Dan seperti biasa saat berada di resort dan malam telah tiba, suasana tepi pantai tidak akan pernah sepi dan sunyi. Sejak dua hari yang lalu pesta kecil berbalut makan malam di tepi pantai menambah riuh suara ombak yang bergulung secara bergantian.
Seperti yang terjadi saat ini, para pria sudah duduk bersama di tepi pantai. Mereka berbicara ringan sambil menunggu pesta barbeque siap. Sementara para wanita sibuk menyiapkan makan malam untuk pesta barbeque itu. Karena jumlah personil yang lebih dari cukup, mereka memilih untuk menyiapkan sendiri tanpa bantuan chef atau yang lainnya.
"J.. sekali lagi aku bertanya kepadamu. Apa kau yakin tetap menjalankan kerja sama ini?" Ujar Gio yang masih belum tenang sejak pembahasan terakhir mereka.
"Benar.. apa yang di katakan kak Gio, kak J. Apalagi kita sama-sama tahu lebih jelas tentang status wanita itu apa. Aku juga takut kalau proyek ini hanya di jadikan topeng olehnya." Joenathan pun mencoba menambahkan pendapatnya.
Melihat situasi pembicaraan sedikit mengarah serius, Rey pun menjadi tertarik. Rasa penasaran dan ingin tahunya muncul dengan begitu menggebu, tentang topik apa yang tengah di bahas orang di sekitarnya ini.
"Tunggu dulu.. sebenarnya kalian sedang membahas apa? Proyek? Apa telah terjadi masalah pada proyek kalian atau proyek milikmu J?"
Menyadari Rey adalah orang satu-satunya yang tidak tahu tentang topik yang sedang di bahas, maka Leo berinisiatif untuk menceritakannya. Leo tidak merasa sungkan kalau menceritakan tentang hal yang berkaitan dengan Djindra kepada Rey, siapa tahu justru pria itu punya solusi terbaik. Bahkan Leo pun yakin Djindra juga tidak akan keberatan.
"Jadi patner bisnismu saat ini adalah mantan kekasihmu dulu, begitu J?" Rey bertanya dengan nada sedikit tidak yakin. "Apa kau tidak memeriksanya terlebih dahulu sebelum memulai kerja sama?"
Melihat hampir seluruh sahabatnya memasang wajah was-was atas kerja sama dengan perusahaan AA Forwad yang baru saja terjalin, Djindra justru merasa lucu. Kenapa semua sahabatnya ini menjadi khawatir tidak jelas, seolah mereka lupa siapa seorang Djindra.
"J.. kenapa kau diam-diam tersenyum hah?" Yuda pun ikut heran dengan sikap sepupunya ini. "Kenapa aku merasa kau justru semakin santai, setelah tahu tentang status wanita itu?"
Djindra tidak langsung menjawab pertanyaan, dia justru dengan tenang memilih menenggak wiski yang ada di dalam gelasnya.
"Sebenarnya apa yang kalian pikirkan dan takutkan, hah? Apa kalian takut aku rugi atau apa?" senyum sinis terukir pada wajah Djindra, seolah ia tidak takut akan hal itu. "Asal kalian semua tahu. Aku belum memulai proyek saja sudah mendapatkan keuntungan besar. Bagaimana jika sudah berjalan? Bisa kalian bayangkan keuntungan yang aku dapatkan?"
Keuntungan? Jelas kata-kata yang meluncur ringan dari mulut Djindra semakin membuat kebingungan semua orang yang berada disana. Bahkan kedua asistennya James dan Tian juga ikut bingung di buatnya. Bagaimana bisa mendapatkan keuntungan sementara proyek saja belum mulai di jalankan?
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
