Dengan langkah tegas dan wajah yang sepenuhnya serius Djindra melangkahkan kakinya memasuki sebuah gedung perkantoran. Gedung yang di datangi oleh Djindra bukanlah kantor dari perusahaannya sendiri, melainkan milik orang lain. Bahkan mungkin bisa di katakan seharusnya Djindra tidak pernah dan menghindari untuk datang kesana. Namun keadaan yang memaksanya untuk datang.
"Kak J.. kau yakin untuk menemuinya?" Tian yang setia mengikuti Djindra, sedikit tidak yakin dengan apa yang bosnya lakukan saat ini. "Kak.. ini sama saja kita menantang musuh kak."
"Apa kau punya solusi lain?" Djindra menatap Tian dengan datar, mereka saat ini berada di dalam lift menuju lantai yang mereka tuju. "Kalau kau takut dengan langkah yang aku ambil, kau bisa pergi meninggalkan aku. Tapi yang jelas aku harus segera menemukan istriku, bagaimanapun caranya akan aku hadapi."
Bukannya Tian takut dengan langkah yang Djindra ambil. Tapi justru karena Tian tahu resiko apa yang akan mereka hadapi nantinya makanya ia merasa sedikit khawatir. Dari awal masuk lobby saja mereka sudah di halangi, karena banyak yang tidak menyangka dengan kedatangan mereka.
Sesampainya mereka di lantai yang di tuju, lagi-lagi mereka di hadang oleh sekretaris dan asisten dari orang yang akan mereka temui. Mungkin orang-orang di lantai 20 ini sudah mendapatkan pemberitahuan dari rekan mereka yang berada di lantai dasar.
"Maaf tuan anda dilarang masuk." ucap seorang pria yang mungkin berstatus sebagai asisten.
"Menyingkir!! atau aku habisi kalian semua?!" gertak Djindra, namun tidak ada satupun orang yang menyingkir dari hadapan Djindra. "Tian!!" Tian yang paham pun segera mengacungkan pistolnya ke arah semua orang yang ada di hadapan mereka.
Melihat ada senjata, tentu saja membuat semua orang ketakutan. Mau tidak mau mereka pun menyingkir dan memberikan jalan kepada Djindra dan Tian.
Brak!!
Suara pintu dari sebuah ruangan yang bertuliskan CEO di buka secara paksa dan menghasilkan suara yang memekik ke seluruh penjuru lantai. Dan sudah pasti orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi terkejut.
"Wow.. sebuah kejutan yang luar biasa, kantorku bisa kedatangan seorang Djindra Wiratama." sarkas Jackson begitu melihat kedatangan Djindra.
Ya memang suatu kejadian yang luar biasa Djindra bisa mendatangi Jackson, yang tidak lain adalah musuh bebuyutannya.
"Ada apa J? apa kau ingin memberiku hadiah dengan datang langsung kemari?" Jackson bertanya dengan nada yang begitu santai, sama sekali tidak terlihat ketakutan di wajahnya.
Djindra menatap dingin Jackson yang juga mantan sahabatnya dulu. "Kalau yang kau maksud 'hadiah' adalah pengunduran diriku dari Black Tiger dan menyerahkannya kepadamu. Maka itu hanya akan terjadi dalam mimpimu saja." Jackson hanya menanggapi ucapan Djindra dengan senyuman sinis di wajahnya.
"Tapi sebaliknya. Aku akan mulai dengan baik-baik denganmu. Katakan dimana istriku? Kembalikan dia, kalau memang kau yang menyembunyikannya."
Seketika tawa Jackson menggema di ruangannya. Pria itu mungkin merasa sangat lucu begitu mendengar ucapan Djindra.
"Hahaha.. lucu, sangat lucu. Apa seorang Djindra telah kehilangan kekuasaannya sampai harus mencari istrinya disini?" Jackson pun bangun dari tempat duduknya dan mulai mendekati Djindra. "Apa yang terjadi J? Apa istrimu di culik? atau lagi-lagi kau di tinggalkan dengan pria lain seperti dulu?"
Ucapan itu berhasil menyulut emosi Djindra. Tanpa basa-basi ia langsung menarik kerah baju dari Jackson.
"Brengsek! jaga mulutmu. Jangan memancing kesabaranku Jack. Kalau memang bukan kau yang menyembunyikannya, aku akan pergi. Tapi jika aku menemukan satu bukti saja tentang keterlibatanmu atau orang-orang di sekitarmu. Maka kau siap-siaplah menerima pembalasanku. Ingat itu!" hempasan dari Djindra menambah ketegasan dari apa yang dia ucapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
