Hari ini Aca akan keluar dari rumah orang tuanya dengan dandanan yang cukup rapi, bukan menuju ke galeri miliknya melainkan untuk menemui seseorang. Ia terpaksa berangkat seperti ia bekerja agar tidak ada orang curiga dan bertanya kepadanya, karena Aca malas untuk menjawab semua itu.
Aca memang masih tinggal di rumah orang tuanya karena keinginannya. Sebenarnya dari tiga hari lalu saat makan siang dengan suaminya, Djindra sudah mengajaknya untuk pulang namun dengan tegas Aca menolak. Bahkan mereka berdua sempat berdebat karena keinginan masing-masing.
Setelah berdebat cukup sengit dengan sang suami. Pada akhirnya Djindra mengalah, namun tetap dengan sebuah syarat darinya. Syaratnya adalah mereka berdua harus selalu makan siang bersama, tidak peduli seperti appaun sibuknya mereka. Mau tidak mau Aca pun setuju demi semua keinginannya bisa disetujui, termasuk keinginannya untuk mengendarai mobil sendiri.
Tepat pukul 10 pagi Aca sudah berada di dalam cafe tempatnya membuat janji. Namun orang yang akan bertemu dengannya belum juga datang, sehingga ia harus sedikit menunggu lagi. Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya orang yang Aca tunggu datang juga.
"Hai.. Ca, maaf ya aku datang terlambat. Apa kamu sudah menunggu lama?"
"Oh.. kak Daniel, silahkan duduk kak."
Dan ya orang yang Aca temui adalah Daniel Wang, mantan rekan kerjanya. Entah ada tujuan apa Aca bertemu dengan Daniel. Mungkinkah ada hubungannya dengan pertemuan terakhir mereka?
"Sekali lagi maaf ya.. aku tadi terpaksa harus ke kantor sebentar, karena ada dokumen penting yang harus di tandatangani."
"Tidak masalah kak, kebetulan memang aku langsung kemari dari rumah. Jadi santai saja.. Apa kak Daniel tidak mau memesan minuman atau makanan terlebih dahulu? Agar kita bicara nanti jauh lebih nyaman."
Daniel pun mengangguk setuju, ia pun langsung berdiri kembali dan berjalan menuju ke kasir. Pria itu harus melakukan hal itu, karena cafe ini seperti Coffee shop yang apabila ingin memesan sesuatu pelanggan harus datang sendiri bukan pelayan yang datang ke setiap meja.
"So.. Ca, apa yang ingin kamu bicarakan? Hingga kamu harus memanggilku datang kemari." Daniel telah kembali ke meja yang di tempati Aca, dia pun langsung bicara to the poin.
"Ehmm.. sebelumnya aku minta maaf kalau sudah menyita waktu di tengah kesibukan kak Daniel. Tapi ini sangat mendesak dan penting untukku." Daniel menatap Aca dengan seksama sambil berusaha menebak apa yang akan wanita itu bicarakan.
"Sebenarnya ini terkait dengan pembicaraan terakhir kita tempo hari. Apa maksud dari perkataan kak Daniel tentang aku yang belum mengetahui semuanya tentang suamiku? Dan tentang apa yang bisa atau yang akan mengincarku? Tolong jelaskan semua itu kak."
Daniel tidak langsung menjawab semua itu, ia justru mengamati raut wajah Aca yang terlihat sedikit cemas. Mungkin Aca takut kecewa nanti jika ia mendapati kenyataan tentang suaminya, apalagi jika itu kenyataan yang buruk.
"Sebelum aku menjawabnya, kamu harus lebih dahulu menjawab pertanyaanku. Apa kamu sudah menanyakan itu semua langsung kepada suamimu? Dan jika nanti kenyataan yang aku ucapkan tidak sesuai dengan harapanmu, apa ada kemungkinan kamu pergi meninggalkan dia?"
Aca terdiam seketika, ia bingung harus menjawab apa. Sejujurnya ia bertanya demikian karena rasa penasaran dalam dirinya yang sudah semakin besar. Dan tentang kenapa dia tidak bertanya langsung kepada suaminya? Sebenarnya Aca tidak cukup memiliki keberanian untuk melakukan hal itu, ia juga takut kalau sang suami tidak jujur kepadanya.
Sementara Daniel yang melihat keraguan dalam diri wanita yang ada di hadapannya ini, membuat dirinya tersenyum kecut. Daniel semakin yakin apapun yang akan ia katakan nanti tidak akan berdampak banyak, dan kesempatannya untuk memiliki Aca dengan cara baik-baik tetap saja kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
