Setelah genap dua minggu beristirahat untuk pemulihan pasca mengalami kecelakaan dan operasi. Kini Aca berencana memulai aktivitasnya kembali per hari ini. Sejak pagi ia sudah bersiap untuk datang bekerja kembali di galeri miliknya.
Saat Aca mulai menuruni tangga untuk menuju ruang makan, semua pandangan penghuni rumah itu seketika tertuju kepadanya. Sebenarnya mereka tidak begitu kaget saat melihat penampilan Aca yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya pagi ini, sebab semalam ia sudah mengatakan niatnya untuk kembali bekerja.
"Kamu yakin akan kembali bekerja sayang?" Tanya nyonya Anita kepada putri bungsunya yang sudah duduk di meja makan.
"Yakin bun.. kalau Aca gak kerja, darimana Aca bisa mendapatkan uang."
"Aca!" Shakti menegur ucapan adiknya.
Shakti tidak habis pikir dengan ucapan adiknya, bagaimana Aca bisa bicara seperti itu. Sedangkan Aca sendiri berasal dari keluarga pebisnis yang terbilang cukup sukses di negeri ini.
Bahkan status Aca sendiri adalah seorang istri dari pimpinan perusahaan terbesar nomer satu di Asia. Tanpa bekerja sekalipun ia tidak akan pernah kehabisan uang.
"Apa kau tidak berpikir terlebih dahulu sebelum berkata seperti itu? Bagaimana bisa kau..-" Ucapan Shakti dihentikan Grace, karena istrinya itu tidak mau terjadi keributan pada pagi hari.
Sementara Aca hanya diam karena tidak ingin menanggapi apapun dan dia lebih memilih untuk segera sarapan.
Di saat keluarga Wijaya sedang menikmati sarapan pagi mereka, dari arah depan terdengar derap langkah seseorang memasuki ruang makan itu. Saat Aca melihat kedatangan orang tersebut, ia menyambutnya dengan tatapan malas dan tidak senang. Sebab Aca tahu dengan jelas apa tujuan kedatangan orang itu, karena yang datang adalah Tommy.
"Selamat pagi semuanya.. maaf kalau saya menganggu."
"Oh.. selamat pagi juga Tom. Kau sudah sarapan? ayo kita sarapan bersama-sama."
Kedatangan Tommy ke rumah itu bukan tanpa sepengetahuan Shakti, karena justru itu berawal dari inisiatifnya. Ketika semalam Aca mengungkapkan keinginannya untuk bekerja kembali, Shakti berinisiatif menghubungi Djindra dan memberitahukan tentang hal itu. Jadi bisa di pastikan keberadaan Tommy atas perintah dari Djindra.
Tapi saat Tommy akan mengambil tempat duduk di sudut meja makan, Aca justru berdiri dari tempat duduknya. Gerakan Aca seolah memberikan isyarat bahwa ia sudah selsai dan akan bersiap untuk pergi. Tommy yang melihat itu pun mengurungkan niat awalnya untuk duduk dan segera mengikuti Aca pergi.
Aca yang merasa kesal karena langkahnya di ikuti, tepat di halaman menuju garasi ia berhenti. Ia kemudian berbalik menghampiri Tommy yang juga ikut berhenti.
"Dengar ya Tom.. mulai sekarang saya tidak perlu kamu antar lagi, karena saya bisa pergi kemanapun sendiri. Jadi saya katakan baik-baik sama kamu, berhenti bertingkah seolah-olah kamu adalah pengawal pribadi saya. Karena saya tidak membutuhkan itu." Walau tidak dengan nada marah, tapi setiap kata Aca ucapkan dengan tegas.
"Tapi kak.. sebelumnya kemanapun kak Aca pergi selalu aku yang antarkan. Dan ini juga sudah perintah dari kak Djindra."
"Kalau begitu bilang sama bos kamu itu. Berhenti untuk melakukan hal itu."
Aca segera berbalik pergi menuju mobil yang sudah di siapkan oleh supir pribadi kakak tertuanya. Ia mengendarai mobil itu sendiri menuju galeri miliknya.
Tommy yang melihat kepergian Aca, segera berlari ke arah mobil untuk secepatnya menyusul. Walau secara terang-terangan di tolak, tapi ia tidak boleh menyerah begitu saja dengan tugasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
