🪐 C&B 72

572 34 13
                                        




"Djin.."

"Mi.. kita sudah bahas ini sejak kemarin, bukan. Keputusan kami tetap sama, bahwa setelah menikah kami berdua akan hidup mandiri. Memang benar saat ini kami belum ada rumah, karena kebetulan kami berdua ingin membangun serta menentukan desainnya sendiri. Jadi untuk sementara waktu kami akan tinggal di apartemen terlebih dahulu, dan mulai sore nanti kami akan pindah."

Nyonya Tiwi masih saja terus merengek kepada sang putra tentang keputusan yang diambil. Djindra dan Aca memutuskan untuk tinggal terpisah atau hidup mandiri dari orang tua mereka.

Dan keputusan itu tidak disambut dengan baik, terutama oleh nyonya Tiwi. Wanita paruh baya itu merasa anaknya sengaja memisahkan dirinya dengan menantu barunya.

"Paling tidak tinggallah dirumah ini selama satu minggu dulu, bahkan satu bulan kalau perlu. Kenapa kamu ini terkesan sangat buru-buru sekali Djin."

"Mi.. bahkan kami sudah tinggal disini lebih dari dua hari, sedangkan di keluarga Aca hanya sehari. Itu pun masih kurang bagi mami."

"Sudahlah mi, biarkan mereka mandiri sesuai keinginannya. Mereka sudah dewasa dan juga sudah berkeluarga, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan saja bukan."

Tuan Dharma harus menengahi perdebatan antara ibu dan anak di saat sarapan pagi itu. Pagi hari bukannya di suguhi sesuatu yang menyegarkan agar pikiran fresh, justru dihadapkan dengan perdebatan yang tidak ada habisnya sejak kemarin.

"Tapi pi.. Djindra itu sengaja ingin menjauhkan mami dari menantu mami sendiri. Dia ingin memonopoli istrinya sendiri, mami ini kan orang tuanya. Apa tidak boleh mami dekat dengan para menantu yang sudah di anggap anak sendiri. Aca saja tidak keberatan untuk tinggal disini, ya kan sayang."

Aca hanya bisa tersenyum tanpa bisa menjawabnya. Di satu sisi ada suaminya di sisi lain ada mertua yang sudah seperti orang tua sendiri.

Sebenarnya Aca sangat bersyukur bisa mendapatkan ibu mertua seperti mami Tiwi yang memperlakukan dirinya seperti anak sendiri. Sangat jarang bukan bisa mendapatkan mertua seperti ini, terlebih lagi sudah banyak cerita tentang mertua dan menantu yang tak pernah akur di luaran sana.

Tapi posisi Aca benar-benar terjepit diantara keduanya. Sebuah pilihan yang sulit, bagaimanapun dia sebagai seorang istri hanya bisa menurut dengan keinginan suaminya.

Dari awal Aca tidak pernah mempermasalahkan untuk tinggal dimana saja. Dan mengenai keinginan Djindra untuk hidup mandiri bukan datang secara mendadak, karena sebelumnya suaminya pernah mengutarakan keinginannya itu sebelum menikah.

Dan situasinya kini sedikit sulit dengan adanya penolakan dari ibu mertuanya. Aca sangat takut kalau nanti bisa menyakiti perasaan wanita paruh baya itu.

"Sudah cukup, diskusi dengan mami pasti akan selalu berujung dengan perdebatan. Semuanya permisi, aku berangkat ke kantor dulu."

"Lihatlah dia sudah semakin berani membantah mami. Pengantin baru bukannya pergi bulan madu, ini istrinya malah di tinggal ke kantor. "

"Tapi mi.. bukan Djin tidak ingin bulan madu. Bukankah Aca akan ada pameran besok, bagaimana mau berbulan madu kalau masih banyak kesibukan."

"Diamlah, kamu ini sama saja Djoen selalu saja membela adikmu. Gak kamu gak papi, kalian berdua tidak ada yang mau belain mami. Dan iya kamu Djoen jangan coba-coba bertidak seperti Djindra, atau punya keinginan untuk memisahkan mami dengan Mytha juga Djustin. Awas saja kalau berani."

Semua orang yang ada di meja makan itu hanya mampu menggelengkan kepala mereka. Nyonya rumah itu kalau mempunyai keinginan memang sangat sulit untuk diberikan pengertian.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang