🪐 C&B 101

250 25 5
                                        



Di kamar utama yang terdapat pada sebuah mansion mewah, suasananya masih begitu panas. Aroma sisa-sisa percintaan dari sang pemilik kamar masih begitu kuat. Pakaian yang berserakan di lantai pun menjadi pemandangan yang biasa.

Pemilik kamar itu tidak lain adalah sepasang suami istri, tuan dan nyonya Wiratama. Djindra dan Aca menghabiskan malam ini dengan begitu bergelora. 

Djindra yang tengah bersandar di ranjang, sedikit melepaskan rasa lelahnhya. Namun begitu lengan kanannya tidak pernah lepas memeluk tubuh polos yang ada di sampingnya. 

"Mas... apa harus pergi ke Bali? Dan kenapa begitu lama perginya? Satu bulan, sekalian saja gak usah pulang." Aca mengeluh tapi dengan tingkah manjanya. 

"Sayang.. Di Bali itu mas bukannya mau senang-senang, tapi kerja disana. Selain inspeksi pembangunan resort yang bekerja sama dengan AA Forward. Mas juga ada tender pembangunan mal dengan tuan Made. Tidak mungkin mas mengutus Yuda yang harus siaga terhadap Nayla, karena dia sebentar lagi melahirkan bukan?" 

Tidak puas dengan jawaban suaminya, Aca semakin mendekap erat tubuh kekar itu. 

"Tapi aku jadi sendirian.. mas tega ninggalin aku?"

Djindra diam-diam tersenyum melihat tingkah istrinya. Sebenarnya dia tahu Aca bersikap manja juga mengeluh ini hanyalah sebuah alasan. Dan yang sebenarnya istrinya ini sedang cemburu kepadanya, karena Djindra pergi ke Bali bersama dengan Irene. 

"Sayang.. jangan bilang kalau mas tidak mengajakmu untuk ikut pergi kesana. Tapi apa jawabanmu? Kamu menolak tawaran mas mentah-mentah dengan alasan baru saja menandatangani kerjasama, dan kamu tidak bisa pergi begitu saja. Lantas kenapa sekarang mengeluh? Jujur saja sama suami kamu ini, kamu sedang cemburu bukan? karena mas harus pergi dengannya."

Bukannya menjawab Aca justru menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Dengan langkah pelan, Aca berjalan menuju ke arah pintu balkon. Wanita itu sepertinya menghindari untuk menjawab pertanyaan suaminya. 

Apa yang di katakan Djindra memang tidak salah. Bisa di katakan ada cemburu tapi lebih ke rasa khawatir saat mendengar wanita itu juga ikut pergi bersama dengan suaminya. Padahal Aca bukan termasuk istri manja yang akan merengek ketika suaminya sedang bekerja di luar kota maupun luar negeri. 

Tapi kali ini berbeda. Karena Aca tahu dengan pasti wanita seperti apa Irene itu. Sekalipun berstatus sebagai tunangan seseorang, tapi Irene tidak akan melepaskan kesempatan yang ada di depan matanya. Aca takut ada rencana buruk yang menyertai kepergian dinas suaminya kali ini. 

Bahkan masalah yang menimpa pada proyek resort itu, Aca yakin itu adalah ulah Irene yang di sengaja. Tapi Aca tidak bisa memberitahu suaminya, karena tidak ada bukti di tangannya. 

Sebagai suami yang melihat istrinya tiba-tiba diam, jelas merasa janggal. Djindra segera memakai kimono piyamanya kemudian berjalan mendekat ke arah istrinya. Seperti sudah menjadi sebuah kebiasaan atau sudah menjadi hal favoritnya, Djindra memeluk istrinya dari belakang. 

"Katakan sayangku.. sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan. Apa yang kamu takuti, humh?"

Aca menggelengkan kepalanya, seolah memang tidak ada yang dia pikirkan. 

"Aku hanya.. sedang tidak ingin jauh dari mas saja." 

Sebuah kecupan Djindra berikan di pipi kanan istrinya. Djindra tahu betul pasti ada yang menganggu pikiran Aca. Hanya saja wanita yang ada dalam pelukannya ini masih enggan untuk mengatakannya. 

"I love you.. kamu percaya itu kan? Kamu milik mas, begitu juga mas hanya milik kamu. Itu sudah jelas dan pasti, tidak ada yang lain. Mas hanya cinta dan tertarik pada istri mas. Kamu, hanya kamu. Bahkan jika dia telanjang di depan mata sekalipun mas tidak akan tertarik." 

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang