"Yah... Aca datang lagi. Gimana kabar ayah disana, ayah sudah bahagia bukan di atas sana." makam yang Aca kunjungi adalah makam ayahnya Setyo Wijaya.
"Ayah masih ingat tidak, kemarin Aca ulang tahun. Tahun ini sama seperti tahun - tahun sebelumnya, masih tetap sepi karena tidak ada ayah di samping Aca. Kalau saja kejadian itu tidak pernah terjadi, pasti saat ini ayah masih berada di samping Aca. Yah... ayah tau tidak, apa yang membuat Aca bertambah sedih di momen ulang tahun Aca kali ini. Lagi - lagi Aca mau di jodohkan yah, dan yang membuat Aca sakit hati adalah sikap bang Satria. Entah mengapa Aca merasa bang Satria sudah berubah yah, abang selalu berbuat semaunya kepada Aca. Bahkan abang membentak dan mengusir Aca dari rumah, hanya karena Aca menolak perjodohan itu. Apa Aca bukan adik bang Satria lagi, kenapa abang tega melakukan itu sama Aca yah.." Aca berbicara di atas pusara sang ayah sambil terus menangis, seolah sang ayah ada disana.
"Kenapa hidup Aca jadi begini yah.. Sejak ayah pergi ninggalin Aca, Aca tidak lagi bisa menentukan pilihan atau jalan hidup Aca sendiri. Dari mulai sekolah, sampai masalah memilih suami pun Aca harus mengikuti keinginan mereka. Kenapa Aca tidak bisa hidup bebas seperti yang lainnya, seperti saat sebelum ayah meninggal. Aca bebas menentukan apapun yang Aca inginkan dan Aca sukai. Dulu ayah akan selalu bertanya kepada Aca, apa yang Aca inginkan dan Aca sukai selalu meminta pendapat Aca terlebih dahulu. Tapi bunda dan abang tidak pernah melakukan itu yah, jangankan untuk bertanya semuanya sudah di tentukan dan Aca harus menurutinya, mereka selalu berdalih itu semua demi kebaikan Aca. Aca merasa sendirian yah... Aca ingin ikut ayah saja." Aca semakin menjadi dalam tangisnya.
Tidak jauh dari tempat Aca yang sedang menangis di atas pusara, berdirilah tiga sosok laki-laki yang memang sengaja diam dan mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan oleh Aca sejak tadi. Di antara ketiganya ada sorot mata yang memandang Aca dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Sosok itu tidak lain adalah Djindra, Djindra yang mendengar semua ucapan Aca itu sedikit merasa iba dan terasa sakit dalam dirinya. Ia sama sekali tidak menyangka gadis yang selalu berdebat dengannya ternyata pernah merasa kehilangan sosok yang berarti dalam hidupnya.
Terlebih lagi salah satu alasan tangisan Aca juga disebabkan oleh dirinya. Betapa sosok gadis di hadapannya ini begitu terlihat rapuh dan tidak berdaya akan keadaan yang terjadi di sekelilingnya. Djindra pun melangkah mendekat ke arah Aca saat ini berada. Aca yang memang ingin pergi dari sana, ia tersentak kaget ketika ia berbalik melihat ada seseorang di hadapannya. Dan sosok orang tersebut tidak pernah ada dalam bayangan Aca akan ada di sini bersamanya.
"sedang apa anda disini tuan Djindra." dengan mata yang sembab Aca mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Saya datang kesini ingin menjemputmu."
"Menjemput apa maksudnya dengan menjemput." gumam Aca.
Belum juga pertanyaan yang muncul dalam benak Aca tentang 'menjemput' terjawab. Kini di belakang Djindra sudah muncul dua orang laki - laki lainnya yang tidak begitu di kenal oleh Aca. Tapi sepertinya Aca pernah melihat satu laki - laki diantara mereka berdua, tapi dimana.
"Serahkan kuncimu kepada mereka, mobilmu akan di bawanya, dan kau ikutlah denganku." perintah Djindra.
"Maaf tuan Djindra, saya rasa kita berdua tidak ada urusan apapun. Kalau anda ingin berbicara tentang kerjasama kita, akan saya hubungi anda nanti. Yang jelas tidak sekarang, saya permisi tuan." Aca pun segera melangkah pergi menjauh dari sana.
"Apa kau tidak bisa untuk mendengar dan menurut saja. Tidak bisakah kau berhenti bicara atau bertindak atas dasar asumsimu sendiri. Lebih baik kau dengarkan aku dan segera berikan kunci mobilmu itu, maka akan aku jelaskan nanti semuanya kepadamu." Tegas Djindra.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
