Setelah memutuskan kembali bersama, rupanya Djindra tidak membawa Aca untuk kembali pulang ke aparteman melainkan ke rumah orang tuanya. Hal ini atas permintaan tuan dan nyonya Dharma sendiri, karena kebetulan mereka berdua akan berangkat ke Amerika untuk keperluan bisnis. Jadi sebelum mereka meninggalkan negara ini, mereka ingin menghabiskan waktu bersama anak dan menantunya.
Selama berada di kediaman mertuanya Aca benar-benar tidak bisa berkutik, terlebih saat weekend seperti ini. Walau sang mertua tidak berkata apapun dan melarang apapun tapi tetap saja Aca tidak berani, bahkan hanya untuk sekedar pergi ke galeri saja dia tidak berani meminta ijin.
"Aca sayang.. kamu tidak pergi ke galeri lagi hari ini?" Setelah selesai sarapan pagi nyonya Tiwi mengajak kedua menantunya untuk menikmati teh sambil berkerbun di halaman belakang rumah.
"Tidak mih.. Aca kan kalau hari minggu tidak pernah pergi ke galeri. Oh ya mih.. ternyata bunga-bunga mami disini kalau Aca perhatikan sangat cantik-cantik ya, bahkan ada bunga yang jarang Aca lihat juga tumbuh cantik disini."
"Kamu mau Ca? Ambil saja kalau memang mau." Mytha yang duduk di sebelah nyonya Tiwi ikut angkat bicara.
"Gak mungkin lah mbak, mau di taruh mana? Aca kan gak punya taman, masa iya mau di bawa ke aparteman."
"Tapi mami sedih.. karena mulai sore nanti, mami tidak akan bisa merawat dan melihatnya lagi."
"Kan ada Mytha mih yang merawatnya, Aca juga pasti akan membantu merawatnya. Ya kan Ca?"
"Benar sekali.. dengan senang hati Aca akan merawat bunga-bunga ini dengan baik. Tidak peduli mereka akan di terjang pergantian cuaca seperti apapun nantinya, akan Aca pastikan mereka tetap tumbuh dengan baik. Asal mami disana selalu dalam keadaan sehat dan senang, maka mereka juga sama." Ucapan Aca berhasil membuat ibu mertuanya tersenyum senang.
"Boleh mami bicara sayang? Sejujurnya mami tidak terlalu peduli dengan bunga-bunga itu, kalaupun mereka layu mami bisa menggantinya dengan yang baru. Tapi ada dua bunga yang mami miliki dan sangat mami pedulikan, karena kalau mereka sampai layu mami tidak akan bisa menggantinya dengan apapun bahkan nyawa sekalipun. Dan kedua bunga itu adalah kalian berdua, kedua menantu mami."
"Besar harapan mami, kalian dua bunga cantik mami bisa hidup rukun dan bahagia dengan anak-anak mami. Apapun masalah dan cobaan yang menerpa kalian kedepannya, mami harap kalian tetap mekar dan memancarkan kecantikan dimanapun berada. Dan kalau seandainya kedua putra mami membuat kalian layu, jangan pernah segan untuk mengatakannya kepada mami. Atau kalau perlu kalian bahkan bisa menusuk mami dengan duri kalian sebagai gantinya, ya sayang.." Ucap nyonya Tiwi dengan penuh rasa haru.
Suasana taman belakang pun mendadak berubah menjadi haru biru karena ucapan nyonya rumah. Bahkan Mytha dan Aca tidak mampu menahan air matanya merasakan ketulusan dari sang ibu mertua. Mereka pun tak segan untuk menghambur memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda itu.
Djindra berjalan keluar dari ruang kerja milik papinya. Setelah sarapan pagi tadi tuan Dharma mengajak kedua putranya untuk berbicara di ruang kerja guna membahas perusahaan keluarga. Banyak hal yang di bicarakan, apalagi terkait kepergian kedua orang tuanya ke Amerika, hingga tak terasa waktu sudah mendekati siang hari.
Setelah selesai Djindra bermaksud mencari keberadaan istrinya yang terakhir kali ia lihat bersama dengan maminya. Namun hampir seluruh bagian rumah telah ia datangi, tapi Djindra tidak kunjung menemukan keberadaan wanitanya.
"Eoh.. Bik Siti, apa bibi melihat keberadaan istriku?"
"Tadi setelah berkebun dengan nyonya besar, nona muda sepertinya kembali ke kamarnya. Sejak saat itu bibi tidak melihat keberadaan nona muda lagi den." Djindra pun mengangguk paham.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomantikTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
