Seorang pria paruh baya tengah duduk di ruang kerjanya sambil menikmati sebatang rokok di mulutnya. Sambil tersenyum puas, pria itu terus melambungkan asap rokok ke langit-langit ruangan.
Pria itu adalah Edwin, yang tidak lain om dari Irrish. Edwin merasa bahagia karena rencananya untuk membuat kacau pekerjaan Djindra telah berhasil, bahkan bisa dikatakan mendapatkan bonus tambahan.
"Kenapa om tertawa? Apa telah terjadi sesuatu?" Irrish yang baru saja memasuki ruang kerja milik omnya yang berada di rumah peninggalan sang papa.
Rumah yang dulu di tempati Irrish bersama dengan papanya kini di tempati oleh Edwin. Mengingat sejak tuan Edward meninggal dan Irrish juga telah menikah rumah itu tidak pernah ada yang menempatinya.
Hari ini Irrish sengaja berkunjung ke rumah itu untuk menemui omnya. Ia ingin menanyakan tentang rencana mereka yang ingin menghancurkan kehidupan musuh. Dan kebetulan musuh mereka berdua sama, tapi Irrish merasa kalau omnya ini sama sekali tidak ada pergerakan.
"Ah.. kebetulan kau datang Irrish. Mau minum bersama? Ada kabar baik yang harus kita rayakan bersama malam ini." Edwin berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan sang keponakan.
Sementara Irrish di buat bingung dengan tingkah omnya yang ia nilai sedikit aneh malam ini. Memangnya apa yang harus dirayakan, Apa omnya ini baru saja mendapatkan jackpot?
"Apa om baru saja memenangkan undian?" Pertanyaan Irrish disambut gelak tawa oleh Edwin.
"Ini lebih dari sekedar undian bahkan jackpot sekalipun." kerutan di kening Irrish semakin dalam kala mendengar itu.
"Kau ingin tahu apa yang akan kita rayakan sekarang? Rencana om untuk menghancurkan kehidupan Djindra perlahan tapi pasti sudah dimulai hari ini. Om berhasil mengusik semua lini bisnisnya. Dan kalaupun dia berhasil lolos dari itu semua pasti akan membutuhkan waktu, karena om mendatangkan masalah secara bersamaan kepadanya." Mendengar hal itu Irrish mulai tersenyum bahagia.
"Jangan bahagia dulu sayang, karena masih ada yang lebih membuatmu bahagia jika kau mendenganya."
"Apa?"
"Apa kau bisa menebak bonusnya apa?" Irrish pun menjawab dengan gelengan kepala, ia benar-benar tidak terlintas apapun.
"Bonusnya adalah.. saat bisnisnya om buat kacau, disaat yang sama istri cantiknya mengalami sebuah kecelakaan. Atau lebih tepatnya percobaan pembunuhan." Seringai Edwin muncul seketika, saat mendapati kedua mata keponakannya melebar ketika mendengar ucapannya.
"Are you happy girl?"
"Apa om juga yang melakukan hal itu?" Edwin dengan sadar menggelengkan kepalanya.
"Bukan. Tadinya om juga akan melakukan hal itu tapi tidak sekarang. Om masih menunggu perkembangan dari rencana yang sudah om buat. Tapi nyatanya ada malaikat yang berbaik hati meringankan beban om."
'Itu artinya yang melakukan itu kemungkinan musuh dari Djindra yang lainnya. Tapi siapa? Tapi tidak peduli siapapun itu, aku sangat berterima kasih karena sudah membantu menyingkirkan wanita itu.'
"Tapi Irrish jangan terlalu senang berlebihan karenanya. Sebab kita belum tahu kondisi wanita itu seperti apa, entah selamat atau tidak. Anak buah om hanya melaporkan kalau dia di celakai oleh dua mobil."
"Aku tidak peduli. Yang terpenting saat ini wanita itu celaka. Masalah kedepannya akan seperti apa, kita pikirkan nanti. Untuk saat ini aku sudah cukup puas. So.. jadi malam ini kita akan merayakannya dimana om?"
Lagi-lagi sebuah seringai terbit di wajah Edwin. Tidak dapat dipungkiri Edwin merasa senang, melihat keponakannya ini memiliki sifat yang tidak jauh beda dengan mendiang kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
