🪐 C&B 32

442 26 2
                                        


{Maaf tuan, ini sudah malam saya harus segera beristirahat. Bukankah urusan kita berdua sudah selesai tadi. Jadi tolong jangan menghubungi saya kalau tidak ada permasalahan yang penting atau ada kaitannya dengan kerjasama kita. Terima kasih. Selamat malam.}

Djindra membaca kembali pesan yang dikirimkan oleh Aca. Mereka semalam memang sempat saling bertukar pesan, berawal dari Djindra yang khawatir karena Aca tidak ingin diantarkan pulang olehnya. Namun tidak disangka rasa empati Djindra terhadap Aca dibalas dengan sebuah penghinaan menurut Djindra.

{Gantikan aku rapat bersama James pagi ini.}

Saat ini Djindra tengah berada di kamar pribadinya, ia tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Seharusnya pagi ini ia ada meeting dengan seorang klien, namun rasanya moodnya sedang tidak bagus untuk melakukan negosiasi bisnis. Entah apa yang membuatnya tidak semangat dalam bekerja, apa dia membaca ulang pesan dari Aca semalam atau ada hal lain. Yang jelas dia sudah mengutus seseorang untuk menggantikannya nanti.

"kau sudah akan berangkat Djin.." tanya mami Tiwi ketika melihat putra bungsunya menuruni tangga menuju ke meja makan.

"Hmmm... Apa mas Djoena sama mbak Mytha gak pulang hari ini mi." ucap Djindra yang bersiap duduk dan mengambil makanan untuk ia sarapan.

"Mungkin sekalian nanti sore, kenapa apa kau ada perlu dengan kakakmu itu."

"Gak ada, Djindra cuma kangen sama Djustin. Rumah kerasa sepi aja kalau gak ada dia mi." Jawab Djindra sambil menikmati sarapannya.

"Kalau kerasa sepi, makanya kamu nikah dong sayang. Biar ada junior kamu, jadi rumah ini makin rame nantinya. Betul gak pi." sahut mami Tiwi.

Papi Dharma tidak ingin ikut campur persoalan istrinya dengan sang putra, mau di paksa seperti apapun Djindra pasti akan tetap dengan pendiriannya. Ia pun memilih tidak menjawab pertanyaan dari sang istri.

"Mi.. udahlah, come on.. sampai kapan sih mami terus saja berusaha menjodohkan aku. apa mami gak capek di tolak Djindra terus." kesal Djindra.

"kali ini beda Djin.. Mami yakin kamu pasti suka sama gadis ini. ya kamu mau kan ketemu sama dia." rayu mami Tiwi.

Djindra yang jengah pun langsung berdiri dan berpamitan untuk berangkat kerja. Bahkan ia tak sempat menghabiskan sarapannya, karena terlanjur kesal dengan permintaan maminya. Melihat putranya yang langsung pergi begitu saja bahkan tanpa menghabisakan makanannya, membuat papi Dharma sedikit menegor istrinya.

"Mi.. jangan paksa Djindra, kamu harus melakukan semuanya dengan pelan - pelan mi. Coba kamu lihat dia sampai kehilangan selera makannya."

***

"kak Joe.. kenapa kau bisa datang kemari." tanya James yang sedikit terkejut melihat kedatangan Joenathan ke kantor.

"ck.. apa kau tidak tau, bos mu itu meminta padaku untuk menemanimu pergi rapat."

"apa.. tapi kak J tidak memberitahu apapun kepadaku. lalu kalau kau diminta untuk menggantikannya, terus sekarang kak J ada dimana."

"Ya mana aku tau James, memangnya aku baby sisternya bisa selalu tau dia pergi kemana dan ada dimana. Sudahlah jangan pedulikan dia, mana materi rapatnya aku ingin mempelajarinya terlebih dahulu." kesal Joenathan.

James pun menyerahkan materi rapat yang akan ia datangi bersama Joenathan. Sebenarnya James masih bingung sekaligus heran, kemana perginya seorang Djindra itu. Kenapa akhir - akhir ini bosnya itu selalu saja tiba - tiba pergi semaunya sendiri dan tidak memberitahukan akan pergi kemana. Kejadian ini terjadi sudah dua kali semenjak Djindra pulang dari luar negeri, bahkan James merasa kalau Djindra cenderung lebih tertutup kepada dirinya dan para sahabatnya.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang