🪐 C&B 102

208 18 6
                                        



Daniel sedang duduk di sebuah restoran. Di mejanya sudah ada dua gelas minuman yang berbeda, satu gelas berisi americano miliknya sedangkan yang lain berisi capucino yang dia siapkan untuk seseorang. 

Pria itu sudah duduk di meja itu selama 10 menit, namun dia tidak kunjung beranjak pergi. Daniel memang sedang menunggu seseorang yang tengah membuat janji temu dengannya. Karena kebetulan Daniel baru saja bertemu dengan seorang rekan bisnis disini, jadi sekalian saja. 

Selang lima menit kemudian senyum di wajah Daniel mengembang, karena orang yang dia tunggu akhirnya datang. Seorang wanita yang selalu terlihat anggun di setiap penampilannya. Meski pakaian yang di gunakan mungkin dari merek ternama, tapi tidak terlihat berlebihan bahkan terlihat sederhana. Dan Daniel selalu mengagumi itu. 

"Maaf aku terlambat kak." 

"It's ok Ca.. aku juga belum lama duduk disini." 

Daniel menyambut Aca dengan penuh kehangatan. Bahkan pria itu sengaja berdiri untuknya. Entah kenapa hari ini Daniel begitu merasa senang saat Aca menghubungi dirinya dan meminta untuk bertemu. Kalau dugaannya tepat seharunya dia akan menerima kabar baik dari wanita itu. 

Seharusnya memang begitu. Setelah bukti-bukti yang di minta oleh Aca mengenai kejahatan Djindra sudah di tangan. Harapan Daniel wanita itu akan meninggalkan suaminya, atau setidaknya Aca akan melapor. 

Kenapa Daniel bisa berpikir seperti itu? Karena setidaknya dia tahu kalau Aca adalah wanita yang paling benci dengan ketidakadilan. Apalagi jika itu terjadi persis di sekitarnya. Aca sudah dipastikan bersuara paling keras. 

"Ngomong-ngomong maaf ya Ca.. kita harus bertemu di restoran hotel seperti ini. Kebetulan aku baru saja selesai bertemu dengan seorang mitra kerja saat kamu menelpon tadi. Karena kamu mengatakan penting, jadi aku ajak kamu ketemu disini. Tapi kalau kamu keberatan, kita bisa-"

"Tidak perlu kak. Disini saja, aku rasa tidak masalah." 

Untuk sesaat suasana di sekitar Daniel dan Aca kembali menjadi hening. Belum ada satu pun dari keduanya yang mencoba untuk memulai bicara kembali. Aca yang mengajak bertemu pun terlihat ragu untuk memulai pembicaraan. Kedua tangannya saling bertaut dan sedikit meremas satu sama lainnya. 

"Ca.."

"Kak.. Aku meminta kita bertemu, karena ada yang ingin aku bicarakan." Daniel pun menganggukkan kepalanya. 

"Apa kamu sudah memutuskan sesuatu? Bukankah kamu sudah menerima bukti-bukti itu?" kali ini anggukan kepala datang dari pihak Aca. 

"Kak Daniel, yang ingin aku bicarakan memang terkait hal itu." Aca mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. 

"Hanya itu yang bisa aku berikan. Setelah ini, aku mohon kak Daniel tidak lagi membahas atau bahkan menuntut apapun yang pernah terlibat dengan suamiku. Tidak di saat ini atau pun nanti di masa yang akan datang." 

Daniel mendengarkan setiap perkataan Aca dengan seksama. Tapi sorot matanya terus menatap ke arah selembar cek yang terletak di atas meja. Cek itu bertuliskan jumlah uang sebanyak 200 milyar rupiah. Jumlah yang cukup banyak bagi orang yang belum pernah melihatnya. 

Untuk sesaat Daniel terdiam. Dia mencoba memahami niat Aca di balik selembar cek itu. Mungkinkah saat ini wanita itu sedang berusaha membungkam dirinya dengan sejumlah uang? 

Hal yang sama juga dilakukan Aca. Dia memandang cek yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya. 

Sebelumnya atau tepatnya minggu lalu, Aca menerima sebuah berkas. Berkas itu bentuknya cukup tebal dan berisi bukti-bukti kejahatan yang terkait dengan suaminya. Terutama terkait dengan apa yang terjadi pada keluarga Wang dan jelas Aca tahu siapa pengirimnya. 

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang