🪐 C&B 86

340 27 7
                                        





C&B 85 Ada di Karyakarsa.

Setelah meninggalkan ruang bawah tanah, saat ini Djindra sedang berada di ruang santai yang ada di lantai dua. Ia terlihat seperti orang yang sangat kelelahan, Djindra menyandarkan kepalanya di bahu sofa sambil memijat pangkal hidungnya.

Djoena yang menyusul kepergian adiknya, melihat semua itu dengan sedikit rasa iba. Entah memang rasa lelah yang membuat Djindra seperti itu atau justru karena suasana hatinya saat ini penyebab utamanya. Tapi sebagai sorang kakak, ia jarang mendapati wajah adiknya seperti ini.

"Kau sedang banyak masalah Djin? Bicaralah, siapa tahu mas bisa membantumu." sambil menepuk bahu kekar Djindra, Djoena mengambil tempat duduk tepat di samping adiknya.

"Tidak ada.. aku sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri." Dengan mata terpejam Djindra menjawab pertanyaan dari sang kakak.

"Aku hanya minta satu hal padamu.." sebelum melanjutkan bicaranya, Djindra mengamati wajah sang kakak dengan seksama. "Tolong tingkatkan kewaspadaan mu terhadap keluarga, juga pada mami dan papi. Untuk beberapa waktu kedepan aku akan sangat sibuk nanti."

"Lalu Aca?"

Djindra mengernyitkan keningnya dengan heran saat mendengar pertanyaan kakaknya. Aca? Memangnya ada apa dengan Aca? Sudah tentu Aca akan menjadi tanggung jawabnya, karena wanita itu istrinya.

"Maksudnya? Aca tetap tanggung jawabku, dia istriku mas."

"Kau masih ingat kalau dia istrimu? Lalu kenapa kau meninggalkan dia sendirian kemarin? Tidakkah kau tau itu membuatnya merasa sendiri dan terbuang?" Djoena mencecar adiknya dengan banyak pertanyaan, karena ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Huft.. aku terpaksa karena ada yang harus aku kerjakan."

"Apa yang kau kerjakan? Sampai harus meninggalkan istrimu yang sedang di rawat di rumah sakit selama dua malam?"

"Sudahlah.. mas Djoena tidak perlu ikut campur, karena ini urusanku."

Djoena memperlihatkan senyuman meremehkan kepada adiknya. Ia sedikit tidak menyangka kalau Djindra bisa bicara seperti itu.

"Tidak ada sedikitpun niat mas untuk ikut campur Djin. Kita sama-sama sudah berkeluarga, mas anggap kau sudah dewasa dan mas juga tahu batasan sebagai seorang kakak adik." Kali ini nada bicara Djoena terdengar sangat serius.

"Mas tahu saat ini adalah masa tersulit bagimu, terlebih lagi harus dipaksa menerima kenyataan yang ada. Tapi Djin.. apa kau lupa, kalau disini Aca juga terluka dan hancur hatinya? Sebagai seorang wanita dialah yang paling hancur hatinya. Jiwa keibuan dalam dirinya pasti sedang menyalahkannya. Karena dia tidak bisa menyadari keberadaan dari darah dagingnya sendiri, hingga dia harus kehilangan."

"Dalam hati dan pikirannya juga sedang menyalahkannya dan menganggap dirinya memang tidak pantas menjadi seorang ibu. Apalagi kau sebagai suami tidak ada di sampingnya, yang seharusnya bisa untuknya bersandar. Dia akan beranggapan kalau kau telah membuangnya."

"Tidak ada terbesit dalam pikiranku untuk meninggalkannya apalagi membuangnya. Sama sekali tidak ada!! Aku hanya butuh waktu."

Suara Djindra mulai sedikit meninggi, karena emosinya mulai terpancing. Dan di saat yang sama para sahabatnya mulai berdatangan dari ruang bawah tanah.

"Sampai kapan? Apa sampai kau kehilangan dirinya, baru kau akan sadar?" Djoena langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang adik.

"Dengar Djin.. yang kalian butuhkan itu harus selalu bersama bukan terpisah seperti ini. Kalian harus bersama agar bisa saling menyembuhkan satu sama lainnya. Mas bicara seperti ini bukan bermaksud untuk menggurui, tapi inilah yang di tangkap oleh istriku ketika berbicara dengan Aca." Selesai berbicara Djoena langsung berdiri dan pergi dari sana.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang