Maaf ya Author sedikit terlambat untuk update.
Semoga masih banyak yang menunggu cerita ini.
Happy reading...
'tok..tok..tok..'
Ceklek.
Pintu itu terbuka, ternyata Djoena lah yang membuka pintu ruang kerja milik papinya dari dalam.
"Masuklah Djin."
Djindra pun memasuki ruang kerja dari pemilik mansion mewah ini. Disana tidak hanya ada papi Dharma melainkan ada kakaknya juga, Djoena.
Suasana di ruangan itu terasa sangat tegang. Padahal tiga orang pria yang ada di dalamnya belum sama sekali memulai pembicaraan.
"Papi memanggilku, ada apa."
Tuan Dharma tidak segera menjawab, melainkan ia terus menatap tajam ke arah putra bungsunya.
Djindra yang tengah di tatap itu sedikit merasa heran. Karena dari sorot mata papinya ia bisa melihat gejolak amarah yang siap meledak keluar.
Sedangkan Djoena ia juga hanya diam, duduk tepat di samping sang adik. Meski ia tahu kenapa papinya hanya diam saat di tanya, namun ia memilih untuk tidak mendahului segala sesuatunya.
"Apa kau kemari bersama dengan Aca.."
Tuan Dharma berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Djindra.
Djindra pun mengangguk saat keberadaan calon istrinya di tanyakan.
Plaakkk.
"Pih.."
Tiba-tiba saja tuan Dharma menampar putra bungsunya dengan sangat keras. Sontak saja hal itu membuat Djoena maupun Djindra terkejut.
Sementara Djindra ia hanya bisa terdiam tanpa melawan. Karena yang melakukannya adalah orang yang sangat ia hormati dan sayangi.
"Katakan.. apa maksud mu dengan menjadi seorang mafia. Apa tujuan yang ingin kau capai dengan memilih jalan itu. KATAKAN DJINDRA ADI WIRATAMA."
Djindra terkejut bukan kepalang, mendapati papinya sudah mengetahui profesinya yang lain. Tapi darimana papinya itu bisa tahu, tidak mungkin kan dari Djoena, kakaknya.
Djindra menatap penuh curiga ke arah kakaknya. Namun semua kecurigaan itu di patahkan langsung oleh ucapan sang papi.
"Kalian pikir, papi sudah terlalu tua untuk mengetahui semua yang di lakukan anak-anak papi. Tidak, papi belum cukup tua untuk itu, bahkan semua yang kalian sembunyikan dengan mudahnya papi bisa mengetahuinya."
"Papi menitipkan mu ke opa bukan untuk menirunya menjadi seorang mafia Djin. Bahkan papi yakin opamu juga tidak pernah dengan sengaja mengajarimu menjadi seperti dia. Papi dan mami akui sebagai orang tua waktu itu sangat salah karena kami terlalu sibuk bekerja. Sehingga kalian berdua harus terpisah jarak dan mendapatkan kasih sayang yang berbeda. Tapi kami tidak pernah sekalipun menginginkan kalian berdua mencontoh sisi buruk kami."
"Apa kau lupa bagaimana Oma mu dulu meninggal Djin. Beliau meninggal sia-sia hanya karena salah paham yang di ciptakan oleh musuh. Jelas kau sangat tau bukan resiko menjadi mafia itu seperti apa. Tapi satu hal yang tidak pernah kalian tahu bagaimana cara Oma bisa meninggal bukan, kalian hanya tahu beliau meninggal karena di bunuh oleh musuh yang menculiknya. Itu kan yang selalu di ceritakan opa kalian."
"Kalian salah besar. Yang membunuh Oma adalah opa sendiri, dengan tangan opa kalian sendiri. Dan itu menjadi penyesalan seumur hidup opa kalian hingga akhir hayatnya. Dan apa kau juga ingin berakhir seperti itu dengan Aca. Hah."
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
