Aca mengejapkan matanya berulang kali saat sinar matahari mulai mengusik pandangannya. Ia sangat ingin segera membangunkan diri, karena kalau di lihat dari sinarnya saat ini sudah dipastikan lebih siang dari waktu biasanya bangun.
Namun sekujur tubuhnya terasa amat sakit sekaligus remuk, dan sulit untuk dapat di gerakkan. Bahkan hanya untuk sekedar duduk bersandar di ranjang saja, rasanya ingin menyerah. Perbuatan siapa lagi kalau bukan Djindra yang telah menggempurnya semalaman.
"Sudah bangun?" Terdengar suara seorang pria dari arah balkon. Aca tak perlu bersusah payah untuk menebaknya, sudah pasti itu suara suaminya sendiri.
Dengan kondisi sama persis seperti terakhir kali Aca lihat semalam. Dengan bertelanjang dada Djindra berjalan mendekati Aca. Djindra berhenti tepat di samping Aca berbaring. Pria itu kemudian membantu Aca untuk duduk bersandar pada headboard dengan meletakkan sebuah bantal disana agar terasa nyaman.
"Ingin mandi? Sudah ku siapkan air hangat, bagaimana?" Tanya Djindra dengan nada bicara yang terdengar sangat santai, seolah semalam tidak terjadi pertengkaran diantara mereka.
Aca yang mendengar suaminya itu bertanya dengan santai, memunculkan banyak pertanyaan di otaknya.
'kenapa mas Djindra bisa bersikap santai. Bukankah kami semalam bertengkar hebat? Bahkan aku sempat menamparnya kan? Tapi kenapa pagi ini suasananya seolah tidak terjadi apapun.'
Takk.
"Sepertinya istriku sekarang mempunyai hobi baru, yaitu melamun?" Sindir Djindra sambil memberi sentilan kecil di kening sang istri.
Aca yang mendapatkan sentilan itu hanya mampu menekuk mukanya sambil mengelus dahinya sendiri. Walau tidak memperlihatkan amarahnya, tapi suaminya ini justru menampilkan sikap yang menjengkelkan.
"Aku bisa sendiri." Dengan perasaan kesal ia berusaha bangun dan menuju ke kamar mandi.
Namun baru menginjakkan kakinya ke lantai ia sudah merasa kesakitan dan mengeluarkan sedikit rintihan. Rasa sakit itu berasal dari inti tubuhnya, jangan tanyakan karena apa. Dan rasa sakit yang kedua berasal dari kakinya yang saat ini terlihat terbalut oleh perban.
Ah.. Aca lupa, semalam kakinya itu terkena pecahan kaca dari gelas. Rasa sakitnya baru terasa sekarang, karena semalam ia sangat emosi jadinya Aca tidak merasakan apapun.
Djindra yang sedari tadi hanya melihat saja tingkah istrinya, akhirnya membopong secara tiba-tiba tubuh yang berbalut selimut itu ke kamar mandi.
"Kalau masih ingin marah silahkan lanjutkan nanti. Paling tidak perhatikan keadaan dirimu terlebih dahulu sebelum melanjutkannya." Lagi dan lagi Djindra berbicara dengan nada dingin kepada istrinya, sejak semalam ini sudah kali kedua.
Aca pun tidak bisa membantah ucapan itu, karena kenyataannya memang benar. Kondisi tubuhnya saat ini sangat memerlukan bantuan untuk melakukan sesuatu, bahkan untuk ke kamar mandi sekalipun. Keduanya pun akhirnya mandi bersama, ingat hanya mandi tanpa melakukan hal lebih. Karena jika Djindra nekat melakukan itu, bisa di pastikan kemarahan Aca akan berkali-kali lipat nantinya.
Setelah membantu Aca mandi dan berganti pakaian, kini Djindra juga membantu istrinya itu untuk turun kebawah dan sarapan. Masih dengan posisi yang sama yaitu membopongnya ala bridal style, Djindra sama sekali tidak melepaskan istrinya itu.
Bahkan ketika sudah berada di ruang makan. Bukannya menurunkan istrinya untuk duduk di atas kursi, Djindra justru mendudukkan Aca di atas pangkuannya. Aca merasa sangat malu, karena disana tidak hanya ada mereka berdua saja.
Di meja makan itu sudah terdapat tiga sahabat suaminya yaitu Joe Nick dan Jerry. Ada juga Sovia adik sepupunya dan jangan lupa seorang gadis yang Aca kenal bernama Angel. Mereka semua telah bersiap untuk sarapan hanya menunggu kedatangan Djindra dan Aca.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA DAN BENCI || JINSOO
RomanceTerdapat konten dewasa (21+) dan mengandung unsur kekerasan,, harap bijak dalam membaca. Dua orang dengan karakter berbeda,, latar belakang dunia yang berbeda pula. namun mereka di pertemukan dalam sebuah perjodohan. akankah mereka pasrah menjalani...
