🪐 C&B 75

602 32 7
                                        



"Apa kita akan pulang mas.."

Djindra dan Aca saat ini sedang berada di kamar pribadi yang ada pada pesawat jet milik Djindra. Setelah menghabiskan waktu satu minggu lamanya untuk berbulan madu. Kini mereka berdua akan segera meninggalkan Maldive.

Tapi entah akan pulang atau pergi ke tempat lain, Djindra sama sekali tidak memberitahu Aca. Bahkan ketika mereka sudah berada di dalam pesawat. Djindra tetap tidak memberitahukan tujuan mereka.

Karena merasa terus di desak oleh istrinya dengan pertanyaan yang sama. Akhirnya Djindra menyerah, dan memberitahu tujuan mereka. Walau sebenarnya itu bagian dari kejutan tapi tidak masalah.

"Sayang.. kenapa kamu bertanya itu terus sejak tadi. Tidakkah kamu merasa sedang merusak suasana romantis kita. Kita baru saja selesai bercinta di atas awan."

Benar Djindra saat ini sedang merasa kesal kepada istrinya. Mereka baru saja selesai bercinta di atas awan lebih tepatnya dalam pesawat dengan ketinggian 30.000 kaki, bukankah itu bagi wanita sangat romantis.

Tapi Aca sudah mulai merusak suasana. Walau ia ingin menjawab pertanyaan Aca tapi Djindra lebih dulu ingin mengungkapkan rasa kesalnya.

"Mas.. jangan bercanda, aku bertanya serius. Apa kita akan pulang? Kalau memang iya aku ingin menelpon, agar mereka bisa menjemput kita."

"Huft.. tidak perlu, karena kita tidak sedang dalam perjalanan pulang. Kita akan pergi ke Milan."

"Hah.. Milan? Italia? Untuk apa kita kesana."

"Tentu saja untuk bekerja. Kamu tidak lupa bukan kalau mas mempunyai cabang perusahaan yang baru saja di buka beberapa bulan yang lalu. Cabang itu di bawah kepemimpinan Jerry, dan mas baru bisa kesana sekarang untuk melakukan inspeksi."

"Kalau mas kesana untuk bekerja, lalu untuk apa aku juga ikut kesana. Apa yang akan aku lakukan disana."

Djindra sedikit merasa gemas dengan pertanyaan istrinya. Memang apa salahnya ikut pergi bekerja dengannya, Aca kan istrinya tidak akan ada yang melarang untuk itu.

"Kamu.. tentu saja juga bekerja disana.."

Aca mengerjapkan matanya beberapa kali terhadap ucapan suaminya. Ia merasa heran kenapa suaminya ini menjawab seperti itu. Bekerja apa memangnya dirinya bahkan tidak membuka cabang galeri dimanapun.

"Kamu.. akan bekerja dengan mas di atas ranjang setiap malam. Akh.. kenapa di cubit sih."

"Mas itu buat aku kesal tahu gak. Berapa kali aku bilang, hamil itu bukan sebuah perlombaan. Apa tidak cukup selama berada di Maldives kita melakukannya setiap hari."

"Mas tahu kalau kehamilan itu bukan sebuah perlombaan. Tapi kita harus tetap bekerja keras untuk membuatnya segera tumbuh di perut kamu. Mas masih gak terima ya.. mas di langkahi oleh Joe. Seharusnya untuk urutan memiliki anak setelah Leo itu adalah mas dan Yuda. Untuk Yuda mas masih bisa toleransi, karena pada saat itu mas masih belum terpikirkan untuk menikah. Tapi tidak untuk Joe."

Aca hanya mampu menghela nafasnya dan berusaha meningkatkan kesabaran. Kenapa semenjak menikah Djindra berubah semakin mesum saja. Bahkan ketika berada di Maldives setiap malam Aca terus di gempur dan melayani hasrat suaminya.

Dan pemikiran apa itu tadi yang merasa di langkahi dalam hal memiliki anak. Memangnya manusia bisa mengatur semua itu. Kalaupun bisa berencana tetap Tuhan yang menentukan. Sungguh pemikiran kekanak-kanakan.

Kalau ditanya kenapa punya pemikiran seperti itu pasti jawabannya 'aku ingin dia segera hadir di perutmu dan aku tidak ingin kalah dari yang lainnya'. Memangnya hamil seperti main sulap yang mengucapkan mantra langsung ada.

CINTA DAN BENCI || JINSOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang